Beranda
Jumat, 30 Nov 2017 15:06

Ketika Para Ahli Membicarakan Ancaman Kepunahan Karnivora

Konferensi Karnivora Indonesia (KKI) digelar di Banyuwangi. (Detiknews/Putri Akmal)

Dari tahun ke tahun, populasi mamalia karnivora terus berkurang. 17 dari 27 karnivora termasuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Inibaru.id – Banyak mamalia karnivora yang punah atau berada dalam proses pemunahan secara alamiah. Hanya saja, perbincangan seputar mamalia jenis itu lebih terfokus pada jenis yang populer seperti harimau Sumatera, macan tutul, atau macan dahan. Padahal populasi 27 jenis karnivora lain terus mengalami penurunan, bahkan 17 di antaranya termasuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Dilansir dari Detiknews (29/11/2017), isu tersebut menjadi bahasan dalam Konferensi Karnivora Indonesia (KKI) di Banyuwangi, 24–30 November 2017.  Konferensi diselenggarakan Forum Harimau Kita (FHK) bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Ada tujuh jenis karnivora dengan status genting (endangered) dan 10 rentan (vulnerable)," ujar Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno dalam kegiatan yang juga didukung oleh Disney Conservation Fund, Wildlife Conservation Society- Indonesia Program, Kelola Sendang, Taman Safari Indonesia dan Journal of Indonesian Natural History di Hall Ketapang Indah Hotel, Rabu (29/11/2017).

Menurut Wiratno, masyarakat berada dalam garis terdepan untuk menjaga stabilitas populasi dan kelestarian hutan yang tidak hanya berfungsi sebagai habitat satwa liar, tapi juga menjadi bagian dari sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan hidup manusia. Selain itu, peran aktif masyarakat diharapkan dapat menjadi benteng pertahanan terhadap tindakan perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar.

Baca juga:
Kangen Water Tak Selalu Bikin Kangen
Kenyang Jajal Dunia Jurnalistik, Advertising, dan Kuliner

Karena itu, KLHK memadukan upaya intervensi konservasi ini dengan menggunakan teknologi dan metode terbaru. Caranya dengan membangun keterlibatan masyarakat dan meningkatkan peran institusi pendidikan dan penelitian.

Sejumlah narasumber seperti Prof Gono Semiadi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Tonny Soehartono dari PT Restorasi Ekosistem Indonesia, Dwi Adhiasto Nugroho,M.A. ikut hadir berbagi ilmu.

Sebanyak 120 pegiat lingkungan dari berbagai kalangan di Indonesia mulai dari mahasiswa, akademikus, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), lembaga pemerintah, hingga sektor swasta ikut mengembangkan wawasan dalam forum ini.

Executive Officer FHK, Laksmi Datu Bahaduri, menambahkan, dalam forum ini ada beberapa rangkaian kegiatan menarik. Seperti pelatihan statistik dalam konservasi, konferensi dan eduwisata. Peserta juga akan diajak untuk mengeksplorasi Taman Nasional Baluran.

Mereka turun langsung dalam kegiatan pengenalan Taman Nasional Baluran, pengelolaan tanaman akasia, juga melihat dari dekat habitat banteng, macan tutul, dan kera ekor panjang, serta pemasangan kamera untuk mendeteksi satwa.

Baca juga:
Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Nusantara (1): Dari Talam Buah, Pohon Uang, dan Rebutan Julung-Julung
Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Nusantara (2): Cuci Pusaka, Kirab Ampyang, dan Rebutan di Pohon Keres

"Tentunya kegiatan ini juga menjadi ajang meningkatkan jejaring di antara para peneliti dari berbagai kalangan, serta berguna untuk membangun kapasitas para peneliti melalui pelatihan teknis kepada konservasionis muda dan potensial," tutur Laksmi.

Berdasarkan data LIPI 2013, tercatat terdapat 47.910 jenis keanekaragaman hayati di Indonesia. Jumlah tersebut masih jauh lebih kecil dari potensi yang sebenarnya ada.

Hal itu disebabkan karena seluruh spesies belum teridentifikasi dan didaftarkan secara pasti. Hasil diskusi yang dibahas dalam forum ini akan disampaikan pada pemerintah dan pemangku kebijakan (stakeholder) lainnya sebagai laporan sekaligus jadi bahan evaluasi ke depan. (EBC/SA)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Asal Nama Rondo Royal, Jajanan Tape Goreng Khas Jepara

11 Okt 2026

Penonton MotoGP Mandalika 2026 Tembus 157 Ribu, Cetak Rekor Baru

12 Okt 2026

Gentengisasi Jateng Disiapkan, 1,1 Juta Keping Genteng Dibutuhkan

13 Okt 2026

Pemerintah Tutup Permanen Ekspor Benih Lobster, Penyelundup Bakal Diburu

14 Okt 2026

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Pemerintah Tunda Kewajiban Sertifikasi Halal hingga 2028

21 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: