BerandaTradisinesia
Rabu, 25 Mei 2021 20:00

Warung Jamu Sambiroto, Puluhan Tahun Sediakan Jamu untuk Semua Kalangan

Suasana antrian konsumen jamu pada Warung Jamu Sambiroto, Semarang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Warung Jamu Sambiroto telah menjadi bagian dari masyarakat Kota Semarang sejak puluhan tahun silam. Andri, sang pemilik, mengaku menyasar konsumen semua kalangan. Apa saja jenis jamu yang disediakannya?

Inibaru.id – Peranti membuat jamu yang terpahat pada relief Karmawibhangga di dinding kaki Candi Borobudur kian menegaskan bahwa jamu telah dikenal masyarakat Jawa sejak abad ke-8. Hingga kini, minuman herbal yang juga dikenal dalam praktik Ayurveda di India ini nggak bisa dilepaskan dari masyarakat kita, khususnya di Jawa.

Kendati sempat kurang diminati sejak pengobatan modern masuk negeri ini, nyatanya jamu tetap merupakan bagian nggak terpisahkan dari negeri ini. Industri jamu yang mulai berkembang di Indonesia pada 1974 menjadi pijakan baru untuk perkembangan jamu Nusantara.

Dari jamu gendong, yang biasanya dijajakan dengan berjalan kaki, jamu juga mulai dijual dengan mangkal di suatu tempat. Depot-depot jamu didirikan. Nggak hanya menjual jamu yang "dibuat pagi, dijual siang", para penjual jamu juga menyediakan jamu instan sasetan.

Belantika "perjamuan" memang telah bergeser. Penjual jamu, yang dulu didominasi perempuan, harus menyiapkan jamu dengan menggilas dan merebus bahan herbal di pawon selama berjam-jam, kini punya pilihan lain.

Andri, salah seorang pemilik depot jamu di Jalan Raya Sambiroto Kota Semarang, mengiyakannya. Nggak seperti mbok jamu gendong yang jemarinya menguning karena kebanyakan memeras kunyit, lelaki yang mendirikan depot jamu pada awal 2000-an itu tampak rapi jali.

Dibantu seorang karyawan, Andri melayani pembeli yang terus bergonta-ganti memesan jamu. Ada yang dibawa pulang, ada yang diminum di tempat. Untuk yang terakhir, terkadang jamu racikannya diberi tambahan telur ayam atau bebek.

"Telur itu selera konsumen," ungkap lelaki yang merantau ke Jawa pada 1995 tersebut. "Perempuan biasanya (memilih) telur ayam karena katanya telur bebek lebih amis, padahal kalau sudah dicampur jamu, ya, sama saja."

Lebih Banyak Pilihan

Andri, pemilik Warung Jamu Sambiroto memberikan konsultasi terkait jamu yang pas diminum untuk salah satu konsumennya. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Sebagian orang nggak menyukai jamu karena rasanya pahit laiknya obat. Namun, anggapan itu agaknya sudah nggak relevan lagi saat ini. Andri mengatakan, sejumlah jamu modern di tempatnya memiliki rasa yang nyaman di mulut dan tetap manjur untuk pengobatan.

"Kesannya sekarang, jamu itu enak dan nggak pahit, sehingga bisa menyasar semua kalangan," terang Andri, yang juga mengatakan bahwa saat ini pelanggannya juga banyak datang dari kalangan anak muda.

Banyaknya pilihan di depot jamu milik Andri juga membuat banyak orang datang ke tempatnya. Nggak hanya untuk menambah daya tahan dan kebugaran, Andri meyakini ada beberapa jenis jamu yang bahkan bisa menyembuhkan berbagai penyakit kronis.

Lebih dari dua dekade berkecimpung dan bertahan di dunia perjamuan, kelihaian Andri dalam meramu jamu tentu saja nggak perlu dipertanyakan lagi. Jamu yang disajikan Andri biasanya diracik berdasarkan keluhan yang diungkapkan pelanggannya.

Dalam segelas jamu, Andri terkadang mengoplos beberapa jenis jamu saset yang banyak tersedia di pasaran. Laiknya seorang dokter atau tabib, dia akan mencampurkan dua hingga tiga macam jamu setelah mendiagnosis keluhan pelanggannya.

"Jadi, tergantung keluhan mereka apa, jamunya disediakan. Ada semua!” akunya.

Keampuhan jamu, lanjut Andri, bergantung pada keyakinan peminumnya. Jika orang tersebut nggak yakin, sakit yang dideritanya juga nggak bakal hilang.

Dia juga meyakini, jamu cenderung aman dikonsumsi karena selain ada takarannya, obat herbal juga bakal kembali netral di dalam tubuh kalau pun salah takaran.

"Berbeda dengan obat umum yang jika salah resep akan membahayakan bagi tubuh," kata dia.

Menyasar Semua Kalangan

Adik kecil berkerudung coklat yang merupakan salah satu konsumen jamu yang datang bersama kedua orang tuanya. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Sore itu, depot jamu kepunyaan Andri tampak ramai. pembeli dari berbagai kalangan berdatangan silih berganti, mulai dari ibu-ibu hingga anak muda, bahkan anak-anak. Racikan jamu yang ditawarkan pun cukup beragam.

Dalam sehari, Andri mengaku, depot jamu dengan jenama “Warung Jamu Sambiroto” itu dikunjungi 50-100 orang dari berbagai usia dalam sehari. Buka mulai pukul 17.00 WIB hingga tengah malam, Andri memang sengaja menyasar semua kalangan.

Konsumen dewasa hingga lansia biasanya memesan jamu pegel linu, rematik, asam urat, dan tolak angin. Sementara, konsumen anak-anak, yang umumnya datang bersama orang tuanya, memesan jamu penambah nafsu makan, masuk angin, vitamin, hingga untuk cacingan.

“Banyak anak kecil yang malah minta orang tuanya ke sini," terang Andri di tengah kesibukannya melayani pembeli. “Mereka awalnya tertarik dari bungkusnya, kemudian suka karena jamu anak-anak rasanya manis.”

Zaman yang kian modern, tambah Andri, memang membuat orang semakin punya kemampuan menentukan jenis pengobatan yang paling diyakininya, termasuk dalam memilih obat herbal seperti jamu.

"Tanpa perlu menjelaskan (lebih detail terkait) jamu, mereka sudah tahu sendiri," terang Andri.

Terus, terkait dengan dampak ketergantungan pada jamu, dia pun mengibaratkannya dengan perilaku merokok dan meminum kopi yang jika dilakukan terus-menerus akan mencandu.

“Jadi, (dampak negatif kecanduan) itu tergantung kita, apakah kegiatan itu memang harus kita lakukan atau tidak,” tandasnya, lalu tersenyum.

Memilih ramuan herbal di depot jamu atau obat bermerek di apotek pada akhirnya memang nggak bisa dipaksakan. Asalkan meyakini itu mampu menyembuhkan, ya sudah. Yang penting, sebelum minum, jangan lupa baca dulu aturan pakainya! Akur? (Kharisma Ghana Tawakal/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: