BerandaTradisinesia
Kamis, 19 Jan 2022 18:00

Tradisi Unik di Tawangmangu: Merawat Perdamaian dengan Tawur Dukutan

Prosesi ini dari Tawur Dukutan, lempar peluru sesaji pada orang-orang terpilih. (Jatengprov)

Kebudayaan Tawur Dukutan, senantiasa menjadi pengingat bagi Warga Dusun Nglurah Karanganyar untuk selalu menjaga kedamaian. Tawuran kok bisa menjaga perdamaian? Begini penjelasannya.

Inibaru.id – Pertikaian yang terjadi sudah seharusnya diselesaikan secara adil dan bijak untuk menciptakan perdamaian. Tapi, apa jadinya jika penyelesaian pertikaian melalui tawuran?

Nah, itulah yang terjadi di Dusun Nglurah, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar ini, Millens. Eits, jangan berpikir warga di sana hobi tawuran ya setiap ada persoalan. Acara yang diberi nama Tawur Dukutan ini merupakan tradisi yang memang sengaja diadakan kok.

Jadi, Tawur Dukutan adalah satu tradisi bagi warga Dusun Nglurah Lor dan Nglurah Kidul. Pelaksanaannya nggak boleh sembarang. Hari yang dipilih bertepatan pada waktu Dukut (Kalender Jawa) yakni Selasa Kliwon tiap tujuh bulan sekali.

Tujuannya adalah saling introspeksi dan pembelajaran atas apa yang terjadi di masa silam, yakni konflik atas dua dusun; Nglurah Lor yang dipimpin oleh Kyai Menggung dan Nglurah Kidul yang dinaungi Nyai Roso Putih. Konon, pertemuan mereka menimbulkan konflik hingga melibatkan warga dari dua wilayah tersebut.

Persiapan Tawur Dukutan

Arak-arakan warga yang akan menghadiri Tawur Dukutan. (Tribun Solo)

Nggak pakai senjata tajam dan batu, Dukut Tawuran menggunakan sesaji berbentuk tumpeng. Tumpeng tersebut berisikan nasi jagung, gudangan, hasil bumi, aneka jajan pasar, kendi berisi air sendang, serta membawa bara api dan kemenyan.

Ada pantangan yang nggak boleh dilakukan orang-orang yang ditunjuk untuk menyiapkan tumpeng. Mereka nggak boleh mencicipi hasil masakannya. Tapi menurut warga, rasa masakan yang dihidangkan selalu enak dan pas. Orang-orang yang memasak juga nggak sembarangan. Sesaji hanya boleh dimasak perempuan yang sedang datang bulan.

Setelah semua siap, sesepuh akan mengawali prosesi arak-arakan dan sesaji dibawa oleh perwakilan orang-orang dari kedua dusun. Mereka berpakaian menyerupai prajurit dengan atasan lurik dan bawahan celana selutut ditutupi oleh jarit atau kain.

Bukan Sembarang Orang

Prosesi perapalan doa oleh sebagian warga. (Liputan6)

Sesaji ditata berbentuk persegi di atas tampah yang terbuat dari pelepah daun pisang. Kemudian sesaji diletakkan di dekat arca bentuk lingga dan yoni di sekitar komplek Situs Candi Menggung.

Setelah semua siap, sesepuh akan merapal doa-doa dan sesudahnya, tibalah prosesi puncak. Sesaji yang dibawa tadi bakal dibagi dua. Satu akan dibagikan kepada lelaki yang berdandan laiknya prajurit “yang terpilih”.

Sesaji diremas, lalu dimasukkan ke dalam pincuk daun (wadah dari daun pisang yang berbentuk kerucut) sebagai peluru untuk media Tawur Dukutan.

Orang-orang yang berdandan laiknya prajurit tadi memulai “perang”. Saling berlarian dan melemparkan sesaji, inilah yang menjadi simbol pertikaian. Tak elak beberapa warga yang menonton ikut terkena lemparan. Namun bukannya sebal, mereka justru semringah. Mereka percaya hal ini akan memberikan rezeki bagi mereka yang terkena lemparan peluru sesaji.

Konklusi Tawur Dukutan

Uniknya, prosesi “tawuran” akan selesai dengan sendirinya saat beberapa prajurit yang terpilih merasa capai. Selanjutnya mereka akan duduk bersama dengan diiringi warga yang mendekat dan memakan sesaji yang sebelumnya telah disisihkan.

Saat acara berakhir, semua dianggap selesai dan yang terlibat “tawuran” nggak ada yang boleh menyimpan dendam sedikitpun.

Malam harinya, digelar sebuah pagelaran wayang kulit. Lakon dan dalang bakal dirahasiakan untuk memancing rasa ingin tahu warga.

Kalau kamu melihat langsung prosesi ini, mungkin bakal mengira ini tawuran sungguhan. Tapi beneran kok ini semua hanya agenda rutin budaya setempat.

Pesan yang pengin disampaikan adalah sudah seharusnya manusia saling memaafkan dan duduk bersama. Hm, kamu setuju nggak Millens? (Lip,Etn/IB31/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: