Tradisi Membuang Ayam Hidup di Jembatan Kali Gelis Kudus

Tradisi Membuang Ayam Hidup di Jembatan Kali Gelis Kudus
Sepasang pengantin membuang ayam hidup di Jembatan Kali Gelis Kudus. (ISK)

Di Kudus, jika iring-iringan mempelai melewati jembatan sungai besar seperti Kali Gelis bakal membuang seekor ayam hidup. Tujuannya, membuang bala dan melancarkan rezeki. Meski ini tradisi sejak abad 14, hingga kini masih dilestarikan.

Inibaru.id – Di Kabupaten Kudus ada satu tradisi unik yang masih dilestarikan hingga kini yaitu membuang ayam di Jembatan Kali Gelis oleh iring-iringan pengantin. FYI, tradisi itu dilakukan iring-iringan pengantin ketika menuju ke rumah mempelai perempuan untuk melaksanakan akad nikah atau ngunduh mantu.

Masyarakat percaya, prosesi tersebut dapat menghindarkan sepasang pengantin itu dari bala atau marabahaya yang dimungkinkan terjadi. Di Kudus, tradisi ini cukup kental.

Bahkan, ketika musim orang menikah, terkadang ada seseorang yang sengaja menunggu di jembatan lo buat mengambil ayam yang sengaja dibuang rombongan pengantin.

Kalau kata sejarawan Kudus Sancaka Dwi Supani, tradisi membuang ayam di jembatan itu sudah berkembang sebelum agama Islam masuk ke Kudus. Tradisi tersebut merupakan tradisi Jawa peninggalan nenek moyang terdahulu, Millens.

Tradisi nenek moyang zaman dahulu, sambung Supani, saat prosesi iring-iringan pengantin melalui sungai atau jembatan pasti membuang sesaji yang bernyawa.

Tujuannya, sebagai rasa syukur kepada Tuhan dan berharap agar diberi keselamatan.

“Tradisi itu sudah berkembang di abad 14, sebelum Islam masuk atau masa kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dikenal dengan masa klasik,” katanya, Kamis (13/1/2022).

Ayam dikenal sebagai hewan yang pandai mencari makan. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Ayam dikenal sebagai hewan yang pandai mencari makan. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Dia juga menjelaskan bahwa prosesi itu untuk tolak bala dan mempermudah rezeki bagi pasangan pengantin. "Kalau ayam itu diibaratkan kan bisa notol-notol,” lanjutnya.

Ternyata prosesi tradisi itu bukan hanya dilakukan ketika melalui Jembatan Kali Gelis. Melainkan, jembatan sungai besar lainnya yang dilewati rombongan pengantin seperti Jembatan Ploso, ataupun Jembatan Tanggulangin.

Meski bermaksud baik, lanjut Supani, hal tersebut nggak harus dilakukan. Semua itu tergantung kepercayaan pemilik hajat.

“Tradisi itu harus dimaknai yang baik saja. Bisa diartikan rasa syukur untuk buang sengkala (musibah-red), agar selamat dan wujud syukur kepada Tuhan,” imbuhnya.

Sementara, Pemerhati Sejarah Kudus, Moh Rosyid menyebut, tradisi buang ayam di jembatan oleh iring-iringan pengantin itu merupakan adat Jawa. Tradisi tersebut memang dipercaya untuk menolak bala atau musibah.

“Bisa dibilang untuk buang sengkala yakni, simbol penyakit yang dibuang agat sehat. Serta selamat dengan memindahkan penyakit pada hewan yang dibuang,” ujarnya.

Namun menurut pendapatnya, memang sekarang ini perlu kehati-hatian dalam memaknai tradisi itu. Perlu diluruskan jika mengarah pada sinkretis atau kemusyrikan.

“Karena banyak yang menafsirkannya itu beragam dan perlunya penjelasan lebih dalam tentang tradisi membuang ayam itu pada generasi milenial, agar maknanya itu bisa tepat tersampaikan dan dipahami,” ucapnya.

Di Demak Juga Ada Tradisi Ini

Pengantin di Demak juga melakukan tradisi membuang ayam jika melewati jembatan sungai besar. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
Pengantin di Demak juga melakukan tradisi membuang ayam jika melewati jembatan sungai besar. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Selain Kudus, tradisi ini ternyata juga dilakukan di Demak.

Saya pernah melihat langsung rombongan pengantin tante saya ketika sedang dalam perjalanan ngunduh mantu. Kebetulan, tante saya bukan orang Kudus melainkan Demak. Saat itu, rombongan kami hendak melewati jembatan sungai besar untuk menuju kediaman om saya di desa sebelah.

Begitu sampai di jembatan, mobil berhenti di pinggir jembatan dan seseorang menyodorkan seekor ayam jantan kepada lelaki tua yang sedang menuntun sepeda.

Lelaki itu tampak tersenyum dan berterima kasih karena telah diberi seekor ayam hidup berukuran lumayan besar. Saya perhatikan dia nggak bertanya kepada pemberi ayam mengapa tiba-tiba diberi ayam. Saya asumsikan bapak-bapak tadi sudah tahu apa maksud pemberian itu.

Dari peristiwa itu, saya pikir ayam tersebut nggak benar-benar dibuang atau disia-siakan melainkan diberikan kepada seseorang. Jadi, saya rasa tradisi "membuang" sesajen berupa ayam hidup nggak bikin Tuhan marah. He (Mur/IB21/E07)