BerandaTradisinesia
Rabu, 2 Jan 2018 19:15

Tarling, Nggak Ada Matinya

Sugra, penemu musik tarling. (Ramdhan via meneerpanqi.blogspot.com)

Tiap generasi tarling selalu membawa perubahan. Dan selalu ada tokoh-tokoh legendaris yang membawa perubahan itu.

Inibaru.id – Tarling, jenis musik legendaris di Cirebon dan Indramayu lahir semasa zaman penjajahan Belanda. Di tengah jenis-jenis musik modern, terutama berbagai aliran dangdut, tarling selain bertahan, ia juga jenis musik yang bisa padu dengan genre lain. Contohnya yang populer adalah tarling dangdut yang hingga kini masih jadi kegemaran orang di wilayah pantura barat.

Sebagai genre musik yang telah lama, warna musiknya terus berubah seturut tokoh-tokoh alias pemusik-pemusiknya. Seperti ditulis ndayeng.wordpress.com, seenggak-enggaknya ada tiga generasi tarling.

Siapakah mereka?

Generasi Pertama

Sugro sebagai orang pertama yang dianggap menemukan genre musik tarling membentuk grup. Dia dan teman-temannya sering diundang untuk pentas pada pesta-pesta hajatan penduduk sekitar. Saat itu pentas digelar di atas alas tikar sederhana yang diterangi lampu petromaks (saat malam hari) dan sering kali mereka pentas tanpa bayaran alias cuma-cuma.

Selain itu, Sugro dan teman-temannya juga melengkapi pertunjukan musik mereka dengan penambahan selingan berupa sajian drama. Drama yang mereka mainkan lebih banyak berkisah tentang kehidupan sehari-hari yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Cirebon. Dari drama yang mereka mainkan itu  kemudian muncul lakon-lakon seperti Saida-Saeni yang berakhir tragis, Pegat-Balen, dan Lair-Batin yang begitu melegenda hingga kini.

Baca juga:
Tarling (Tetap) Legenda Pantura
Dari Lembaran Daun Lemba Terciptalah Rompi Suku Dayak Ngaju

Satu yang khas dari seni musik tarling generasi pertama atau awal ini adalah pada posisi pemain yang berjumlah empat orang. Masing-masing memainkan gitar melodi, gitar pengiring sekaligus bermain bass sinden dan seorang lagi pemain yang memainkan alat musik tiup tradisional berupa botol berwarna hijau sebagai pemanis lagu.

Suara yang keluar dari mulut si sinden inilah yang menjadi bagian penting dalam sebuah pertunjukan seni musik tarling klasik yang sebagian besar liriknya berkisah tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Cirebon.

Sugro dan teman-temannya disebut sebagai generasi pertama tarling.

Generasi Kedua

Pada perkembangan kedua musik tarling klasik ini atau generasi kedua. Muncul sosok seniman bernama Djana Partanain atau orang lebih mengenalnya sebagai Mama Jana. Dia memberikan penyempurnaan atau variasi baru pada instrumen musik tarling.  Penambahan tersebut berupa melodi kiser atau tembang klasik yang semakin membuat syahdu dan menjiwai karena ada sentuhan unsur tradisional khas Cirebon.

Pada masa inilah musik tarling Cirebon berjaya pada zamannya. Inovasi ini terbilang sebagai inovasi yang luar biasa karena semakin menunjukan kecirikhasan musik tarling klasik Cirebon.

Tarling Generasi Ketiga

Memasuki generasi ketiga, musik tarling mulai sedikit mengalami perubahan karena penambahan masuknya musik organ dan membuat ciri khas musik klasik Cirebon sedikit terkikis. Orang-orang Cirebon menamai jenis musik tarling masa ini dengan sebutan “teng dung cirebon” atau dangdut Cirebon.

Tapi pada masa ini juga lagu-lagunya sangat popule, misalnya “Waru Doyong”, “Gatutkaca Bli Bisa Mabur”, “Keloas”, “Mandor Kawat”, atau “Kopi Lendot” l. Kesemua lagu beraliran dangdut tarling ini seakan sudah menjadi ciri khas musik Indonesia selain genre dangdut pada umumnya.

Oya sebagai pelengkap, berikut beberapa catatan mengenai seni tarling seperti dikutip dari Wikipedia.

Baca juga:
Jaranan, Nggak Sekadar Naik Kuda Tiruan
Tradisi Natal Keturunan Portugis di Kampung Tugu

Karya tarling legendaris: Saida Saini, Kang Ato Ayame Ilang, Baridin, Ajian Semar Mesem, Kuntilanak (Lakon Sruet).

Beberapa lagu tarling populer: “Warung Pojok” (Abdul Adjib), “Kembang Kilaras”, “Waru Doyong”, “Pemuda Idaman” (Sadi M)

Tokoh-tokoh tarling: Uci Sanusi, Jayana, Sunarto Martaatmadja, Abdul Adjib (pencipta lagu “Warung Pojok”, pemeran tokoh Baridin), Lulut Casmaya, Hj Dariyah, Maman Suparman, Pepen Effendi. (EBC/SA)

Penyanyi tarling dangdut: Aas Rolani (“Mabok Bae”, “Kembang Kilaras”), Cucun Novia (“Waru Doyong”, “SMS” versi tarling), Nunung Alvi (“Nunggu Dudae”), Yoyo Suwaryo (“Mboke Bocah”), Dewi Kirana (“Pengen Dikawin”, “Pecak Welut”) (EBC/SA)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Pantai Dasun Lasem, Kabupaten Rembang

3 Mar 2026

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

3 Mar 2026

OTT Edisi Ramadan, KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta

3 Mar 2026

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

3 Mar 2026

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

3 Mar 2026

Mulai Maret Ini, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos

3 Mar 2026

Kartu Mebel Jepara, 'Tiket Emas' biar UKM Ukir Naik Kelas

3 Mar 2026

Sejuk dan Alami, Begini Keindahan Air Terjun Kyai Buku Jepara

4 Mar 2026

Sepanjang 2025, Uang Hilang Setara Rp355 Miliar di Jepang Kembali ke Pemiliknya

4 Mar 2026

Opsi 'Sekolah Swasta Gratis' Akan Terintegrasi dengan SPMB 2026 di Kota Semarang

4 Mar 2026

Ponpes Raudhatul Qur'an; Cetak Ratusan Hafiz dengan Biaya Bulanan Murah Meriah

4 Mar 2026

Menguliti Asal Usul Nama Kurma

4 Mar 2026

Tragedi Cinta Mangir-Pembayun; Saat Asmara Jadi Senjata Penakluk Mataram

4 Mar 2026

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: