BerandaTradisinesia
Sabtu, 28 Okt 2022 09:34

Sejak Kapan Tukang Parkir Menguasai Jalanan Indonesia?

Tukang parkir, profesi yang cukup kontroversial di Indonesia. (Yudibatang)

Profesi ini belum tentu bisa kamu temui di luar negeri. Tapi, pastinya kamu banyak menjumpai di sini, Indonesia. Yap, tukang parkir seperti menjamur di setiap keramaian. Sebenarnya, sejak kapan profesi juru parkir ini eksis di Tanah Air?

Inibaru.id - Banyak yang suka, banyak pula yang nggak suka dengan adanya tukang parkir di sekitar kita. Yang suka tentunya bakal merasa tenang karena kendaraannya aman dijaga oleh juru parkir.

Sementara yang nggak suka bisa saja karena merasa tempat itu nggak memerlukan penjagaan tukang parkir. Ada juga yang sebal dengan juru parkir karena memasang tarif yang mahal tapi dirinya nggak menjalankan tugasnya dengan baik.

Saking mahalnya tarif parkir, sampa-sampai di tembok kampus saya ada tempelan poster yang menggelitik. "Fotokopi Rp500, parkirnya Rp2.000". Begitulah kalimat protes para mahasiswa berkantong cekak menghadapi tukang parkir yang ngetem di tempat fotokopi.

So, terbayang kan seperti apa kontroversi keberadaan tukang parkir di Indonesia ini? Lalu, kamu pernah terpikir nggak sih sejak kapan sebenarnya profesi tukang parkir eksis di Tanah Air?

Bermula dari Jakarta

Profesi juru parkir mulai populer di Jakarta sejak 1950-an. (Liliyuliadi)

Ternyata, profesi yang belum tentu bisa kamu temui di luar negeri ini bermula dari Jakarta, Millens. Goodnewsfromindonesia (24/5/2021) menulis, pada 1950-an, sudah ada pengelola parkir di pinggir jalan Jakarta.

Alasannya, saat itu sudah banyak pengguna kendaraan bermotor namun belum ada undang-undang yang mengatur tentang perparkiran. Masyarakat kemudian membuat jasa parkir di pinggir jalan yang saat itu disebut dengan istilah “jaga otto”.

Beda dengan zaman sekarang dimana juru parkir bisa kamu temui di mana-mana, pada masa itu lahan parkir seringkali berada di permukiman orang Eropa atau Tionghoa. Biasanya mereka dikenal memiliki level ekonomi lebih tinggi dari rakyat sekaligus sudah memiliki kendaraan bermotor.

Lahan-lahan parkir tersebut bisa ditemui di kawasan Sudirman, Jalan Thamrin, Glodok, Harmoni, Jakarta Kota, serta Pasar Baru. Kawasan-kawasan tersebut dikenal sebagai tempat perdagangan atau perkantoran yang sangat ramai.

Barulah saat Jakarta menggelar Asian Games 1962, jasa perparkiran mulai berubah menjadi seperti yang sekarang kita kenal, yaitu dikuasai organisasi masyarakat setempat. Sistem inilah yang kemudian berkembang di kota-kota lain di Indonesia.

Memang, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI kemudian memiliki pengelolaan parkir resminya sendiri di bawah naungan PT Parkir Jaya semenjak 1972. Tapi, tetap saja perusahaan ini nggak bisa menggeser hegemoni jasa parkir yang sudah dikelola organisasi masyarakat. Pada akhirnya, perusahaan ini pun kalah dan dibubarkan.

Untung Besar, tapi Nggak Bikin kaya

Meski mendapatkan banyak uang, setoran harian para juru parkir ke penguasa lahan parkir cukup besar. (Inibaru.id/Audrian Firhanussa)

Kalau kamu cermati, banyak meme-meme di media sosial yang menyebut profesi tukang parkir bisa membuat seseorang mendapatkan uang banyak. Hal ini memang ngga salah, Millens. Masalahnya, meski mendapatkan uang banyak, para juru parkir ini juga harus setor ke pengelola parkirnya.

Hal ini diungkap oleh orang juru parkir liar yang beroperasi di Gandaria City, Margono. Laki-laki yang kini berusia 48 tahun ini menjelaskan jika dalam sehari jaga parkir (dari pukul 06.00 WIB – tengah malam) dia bisa memegang uang minimal Rp 2,3 juta.

Sayangnya, dia harus menyetor uang ke pengelola lahan parkir sebesar Rp 1,7 juta. Sisa uangnya pun harus dia bagi dengan lima rekannya. Alhasil, dia hanya mendapatkan pendapatan sekitar Rp150 ribu setiap hari.

“Kotornya itu kita terima Rp150 ribu, itu sudah sama makan. Bersihnya Rp80- Rp90 ribu per hari,” ceritanya sebagaimana dilansir dari Liputan6, (11/11/2019).

Melihat banyaknya uang setoran dari para tukang parkir ini, wajar jika lahan parkir di kota-kota besar terkadang menjadi rebutan pengelolanya. Wajar pula jika kita semakin sulit menemukan tempat-tempat keramain seperti kafe, restoran, atau toko-toko lainnya yang nggak “dikuasai” oleh juru parkir.

Kalau kamu lebih suka tempat yang ada tukang parkir sehingga menjamin keamanan kendaraanmu atau lebih memilih tempat yang nggak ada tukang parkirnya, nih, Millens? (Arie Widodo/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

6 Mar 2026

Saking Bekunya Musim Dingin, Warga Laut Baltik Berseluncur dari Satu Pulau ke Pulau Lain

6 Mar 2026

Bukan Emas Lagi; MUI Jateng Ubah Patokan Nisab Zakat Profesi

6 Mar 2026

Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip versi Polrestabes Semarang

6 Mar 2026

Oksigen Banyak dari Laut, Terus Kenapa Masih Ribut Soal Hutan?

6 Mar 2026

Tiket Mudik Ludes 400 Ribu! Cek Tanggal Favorit dan Kereta Pilihan di Daop 4 Semarang Ini

6 Mar 2026

Wisata Alam Kalikesek Semakin Ramai, Warga Desa Sriwulan Dapat THR

7 Mar 2026

Masjid Fujikawaguchiko, Tempat Salat dengan Latar Spektakuler Gunung Fuji di Jepang

7 Mar 2026

Sahur Tanpa Nasi Cuma Makan Lauk, Beneran Bikin Kuat Puasa Seharian?

7 Mar 2026

Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Siapa yang Paling Tahan Lawan Pemanasan Global?

7 Mar 2026

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Berburu Baju Bekas sekaligus Bantu Korban Kekerasan di Bazar Preloved Sintas

8 Mar 2026

Sarung Tangan Karet Bekas Ternyata Bisa Jadi 'Penyedot' Polusi

8 Mar 2026

Srikandi Ojol Jateng Kini Punya Aplikasi Khusus Anti-Pelecehan

8 Mar 2026

Musim Mudik, Pengendara Diimbau Istirahat di Rest Area Maksimal 30 Menit

9 Mar 2026

Menilik Keseruan Momen Membeli Kebutuhan Lebaran

9 Mar 2026

PDAM Semarang Gelar 'Operasi Ketupat', 14 Ribu Penunggak Jadi Sasaran

9 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: