BerandaTradisinesia
Minggu, 1 Feb 2020 11:05

Mempertahankan Tradisi dan Kelestarian Alam Lewat Nyadran Kali Desa Wisata Kandri

Sesepuh desa wisata Kandri mengambil air dari Sendang Gedhe. (Inibaru.id/ Audrian F)

Desa Wisata Kandri menggelar sebuah acara tradisi yang bernama Nyadran Kali. Acara ini nggak cuma diikuti oleh wisatawan lokal tetapi juga mancanegara. <br>

Inibaru.id - Kamis (30/1) pagi, masyarakat Desa Wisata Kandri, Gunungpati, Kota Semarang mengadakan Tradisi Nyadran Kali.

Acara sebetulnya sudah terlaksana pada Rabu (29/1) malam, Millens. Diawali dengan prosesi penagambilan air suci dari sendang di Desa Wisata Kandri. Selepas diambil, air tersebut dikirab.

Prosesi kirab. saat Nyadran Kali di Desa Wisata Kandri. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Kemudian sampai pada acara puncak. Rangkaian prosesi kirab tepatnya dilaksanakan di RW 1 Sendhang Gede. Dibuka dengan kesenian Kempling diikuti tarian Martito Suji Dewi Kandri, kemudian perjalanan kirab menuju ke Sendang Gedhe.

Pada kirab tersebut dibawa gunungan hasil bumi, nasi kethek, dan kepala kerbau. Sesampainya di sendhang digelar prosesi penuangan air pada klenthing yang dibawa 9 penari. Setelah air ditumpahkan sebagai simbol pelestarian alam, masyarakat menggelar daun pisang memanjang di samping sendang untuk menyajikan nasi kethek. Para pejabat, tamu, dan wisatawan pun makan bersama.

Kepala kerbau sebagai syarat Nyadran Kali Desa Wisata Kandri. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Masduki, ketua acara menyampaikan kalau Nyadran Kali Desa Kandri ini adalah wujud rasa syukur atas pemberian Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, adanya tradisi nyadran ini juga bermaksud agar masyarakat nggak lupa dengan budaya daerahnya.

“Tujuannya unrtuk memberi tahu yang belum tahu dan mengingatkan buat yang sudah tahu,” ujar Masduki.

Dulu kegiatan Nyadran hanya sebatas bersih-bersih sungai kemudian syukuran. Namun semenjak Desa Kandri menjadi desa wisata, diadakanlah prosesi semacam ini.

Sembilan penari yang membuang air sendang di area perkebunan. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Sendang yang menjadi objek prosesi nyadran tersebut memiliki cerita. Sendang itu merupakan sumber air yang besarnya satu dandang. Konon jika dibiarkan mata air tersebut bisa mengubah Kota Semarang menjadi lautan. Maka masyarakat saat itu menutupnya dengan memberikan kepala kerbau, gong, dan jadah. Ketiga hal ini nggak boleh lupa saat penggelar nyadran.

“Dulu kepala kerbau dikubur di dalam tanah. Sekarang karena masyarakat sudah maju dan sadar agama, kepala kerbaunya ya dimasak lagi,” jelasnya.

Masduki juga membeberkan kalau adanya tradisi ini penting sekali untuk masyarakat Desa Wisata Kandri. Selain karena bernilai penting dalam memupuk akar kebudayaan juga membantu perekonomian.

Warga Desa Wisata Kandri bergotong royong menyajikan Nasi Kethek. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

“Semua prosesi ini juga ada hubungannya sama bisnis rumahan kami yaitu Homestay. Jadi kenapa diadakan malam juga yakni agar homestay tersebut kedatangan tamu,” pungkasnya. Masduki juga mengungkapkan kalau pengunjung nyadran ini nggak cuma orang Semarang, tapi luar kota bahkan ada turis manca.

Oh iya, acara Nyadran Desa Kandri ini dilaksanakan setiap setahun sekali pada Kamis Kliwon bulan Jumadil akhir. Jadi buat kamu yang belum ikut, datang lagi di tanggal-tanggal itu ya, Millens. (Audrian F/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

6 Mar 2026

Saking Bekunya Musim Dingin, Warga Laut Baltik Berseluncur dari Satu Pulau ke Pulau Lain

6 Mar 2026

Bukan Emas Lagi; MUI Jateng Ubah Patokan Nisab Zakat Profesi

6 Mar 2026

Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip versi Polrestabes Semarang

6 Mar 2026

Oksigen Banyak dari Laut, Terus Kenapa Masih Ribut Soal Hutan?

6 Mar 2026

Tiket Mudik Ludes 400 Ribu! Cek Tanggal Favorit dan Kereta Pilihan di Daop 4 Semarang Ini

6 Mar 2026

Wisata Alam Kalikesek Semakin Ramai, Warga Desa Sriwulan Dapat THR

7 Mar 2026

Masjid Fujikawaguchiko, Tempat Salat dengan Latar Spektakuler Gunung Fuji di Jepang

7 Mar 2026

Sahur Tanpa Nasi Cuma Makan Lauk, Beneran Bikin Kuat Puasa Seharian?

7 Mar 2026

Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Siapa yang Paling Tahan Lawan Pemanasan Global?

7 Mar 2026

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: