BerandaTradisinesia
Rabu, 26 Jul 2022 17:57

Melirik Nasib Kain Tenun Kluwung Purbalingga yang Semakin Merana

Kluwung gendong, kain tenun khas Purbalingga. (Twitter @JejakManda)

Purbalingga ternyata punya kain tenun khas. Kluwung Gendong namanya. Proses pembuatannya juga unik karena beda dari kain tenun biasa. Sayangnya, kain ini semakin kurang diminati.

Inibaru.id – Kain tenun Kluwung Gendong adalah kain tenun khas Purbalingga, Jawa Tengah. Kain ini sempat mengalami masa jaya dan dipakai banyak orang pada masa kolonial Belanda hingga penjajahan Jepang. Sayangnya, kini semakin jarang orang mau memakainya.

Saat masyarakat di daerah lain masih menggunakan karung goni sebagai baju, masyarakat Purbalingga sedikit lebih maju dan kreatif. Mereka membuat kain tenun kluwung yang berasal dari serat kapas. Padahal, pada masa itu, kain identik dengan pakaian kaum bangsawan dan priyayi.

Kalah Pamor dengan Kain Modern

Beda dengan zaman dahulu, kain yang lebih halus dari karung goni ini semakin nggak diminati masyarakat Purbalingga yang lebih memilih pakaian modern dengan bahan yang lebih halus seperti katun, linen, dan drill. Meski begitu, perajin kain tenun ini masih eksis di Desa Tajug, Kecamatan Karangmoncol.

Memang, jika dibandingkan dengan saat zaman penjajahan, jumlah perajin kain tenun ini semakin sedikit. Kini, yang tersisa hanya sepuluh orang. Itu pun hanya enam orang yang masih aktif mengerjakan kain tenun kluwung berdasarkan pesanan saja.

Proses pembuatan kluwung gendong di Desa Tajug, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga. (Warta Andalas)

Tenun Kluwung Beralih Fungsi Jadi Alat Gendong

Ada banyak alasan yang membuat kain tenun kluwung semakin nggak diminati. Yang pertama adalah proses pengerjaannya yang cenderung lama. Untuk kain berukuran standar 60 cm x 120 cm saja, pengerjaannya bisa memakan waktu satu hingga dua minggu. Maklum, prosesnya masih serba manual.

Sayangnya, proses pembuatan kain yang lama ini nggak sebanding dengan harga jualnya yang murah. Per lembarnya, harganya hanya Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu.

Padahal, kalau dicermati, proses pembuatan kain tenun kluwung beda dari kain tenun pada umumnya. Soalnya, serat atau benang yang akan ditenun ternyata dicelupkan terlebih dahulu ke bahan pewarna. Hal ini tentu membuat kombinasi warna kain tenun ini sangat unik.

Alih-alih menjadi pakaian, kain tenun kluwung kini lebih sering dijadikan alat untuk menggendong. Yang digendong nggak hanya bayi, ya, Millens, melainkan juga sejumlah perkakas atau barang dagangan yang dijual keliling. Meski begitu, ada sejumlah orang yang sengaja membeli kain tenun kluwung sebagai syal penghangat atau oleh-oleh dari Purbalingga.

Hm, semoga saja kain tenun kluwung asli Purbalingga nggak sampai punah, ya Millens! (Lip, Jat/IB31/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: