BerandaTradisinesia
Rabu, 6 Jun 2023 14:00

Kisah Seru Para Pendekar Cilik Pelestari Seni Bela Diri Gong Cik

Aksi Slamet dan Jofan saat berlatih Gong Cik di halaman rumah sang pelatih. (Inibaru.id/ Rizki Arganingsih)

Eksistensi kesenian bela diri Gong Cik di Pati mulai redup. Pasalnya, banyak anak muda yang lebih menyukai seni modern dibanding seni tradisional. Namun, berbeda dengan anak-anak di Kecamatan Cluwak, Pati yang justru bangga menekuni seni bela diri Gong Cik ini. Yuk, simak keseruannya!

Inibaru.id - Suara instrumen gamelan mulai terdengar, tanda pertarungan dimulai. Halaman rumah Mbah Japar, sang pelatih Gong Cik asal Desa Bleber, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, disulap menjadi arena laga sore itu.

Untuk informasi, Gong Cik adalah kesenian bela diri asal Pati yang bertujuan untuk menjaga keamanan warga saat masa penjajahan Belanda. Agar eksistensinya tetap terjaga, seni bela diri Gong Cik ini masih dilestarikan oleh warga Desa Bleber yang didominasi anak-anak.

Sore itu, terlihat dua pendekar cilik yang berpakaian serbahitam mulai bergerak lihai mengikuti alunan gamelan sembari bersiap menyerang satu sama lain. Slamet Priyono, pendekar Gong Cik yang masih duduk di kelas 8 SMP itu bersiap meluncurkan satu pukulan ke arah lawannya.

Namun, Ahmad Jofan yang menjadi lawan Slamet dalam latihan Gong Cik sore itu berhasil mengelak dengan baik. Nggak mau kalah, Jofan, siswa kelas 4 SD itu pun membalas dengan tendangan yang juga sukses ditangkis oleh Jofan.

Pertarungan seru yang berlangsung sekitar 5 menit itu diakhiri dengan selesainya tabuhan gamelan. Meski telah bermandikan keringat dan nafas yang agak tersengal, nggak ada raut muka lelah di antara para ksatria Gong Cik setelah berlatih. Justru, mereka mengaku sangat senang dalam latihan rutin yang juga disaksikan warga sekitar itu.

“Nggak capai, Mbak. Malah senang bisa ikut latihan rutin setiap dua kali seminggu,” tutur Jofan penuh semangat kepada Inibaru.id.

“Kami semangat karena selain untuk mengasah skill, ini juga buat persiapan kalau mau pentas,” imbuh Slamet menyetujui pendapat Jofan.

Keseruan para pelestari kesenian Gong Cik saat latihan rutin di Desa Bleber, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati (Inibaru.id/ Rizki Arganingsih)

Sudah satu tahun berlatih Gong Cik, Jofan dan Slamet mengaku sudah dua kali tampil pentas di acara hajatan. Di Pati, khususnya di Desa Bleber ini, memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat yang memiliki hajat mengundang para pelaku seni untuk memeriahkan acaranya. Salah satunya, kesenian Gong Cik ini.

“Agak deg-degan sih pas tampil di depan orang banyak, tapi juga senang karena dapat banyak saweran dari penonton,” terang Slamet diikuti anggukan kepala dari yang lain.

Selain Jofan dan Slamet, latihan sore itu juga diikuti oleh Adi dan Yusril yang kebagian menabuh kenong dan kempul. Oya, semua pemain Gong Cik diharuskan bisa menabuh gamelan dan bermain pencak, nggak terkecuali kedua bocah energetik ini.

Di saat kebanyakan bocah seusia mereka yang lebih suka hal-hal yang bersifat modern, Adi justru mengaku bangga bermain Gong Cik. Dia dan anak-anak Desa Bleber malah merasa senang bisa ambil bagian dalam melestarikan kesenian warisan leluhurnya.

“Ngapain malu, Mbak?" sahut Adi sembari tersenyum senang. "Aku malah bangga dan senang banget (bisa ikut melestarikan kesenian Gong Cik).”

Hal serupa juga diungkapkan Yusril. “Keluarga kami sangat mendukung, bahkan disuruh latihan terus,” Yusril menimpali, lalu keduanya tertawa.

Selain bisa pencak, pemain Gong Cik harus bisa memainkan alat musik pengiringnya, yaitu gamelan. (Inibaru.id/ Rizki Arganingsih)

Kesenian Gong Cik di Desa Bleber ini memang didominasi anak-anak dan remaja, khususnya siswa SD dan SMP di desa tersebut. Koordinator kesenian Gong Cik Desa Bleber Dwi Krismiarso menuturkan, pihaknya memang ingin mengajak lebih banyak anak-anak untuk menjadi pemain Gong Cik ini.

“Sangat sulit untuk menumbuhkan kesadaran anak muda akan pentingnya melestarikan kesenian tradisional di zaman sekarang,” jelas Kris, sapaan akrabnya.

“Jadi, memang kami mulai memberi masukan dan membimbing anak-anak untuk bermain Gong Cik agar nggak lenyap ditelan zaman,” tandasnya.

Yup, benar sekali. Kalau bukan anak-anak muda yang turun tangan langsung dalam melestarikan kesenian tradisional, mau siapa lagi? (Rizki Arganingsih/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: