BerandaTradisinesia
Jumat, 20 Jan 2022 18:00

Gowok, Praktik 'Magang' Jadi Suami Idaman di Jawa

Film berjudul Sang Penari (2011), adaptasi dari buku Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk (1982). (Cultura)

Dengan menjalani magang, seseorang bakal bisa mengasah skill dalam menempati posisi tertentu. Tapi, pernah nggak sih kamu mendengar magang menjadi suami? Nah, dalam proses ini, seorang lelaki yang siap berumah tangga bakal dimentori gowok. Dia bakal memastikan si lelaki menjadi suami idaman bagi istrinya kelak.

Inibaru.id – Harus diakui bahwa nggak semua tradisi Indonesia bisa diterima akal. Beberapa ada yang bikin takjub, beberapa bikin otak nge-freeze. Salah satu tradisi yang sulit diterima akal orang zaman sekarang adalah gowok.

Gowok bisa dibilang seorang mentor atau guru bagi lelaki yang telah beranjak dewasa dan siap berumah tangga. Dia bakal mengajari bagaimana cara menyenangkan istri termasuk di atas ranjang. Caranya? Praktik langsung!

Yap, gowoklah yang kali pertama mencicipi keperjakaan seorang lelaki, bukan istri sah. Aneh? Mungkin. Tapi ya "b" saja bagi masyarakat Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah zaman dulu.

Menurut novel fiksi berjudul Nyai Gowok (2014) karangan Budi Sardjono, gowok merupakan nama dari seorang wanita keturunan Tionghoa. Dirinya bernama Goo Hwang Lin dari keturunan Goo Wok Niang. Ia dibawa datang ke Indonesia bersama rombongan Laksamana Cheng Ho yang pertama tiba di Pulau Jawa.

Tak hanya satu buku, bahasan mengenai gowok ini juga sempat ditulis oleh Ahmad Tohari pada bukunya Ronggeng Dukuh Paruk (1982) dan Iman Budhi Santosa dengan judul Kisah Polah Tingkah: Potret Gaya Hidup Transformatif (2001).

Seperti kebiasaan masyarakat Jawa yang sulit menyebutkan nama dari negara luar, nama Goo Wok lebih dikenal dengan gowok. Sebutan gowok bagi perempuan ini bukan tanpa arti.

Wajar sih kalau kamu menganggap ini seperti prostitusi terselubung. Tapi posisi sebagai gowok memiliki peran penting untuk anak lelaki yang menginjak dewasa, puluhan tahun lalu. Mereka sengaja disewa oleh keluarga mempelai lelaki yang akan melangsungkan pernikahan.

Sebelum perkawinan dianggap sah, wajib hukumnya seorang laki-laki belajar cara menafkahi istri secara lahir batin. Di sinilah peran gowok.

Lama Waktu Praktik Magang Gowok

Lamanya gowok dalam beraksi mengajar seorang anak berbeda-beda. Masa ini berlangsung selama beberapa hari, bisa juga semingu. Mereka akan tinggal di satu atap yang sama.

Sang anak lelaki akan diajari bagaimana cara menjadi lelananging jagad sejati. Nggak hanya urusan ranjang, gowok juga mengajari dalam membentuk kehidupan setelah menikah. Diharapkan, para calon suami ini nggak lagi canggung ketika berumah tangga nanti.

Ajaran gowok berkaitan dengan bagaimana cara memperlakukan istri yang baik. Simpelnya apa yang boleh dan apa yang nggak boleh dilakukan setelah menjadi suami istri yang sah. Setidaknya dari acara “magang” selama seminggu di rumah gowok, mereka tembus menjadi lelaki dewasa yang nggak malu saat “kegiatan” malam pertama.

Menurut Iman Budhi Santosa, pekerjaan gowok dilakoni oleh perempuan berusia 23-30 tahun. Uniknya lagi, sang gowok ini malah nggak punya suami lo Millens. Hm bingung nggak tuh gimana cara mereka mengajar meski belum berkeluarga?

Yang ada dibenak saya adalah jika mereka tinggal serumah selama berhari-hari hingga satu minggu, bisa nggak ya antara sepasang gowok dan laki-laki ini jatuh cinta? Ehm, nggak ada yang tahu selain mereka berdua.

Nggak ada yang tahu tradisi ini masih ada atau nggak di Bagelen, Purworejo. Tapi, kalau masih ada sudah pasti timbul pro kontra dari pelbagai pihak. Eh, kalau menurutmu? (Tir/IB32/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

6 Mar 2026

Saking Bekunya Musim Dingin, Warga Laut Baltik Berseluncur dari Satu Pulau ke Pulau Lain

6 Mar 2026

Bukan Emas Lagi; MUI Jateng Ubah Patokan Nisab Zakat Profesi

6 Mar 2026

Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip versi Polrestabes Semarang

6 Mar 2026

Oksigen Banyak dari Laut, Terus Kenapa Masih Ribut Soal Hutan?

6 Mar 2026

Tiket Mudik Ludes 400 Ribu! Cek Tanggal Favorit dan Kereta Pilihan di Daop 4 Semarang Ini

6 Mar 2026

Wisata Alam Kalikesek Semakin Ramai, Warga Desa Sriwulan Dapat THR

7 Mar 2026

Masjid Fujikawaguchiko, Tempat Salat dengan Latar Spektakuler Gunung Fuji di Jepang

7 Mar 2026

Sahur Tanpa Nasi Cuma Makan Lauk, Beneran Bikin Kuat Puasa Seharian?

7 Mar 2026

Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Siapa yang Paling Tahan Lawan Pemanasan Global?

7 Mar 2026

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: