BerandaTradisinesia
Jumat, 14 Feb 2019 17:11

Dari Serah Terima Gayung hingga Makan Bersama, Prosesi Panjang Nyadran Kali Desa Kandri

Penyerahan gayung menjadi prosesi penting dalam Nyadran Kali. (Inibaru.id/ Annisa Dewi)

Pernah mendengar tradisi Nyadran Kali? Di beberapa daerah di Jawa Tengah, tradisi ini kerap menjadi kegiatan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan. Ini nggak terkecuali di Desa Kandri, Semarang. Meski tujuannya sama, namun asal-mula tradisi ini berbeda, lo.

Inibaru.id – Air yang melimpah di Sendang Putri membuat warga Desa Kandri cemas. Lokasi Kandri yang berada di ketinggian membuat mereka takut Kota Semarang yang ada di bawah akan tenggelam. Untuk mencegah hal ini terjadi, sumber air kemudian “ditutup” dengan persembahan.

Legenda turun-menurun itu terus dipercaya warga Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang hingga sekarang. Warga setempat kini menyebut prosesi tersebut sebagai Nyadran kali.

Tradisi Nyadran Kali digelar tiap Februari atau Maret setiap tahun. Dengan tujuan mengungkapkan rasa syukur pada Tuhan, warga desa lantas melakukan kirab sambil membawa gunungan berisi hasil bumi dan kepala sapi.

Masduki, salah seorang anggota panitia mengatakan, persembahan yang dari dulu digunakan untuk "menutup" Sendang Putri terdiri atas kepala kerbau, gong, dan jadah, makanan khas yang terbuat dari beras ketan dan biasa disajikan pada acara tradisional di Jawa Tengah.

Kepala sapi diarak warga keliling desa. (Inibaru.id/ Annisa Dewi)

Tahun ini, Masduki menambahkan, harga kepala kerbau yang cukup mahal diganti dengan kepala sapi oleh warga desa. Kepala sapi diusung bersama dua gunungan berisikan pelbagai macam hasil bumi seperti wortel, jagung, rambutan, hingga durian.

Peserta memulai Nyadran Kali dari Sendang Putri dan berakhir di Sendang Gede. Dari anak-anak hingga orang tua turut serta dalam kirab ini.

Sembilan perempuan menari tarian Martita Suci. (Inibaru.id/ Annisa Dewi)

Setelah tiba di Sendang Gede, para penari yang terdiri atas sembilan perempuan lantas melakukan tarian Martita Suci. Bukan musik yang mengiringi mereka, melainkan tembang dari salah satu peserta. Setiap penari membawa kendi kecil berisi bunga yang kemudian dilemparkan ke tengah arena menari.

Menurut Khairul, seorang warga yang bertugas menjadi cucuk lampah, tarian ini merupakan perwujudan rasa syukur atas sendang yang nggak kering sepanjang tahun.

Cucuk lampah menerima gayung dari juru kunci Sendang Putri. (Inibaru.id/ Annisa Dewi)

Saat tarian selesai dilakukan, juru kunci Sendang Putri lantas menyerahkan gayung dari batok kelapa pada cucuk lampah. Cucuk lampah menerima gayung tersebut untuk diserahkan pada juru kunci Sendang Gede.

Malam sebelum Nyadran Kali digelar, kedua juru kunci mengambil air dari masing-masing sendang. Air tersebut disiram ke sawah agar membawa berkah terhadap hasil panen.

Makan Bersama

Ritual mengembalikan gayung kemudian dilanjutkan dengan dhahar kembul atau makan bersama. Peserta perempuan yang membawa daun pisang dipersilakan menata nasi dan lauk-pauk di tanah.

Kebersamaan menjadi hal yang ditekankan dalam kegiatan ini. Mereka pun nggak sekali-dua mengajak para pengunjung yang datang dari luar desa untuk ikut makan. Meski hanya sesuap, ayolah ikut makan, begitu kata salah seorang warga pada Inibaru.id!

Dhahar kembul. (Inibaru.id/ Annisa Dewi)

Berebut isi gunungan menjadi prosesi penutup Nyadran Kali. Kalau beruntung, peserta bisa membawa pulang durian yang banyak diincar. Dari sekian isi gunungan, buah ini memang jadi buah paling besar! Ha-ha.

Hm, Nyadran Kali memang tradisi yang unik, kan? Baiklah, sampai jumpa tahun depan, Nyadran Kali! (Artika Sari/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: