BerandaPasar
Jumat, 10 Agu 2017 17:29

Daya Beli Masyarakat Indonesia Lesu, Belanja Daring Justru Naik Terus

Belanja daring. (Foto: smart-money. com)

Ditengah animo belanja daring masyarakat yang terus menggeliat, diprediksi hingga tahun 2025, digitalisasi ekonomi bisa memberikan nilai tambah hingga US$150 miliar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Inibaru.id - Di tengah klaim sejumlah kalangan yang menyatakan daya beli masyarakat menurun tahun ini, pasar daring ternyata menunjukkan hal yang berbeda, yakni terus bergeliat. Tokopedia, mengklaim, lesunya daya beli itu bahkan tak berimbas pada penjualan “mall” online tersebut.

Communications Lead Tokopedia, Siti Fauziah, mengaku, perusahaan tetap tumbuh, baik dari segi volume maupun transaksi. Bahkan Ia menyebutkan bahwa starup miliknya itu mampu menghasilkan trilliunan rupian dari penjualan.

"Bisnis kami tetap mengalami peningkatan di setiap tahunnya. Saat ini di Tokopedia terdapat jutaan merchants yang menghasilkan lebih dari Rp 1 triliun per bulan lewat lebih dari 40 juta produk siap dibeli dengan harga terbaik dan transparan," ungkapnya kepada Detikcom, baru-baru ini.

Ya, ekonomi digital Indonesia memang terus menggeliat. Meski belum berkontribusi besar dalam perekonomian tanah air, keadaan ini tentu menggembirakan.

Baca Juga: Intip Laju Perkembangan Startup di Indonesia

Dilansir dari Beritagar, Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo menyatakan, sepanjang 2016, orang Indonesia menghabiskan Rp 75 triliun buat belanja daring. Jika dipukul rata kepada 24,73 juta netizen dalam negeri, rata-rata mereka menghabiskan Rp 3 juta per tahun, hanya untuk belanja daring.

“Pertumbuhan perusahaan-perusahaan rintisan berbasis digital luar biasa, baik di sektor perdagangan barang dan jasa (e-commerce), moda pembayaran, maupun pembiayaan," ujar Agus, seperti dikutip dari CNNIndonesia.com.

Melihat angkanya yang fantastisini, Agus mengatakan bahwa pemanfaatan revolusi digital dalam kegiatan ekonomi masyarakat dapat mendorong pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 7 persen. Pada semester I tahun ini, pertumbuhan ekonomi di Indonesia saja mencapai 5,01 persen.

Saat ini investasi teknologi informasi di sektor-sektor pendorong pertumbuhan ekonomi, seperti sektor manufaktur atau pertambangan relatif masih rendah. Tapi investasi di sektor tersier seperti e-commerce dan fintech (layanan keuangan berbasis teknologi) lumayan nilainya.

"Diperkirakan mencapai US$1,7 miliar," ujar Agus seperti dikutip dari Kompas.com.

Dengan perkiraan kurs dolar sebesar Rp13.300, nilai investasi itu setara Rp 22,61 triliun. Agus menilai, investasi ini wajar digelontorkan mengingat besarnya jumlah pengguna aktif media sosial secara global yang tahun lalu menjadi 2,8 miliar pengguna. Media sosial menjadi salah satu sarana jual beli daring.

Baca Juga: Wah, Purwakarta Bakal Punya Hotel Gantung Tertinggi di Dunia

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) pada Maret 2016, daerah dengan persentase jual beli daring terbanyak ada di Kalimantan Timur. Sebanyak 23,11 persen warganya menjadi pelaku jual beli daring.

Menurut riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada 2016 komoditas yang paling banyak dibeli jual beli online adalah tiket. Sementara metode pembayaran yang paling banyak digunakan adalah transfer lewat ATM.

Dalam perkiraan Agus, hingga tahun 2025, digitalisasi ekonomi bisa memberikan nilai tambah hingga US$150 miliar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Angka tersebut setara dengan 10 persen perekonomian Indonesia.

Agus, mengutip studi firma riset konsultan McKinsey & Company tahun lalu, pertumbuhan ini bakal dibarengi dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja mencapai hampir 4 juta orang.

Namun peluang ini datang bukan tanpa tantangan. Ada beberapa hal yang membuat kemajuan digital belum bisa optimal.

Pertama, penetrasi internet di Indonesia tergolong masih rendah, yakni sekitar 51 persen pada tahun 2016 lalu.

"Angka ini relatif jauh di bawah negara-negara tetangga kita, seperti Malaysia yang penetrasinya 71 persen dan Thailand 67 persen," kata Agus.

Di negara maju, seperti Inggris dan Jepang, penetrasi internetnya sudah mencapai 90 persen.

Kedua, kualitas layanan internet yang relatif masih tertinggal bila dibandingkan dengan negara lain. Dan ketiga, investasi di bidang teknologi informasi yang masih tertinggal dibanding dengan negara lain. (GIL/IB)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: