BerandaPasar Kreatif
Sabtu, 27 Nov 2020 19:19

Produksi Rumah Arwah di Tengah Tradisi yang Mulai Retas, Bertahankah?

Ong Bing Hok, sang pengarjin Rumah Kertas dari Kota Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Dalam tradisi Tionghoa, rumah kertas menjadi sesembahan untuk para mendiang. Di Semarang, salah seorang pengrajin rumah-rumahan yang juga disebut sebagai rumah arwah ini, yang mungkin paling dikenal masyarakat, adalah Ong Bing Hok.<br>

Inibaru.id - “Dalam kepercayaan kami, orang meninggal rohnya juga harus diberi rumah,” begitulah kata Ong Bing Hok, pengrajin rumah kertas dari Kota Semarang, menyambut kedatangan saya. Lelaki paruh baya itu tengah duduk sembari mengamati pekerjaan pegawainya saat saya datang ke rumah produksinya.

“Kalau nggak dikasih rumah, arwahnya bisa tersesat,” sambungnya menerangkan rumah-rumahan yang juga biasa dinamai rumah arwah tersebut. Penjelasannya segera saya timpali dengan mengangguk dan tersenyum sebagai tanda mengerti.

Perlu kamu tahu, dalam tradisi Tionghoa, rumah kertas atau rumah arwah merupakan sesembahan yang dihadiahkan untuk kerabat yang sudah meninggal. Secara simbolik, hadiah ini kemudian "dikirim" ke mendiang dengan cara dibakar.

Di Semarang, turun-temurun keluarga Ong Bing Hok menjadi pembuat rumah arwah. Saat ini, dia adalah generasi ke-4 penerus usaha yang berlokasi di Gang Cilik, Kawasan Pecinan, Semarang Tengah, itu. Rumah Kertas Hok, namanya.

“Kakek buyut saya dulu asli Tionghoa. Kemudian melahirkan kakek saya yang merantau ke Indonesia,” jelasnya.

Rumah Kecil di Gang Cilik

Produksi Rumah Kertas di sebuah rumah kecil di Gang Cilik. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Menyambangi tempat produksi Rumah Kertas Hok, jangan membayangkan lokasinya adalah sebuah pabrik besar dengan gudang yang megah. Tidak! "Studio" produksi Ong hanyalah rumah kecil di salah satu sudut Gang Cilik, tepat di depan Klenteng Hoo Hok Bio.

Dari satu generasi ke generasi lain, di situlah tempatnya. Hm, saya pun sempat kaget dengan rumah produksi tersebut. Namun, di tempat itulah rumah kertas berbanderol jutaan rupiah dibuat. Di situ pula banyak orang menjadi pelanggan setianya.

Ong mengatakan, rumah arwah bikinannya terbuat dari kertas, bambu, dan lem gandum. Untuk kertasnya, dia menggunakan beberapa jenis, mulai kertas HVS, karton, buffalo, marmer, concorde, orin, dan masih banyak lagi.

"Semua kertas-kertas dipilih yang mudah melebur saat dibakar," terangnya.

Lelaki berkacamata itu juga mengimbuhi, yang paling penting dan bernilai dari sebuah rumah arwah bukanlah bahan-bahannya, melainkan cara dan lama pembuatannya. Untuk membuat satu rumah, ungkapnya, dibutuhkan ketelitian dan akurasi.

"Paling nggak semiggu (pembuatannya)," aku Ong. “Maka, (pemesanan) rumah ini nggak bisa diburu-buru. Harus jauh-jauh hari pesannya.”

Membuat Rumah dan Seisinya

Rumah Kertas terdiri dari berbagai ruangan dan perabotan rumah tangga. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Sebuah rumah arwah bikinan Ong dibanderol antara Rp 2 juta hingga Rp 10 juta. Perbedaan harga itu tergantung ukuran dan berbagai detail yang ada di dalam rumah tersebut.

Yap, selain rangka rumah, sebuah rumah arwah juga diisi dengan berbagai perabot dengan skala yang menyerupai rumah pada umumnya. Jadi, dalam pembuatannya, Ong juga perlu membuat perabot rumah tangga, mobil, hingga orang-orangan di dalamnya.

Selain itu, rumah kertas itu juga terdiri atas beberapa bagian. Di samping rumah utama, ada juga gunung-gunungan, gudang, dan tandu. Nah, detail-detail inilah yang membuat sebuah rumah arwah berharga mahal. Selain itu, rumah tersebut juga harus dipesan jauh-jauh hari.

Dalam tradisi Tionghoa, rumah kertas dibakar pada hari ke-40 pasca-kematian seseorang. Seharusnya, ada rentang waktu yang cukup untuk keluarga memesan rumah kertas. Namun, kadang ada pembeli yang memesan dadakan atau pengin secepat mungkin.

Untuk orang yang menginginkan kecepatan, Ong mengaku biasanya hanya akan memberi stok lama, bukan yang sesuai rekues.

"Kalau begitu, nggak bisa membuat bagus," kata dia, yang sejurus kemudian mengajak saya ke loteng rumahnya untuk melihat beberapa stok rumah kertas yang dimilikinya. Rumah kertas yang siap diantarkan juga disimpan di tempat tersebut.

Oya, dalam membuat rumah kertas, Ong mengaku punya satu pantangan. Rumah kertas yang dipesan, tuturnya, nggak boleh sama dengan rumah aslinya. Untuk yang satu ini, dia mengatakan pernah punya pengalaman kurang menyenangkan.

“Pernah ada yang (minta dibuatkan rumah dengan desain) sama. Setelah itu, rumahnya banyak gangguan,” kenangnya.

Orba, Pandemi, dan Generasi Selanjutnya

Butuh ketelitian dalam membuat Rumah Kertas. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Di Semarang, bisnis yang dijalankan keluarga Ong Bing Hok tampak baik-baik saja sekarang. Namun, bukan berarti usaha "Rumah Kertas Hok" itu selalu lancar. Selama Orde Baru, segala hal yang berhubungan dengan etnis Tionghoa sangat dibatasi, termasuk bisnis rumah arwah keluarganya.

“Dulu, zaman Pak Karno (Presiden Sukarno) bahkan masih ada sekolah Tionghoa. Setelah itu, nggak ada sampai sekarang,” keluh Ong.

Selama Indonesia dipimpin Soeharto, Ong menambahkan, kakek dan ayahnya mencoba bertahan dalam segala keterbatasan. Setelah rezim Orba lengser, situasinya baru perlahan membaik, bahkan kian benerang setelah dipimpin Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Saat ini, usaha rumah kertas milik lelaki yang kini berusia 71 tahun itu nggak hanya dikenal orang Semarang. Pembelinya juga datang dari kota-kota lain, sebut saja misalnya Wonosobo, Purwokerto, Magelang, dan Muntilan.

Rumah Kertas Hok didatangi pembeli karena kualitasnya yang terjaga. Kendati usaha rumah kertas kini sudah semakin banyak, Ong mengatakan, kebanyakan orang membuatnya dengan kualitas yang pas-pasan.

Namun demikian, dia nggak memungkiri, menjamurnya bisnis rumah kertas di Semarang dan sekitarnya juga memengaruhi pesanan di tempatnya. Terlebih, di tengah pandemi, pembatasan acara keagamaan pun kian menyurutkan jumlah pesanan rumah arwah di tempatnya.

Meski begitu, Ong mengaku bersyukur lantaran hingga kini bisnisnya masih bertahan. Tugasnya sekarang adalah mencari penerus, mengingat dia sudah nggak muda lagi.

“Ada (penerus), nanti anak saya. Tradisi kalau menurut saya, jangan sampai hilang. Harus diteruskan, meski nantinya akan berkurang,” pungkasnya.

Di tengah tradisi yang kian retas, semoga produksi rumah kertas nggak bernasib nahas! Kamu pernah menyaksikan pembakaran rumah arwah juga, Millens? (Audrian F/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: