BerandaPasar Kreatif
Jumat, 8 Feb 2018 01:46

Perpaduan Corak Jawa-Tiongkok dalam Lembaran Batik Tulis Lasem

Sejumlah Pembatik menyelesaikan proses membatik di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.(Antarafoto.com)

Batik tulis khas Lasem ini bukan batik biasa. Memiliki aneka kisah dan simbolisme dalam motifnya, tulis ini diburu para kolektor.

Inibaru.id – Kalau suka batik, kamu perlu berkunjung ke Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Di sana ada batik tulis khas yang sudah mendunia sebagai batik lasem.

Batik lasem ini memang menjadi salah satu batik tulis yang memiliki tingkat kerumitan cukup tinggi. Nggak heran kalau batik tulis lasem ini seringkali diburu para kolektor dari kelas menengah sampai atas.

Dengan tingkat kerumitan dan buruan kolektor, mahalkah harga batik tulis? Seperti ditulis Detiknews.com (2/10/2017) harga satu lembar batik tulis lasem bervariasi. Mulai dari harga ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah, bergantung atas motif batiknya dan jumlah warna yang digunakan. Paling murah berkisar Rp 100 ribuan, sedangkan yang memiliki kerumitan tinggi bisa mencapai Rp 25 juta. Wow lumayan juga ya harganya.

Hal itu juga nggak terlepas dari keunikan batik tulis lasem. Motif batik tulis lasem mendapat pengaruh corak simbolik tradisi Tiongkok yang bersanding dengan motif lokal. Salah satu ciri batik tulis yang masih digunakan yaitu motif Latohan. Motif ini merupakan motif batik yang bercorak tanaman latoh, sejenis ganggang yang banyak terdapat di Lasem. Sedangkan garis pembatas menggunakan gaya Tiongkok yang menjadi identitas batik tulis lasem.

Baca juga:
Menyulap Seonggok Akar Menjadi Kerajinan Bernilai Seni
Cari Sangkar Burung? Ke Wirun Saja

Tahu nggak Sobat Millens, motif dan narasi batik tulis lasem memiliki aneka kisah dan simbolisme yang diambil dari kisah sejarah, alam, dan perpaduan budaya Jawa-Tiongkok, lo.

Contohnya kisah dari motif Watu Kricak. Dilansir dari Nationalgeographic.co.id (8/12/2016) Rudy Siswanto, penerus rumah batik Kidang Mas, Babagan Lasem mengatakan, ”Watu Kricak itu ceritanya ya motif pecahan-pecahan batu masa pembuatan jalan raya pos Daendels dulu, sejarahnya kental ya. Belum lagi motif lainnya khas Babagan, seperti Kawung Mbagan, Kawung Suketan, Latohan, dan motif  Tiongkok. Tapi kalau ditanya apa makna-maknanya saya kurang paham.”

Ya, para pengusaha batik umumnya hanya mengikuti corak motif yang sudah ada tanpa mengetahui makna simbolik dari motif bersangkutan.

Oya, usaha batik tulis lasem ini masih berjaya. Kini banyak pelanggannya yang lebih tertarik dengan desain batik tulis kontemporer. Dikutip dari Detiknews.com (2/10/2017) beberapa kali Nur Rohman, pemilik Butik Najma di Desa Soditan Lasem, melayani pesanan batik dengan desain lebih modern tanpa meninggalkan ciri khas batik tulis lasem.

Baca juga:
Limbah Kulit Kerang Disulap Jadi Kerajinan Ciamik
Kacamata Kayu dari Tegal Ini Sudah Go International

“Kain batik satu ini yang memiliki desain khusus, biasa disebut kontemporer. Karena tidak hanya sebatas corak batik saja, tapi ada tema di dalamnya," ungkap Nur Rohman sambil menunjukkan kain batik berukuran sekira 2,5 x 1,5 meter.

Selain motifnya yang unik, batik tulis lasem juga dikenal dengan warna merahnya, Millens. Warna merah yang digunakan dalam motif  batik tulis lasem di sebut getih pitik atau darah ayam. Eits, tapi bukan darah ayam beneran lo. Pada zaman dulu, bubuk pewarna yang rata-rata dari Jerman atau Eropa itu dicampur dengan air sehingga warnanya mirip darah ayam. Tapi sekarang, warna merahnya agak beragam meskipun mirip dengan warna klasik khas Lasem. Warna merah yang mendominasi makin memperkuat gaya khas batik tulis lasem.(SR/SA)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

6 Mar 2026

Saking Bekunya Musim Dingin, Warga Laut Baltik Berseluncur dari Satu Pulau ke Pulau Lain

6 Mar 2026

Bukan Emas Lagi; MUI Jateng Ubah Patokan Nisab Zakat Profesi

6 Mar 2026

Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip versi Polrestabes Semarang

6 Mar 2026

Oksigen Banyak dari Laut, Terus Kenapa Masih Ribut Soal Hutan?

6 Mar 2026

Tiket Mudik Ludes 400 Ribu! Cek Tanggal Favorit dan Kereta Pilihan di Daop 4 Semarang Ini

6 Mar 2026

Wisata Alam Kalikesek Semakin Ramai, Warga Desa Sriwulan Dapat THR

7 Mar 2026

Masjid Fujikawaguchiko, Tempat Salat dengan Latar Spektakuler Gunung Fuji di Jepang

7 Mar 2026

Sahur Tanpa Nasi Cuma Makan Lauk, Beneran Bikin Kuat Puasa Seharian?

7 Mar 2026

Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Siapa yang Paling Tahan Lawan Pemanasan Global?

7 Mar 2026

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: