BerandaPasar Kreatif
Kamis, 2 Jun 2021 15:37

Jenama Lokal dan Thrift Shop 'Semarang Lokal Market', Perlukah Digelar Rutin?

Beberapa pengunjung memilih baju-baju thrift yang ada di Semarang Lokal Market. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Kehadiran Semarang Lokal Market pada awal Mei lalu tentu menjadi angin segar untuk industri kreatif di Kota Lunpia. Memadukan bazar clothing dengan musik lokal, festival kuliner, fashion show, sekaligus art performance, haruskah event ini digelar secara rutin?

Inibaru.id – Deretan pakaian warna-warni yang digantung rapi membuat satu sudut di MG Setos Hotel Semarang pada awal Mei lalu tampak seperti pusat perbelanjaan. Para pengunjung, yang kebanyakan anak muda, tampak khusyuk mencari pakaian yang akan mereka beli pada event Semarang Lokal Market tersebut.

Sebagian dari pakaian itu adalah produk lokal. Sebagaian lainnya merupakan baju bekas atau yang sekarang lebih dikenal sebagai pakaian preloved atau thrift. Nggak hanya pakaian, bazar clothing itu juga diisi dengan pergelaran musik lokal, festival kuliner, fashion show, hingga art performance.

Berlangsung pada 3-6 Mei 2021, Semarang Lokal Market adalah event lanjutan yang dibikin Makarya, salah satu agensi kreatif asal Kota Semarang. Anantyo Seto, founder Makarya cum inisiator Semarang Lokal Market mengatakan, event ini digelar sebagai semacam marketplace offline untuk Kota Lunpia.

"Teman-teman pelaku industri kreatif di Semarang rata-rata, kan, memang belum punya tempat atau space yang bisa memfasilitasi mereka,” terang Anantyo. "Semarang Lokal Market adalah wadah bagi brand lokal."

Beberapa pengunjung memilih baju flanel yang dijajakan di both event. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Berlangsung selama empat hari, Local Market Semarang terdiri atas 68 stand clothing yang sebagian di antaranya merupakan jenama lokal. Untuk lebih menarik minat pengunjung, Anantyo juga menggandeng Flea Market yang berisikan tenant-tenant pakaian bekas atau thrift shop.

“30 stand kami isi dengan thrift shop karena yang lagi happening memang barang thrift,” ujar Anantyo. "Namun, goal utama kami tetap produk lokal dan industri kreatif."

Nggak bisa dimungkiri, kendati produk lokal Semarang nggak kalah menarik, thrift shop tetap menjadi magnet bagi pengunjung. Ini terbukti dengan banyaknya pengunjung yang menyambangi thrift shop ketimbang stan produk lokal atau ruang kesenian yang juga disediakan di sana.

Namun, Anantyo berkilah, kala itu event kreatif di Kota Semarang sedang banyak banget, sehingga pengunjung pun terbagi ke sana. Dia juga memastikan, kalau event serupa memungkinkan untuk kembali digelar, produk lokal dan kesenian di Semarang bakal tetap ada.

“Kita harus sama-sama sabar dan konsisten. Merek lokal Semarang harus kuat karena potensinya besar,” tegasnya.

Perlukah Digelar Rutin?

Suasana Semarang Lokal Market yang ramai oleh pengunjung. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Hari pertama dibuka, Semarang Lokal Market dikunjungi sekitar 500-an pengunjung. Jumlahnya terus meningkat signifikan pada hari kedua, dan hampir dua kali lipat pada hari ketiga dan keempat. Dari gambaran tersebut, Anantyo meyakini, ada animo yang cukup tinggi pada perhelatan semacam ini.

"Traffic (pengunjung)-nya di luar ekspektasi, sih. Terus meningkat setiap hari," terang Anantyo dengan wajah semringah.

Anantyo mengaku sengaja menggratiskan event yang tergolong mewah tersebut untuk menarik minat pengunjung. Dia yang juga merupakan bagian dari Komite Ekonomi Kreatif Semarang memang tengah melakukan semacam riset terkait ketertarikan masyarakat pada industri kreatif di Kota Semarang.

Untuk masuk ke event ini, pengunjung memang diwajibkan melakukan mengisi data diri secara daring. Nah, berdasarkan riset, dia dan tim menyadari bahwa event semacam Semarang Lokal Market memang harus lebih sering diadakan.

Menurutnya, event ini penting digelar agar warga Semarang lebih melek dengan produk lokal, terutama produk lokal Semarang. Dia mengatakan, pihaknya juga mendapat penilaian postitif serta dukungan dari berbagai kalangan untuk menyelenggarakan event semacam itu secara rutin.

“Teman-teman pengin event ini digelar rutin, jadi ke depan kayanya kami bakal bikin per dua bulan, tapi mungkin bukan Semarang Lokal Market lagi. Beda nama dan konsep,” jelasnya.

Pertumbuhan industri kreatif pada akhirnya memang bukan cuma tentang pelaku, tapi merupakan satu paket yang juga berisi konsumen, pengemasan, distribusi, marketing, dan marketplace-nya. Jika event semacam Semarang Lokal Market bisa menyatukan semuanya, tentu bakal menarik kalau digelar rutin. Sepakat, Millens? (Kharisma Ghana Tawakal/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: