BerandaKulinary
Senin, 14 Des 2025 11:01

Menilik Jejak Legendaris Warung Kopi Wak Nasir di Lasem, Rembang

Sajian kopi di Warung Kopi Wak Nasir di Lasem, Rembang. (Ahmat Safman Alfarisi)

Berdiri sejak puluhan tahun silam, sajian kopi di Warung Kopi Wak Nasir di Lasem, Kabupaten Rembang, selalu ditunggu pelanggannya setiap hari.

Inibaru.id - Kalau kamu pernah main ke Lasem, Kabupaten Rembang, jangan lupa mampir ke sebuah warung kopi sederhana yang sudah berdiri hampir seabad, yaitu Warung Kopi Wak Nasir. Meski bentuknya cuma warung kayu mungil yang ada di pinggir sungai Desa Ngemplak, pesonanya nggak pernah pudar. Justru di sanalah cita rasa masa lalu terus bertahan agar tetap hidup.

Pagi hari adalah waktu paling seru di warung yang buka dari pukul 08.00 WIB sampai 20.00 WIB tersebut. Suasana biasanya ramai oleh para pekerja yang hendak berangkat, para tetangga yang ingin “pemanasan” dengan secangkir kopi, atau anak muda yang penasaran setelah melihat warung ini berseliweran di media sosial.

Wak Nasir, sang empunya warung yang kini berusia 56 tahun, selalu bergerak dengan ritme yang khas; tenang tapi cekatan. Tangan kanannya memegang sendok, tangan kirinya memegang cingkir, istilah khas Lasem untuk cangkir kecil.

Dalam sekejap, bubuk kopi yang diambil dari rantang blurik berwarna hijau itu terbang sebentar di udara sebelum mendarat mulus di cangkir. Ritual kecil ini sudah jadi tontonan tersendiri bagi pelanggan.

Yang bikin makin menarik, gaya menyeduh itu bukan gaya baru karena sudah diwariskan sejak zaman kakeknya, Mbah Toyib mengelola kedai tersebut sekitar 1920-an. Pada masa itu, Lasem sedang jaya-jayanya dalam industri galangan kapal.

Wak Nasir saat melayani pelanggan di warungnya. (Anwar Mf)

Ribuan pekerja mondar-mandir di kawasan pesisir, dan warung kopi milik Mbah Toyib menjadi tempat mereka singgah untuk sekadar melepas lelah. Saat Jepang masuk tahun 1942 dan industri itu meredup, warung ini ikut dipindah ke Ngemplak, lokasi yang kala itu juga ramai.

“Mbah Toyib memindahkan warung ke Desa Ngemplak, di pinggir sungai ini saat Jepang datang,” ucap Wak Nasir sebagaimana dinukil dari Suaramerdeka, Sabtu (6/12/2025).

Setelah beberapa dekade, usaha ini diwariskan Mbah Toyib ke istrinya, Mbah Mi. Baru pada tahun 1989, tongkat estafet berpindah ke Wak Nasir. Sejak itu, ia menjaga betul tradisi keluarganya dalam mengelola warung ini.

Kopi masih disangrai manual, air tetap dipanaskan dengan anglo, teko yang dipakai juga model lawas yang usianya mungkin lebih tua dari sebagian pelanggan. Soal camilan, memang sudah tak selengkap dulu, tapi pisang goreng dan rondo royal tetap setia menemani pengunjung.

Selama 30 tahun lebih, para pelanggan warung ini selalu berganti generasi. Zaman 90-an, warung ini jadi tempat nongkrong santri, kiai, aparat, sampai pekerja sarang burung walet. Sekarang, kamu bakal lebih sering melihat karyawan swasta, pegawai lembaga keuangan, atau anak muda yang sekadar ingin merasakan vibes klasik Lasem sambil menyeruput kopi lelet khas setempat.

Meski tamunya semakin beragam, satu hal tetap sama: suasana hangat yang membuat siapa pun betah duduk lebih lama dari rencana. Tidak heran kalau Warung Kopi Wak Nasir bukan sekadar tempat minum kopi, tapi titik temu antara masa lalu Lasem dan warganya hari ini.

Jadi, kapan nih kita main ke Warung Kopi Wak Nasir di Lasem, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: