BerandaKulinary
Sabtu, 17 Jan 2025 17:48

Memasak Wajik untuk Hajatan; Lelaki Mengaduk, Perempuan Meracik

Wajik, jajanan klasik bercita rasa legit yang saat ini mulai sulit ditemukan di pasaran. (Inibaru.id/ Sekarwati)

Saat membuat wajik untuk acara hajatan, masyarakat Dukuh Lempuyang, Desa Surjo, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang biasa berbagi tugas; para perempuan kebagian meracik, sedangkan lelaki mengaduk adonan.

Inibaru.id – Wajik diyakini sebagai kudapan klasik yang sudah ada sejak Zaman Majapahit. Ada masa ketika jajanan bercita rasa legit ini banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional. Namun, kini wajik mulai jarang ditemukan, kecuali saat ada hajatan.

Begitu jarang ditemukan di pasaran bukan berarti penganan berwarna cokelat tua yang kadang dimodifikasi menjadi hijau dan merah tersebut nggak banyak diminati. Bagi orang Jawa, wajik tetaplah istimewa, karena merupakan sajian wajib yang harus ada di resepsi pernikahan atau upacara tradisional lainnya.

Mungkin karena proses pembuatan yang tricky dan memakan waktulah yang membuat orang-orang segan memproduksi sendiri lalu menjualnya di pasar. Harga jualnya juga nggak terlalu tinggi; nggak jauh berbeda dengan penganan modern yang cara bikinnya jauh lebih praktis dan singkat.

Membuat penganan berbahan dasar beras ketan ini memang bukan pekerjaan mudah. Prosesnya lama, tenaga yang dibutuhkan besar, dan perlu ketelatenan untuk memperoleh hasil yang memuaskan; yang pulen, nggak lengket, dan legit saat digigit.

Dimasak selama Dua Hari

Pengalaman membuat wajik belum lama ini saya lakoni, saat menggelar mitoni atau syukuran tujuh bulan masa kehamilan saya di Dukuh Lempuyang, Desa Surjo, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Kesan saya, prosesnya sungguh melelahkan, tapi hasilnya memuaskan.

Pembuatan wajik di desa kami membutuhkan waktu dua hari dua malam. Hari pertama dihabiskan untuk membuat minyak kelapa, lalu hari berikutnya untuk memasak adonan wajik.

Munah tengah menakar resep pembuatan wajik untuk hajatan mitoni di Dukuh Lempuyang, Desa Surjo, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. (Inibaru.id/ Sekarwati)

Munah, salah seorang juru masak kami mengatakan, bahan baku utama pembuatan wajik hanyalah empat macam, yakni beras ketan, minyak kelapa, gula merah, dan gula pasir. Namun, untuk mengolahnya nggak bisa dilakukan seorang diri.

"Pembuatan wajik dibagi menjadi dua tim, terdiri atas dua orang peracik dan empat orang pengaduk," terang Munah. “Tim pengaduk harus laki-laki, karena butuh tenaga ekstra untuk mengaduk ketan.”

Memakai Tungku Kayu

Meski yang terlibat dalam persiapan hajatan kami cukup banyak, tim peracik tetaplah para lansia. Mungkin karena cuma mereka yang benar-benar mengetahui takaran resepnya, yang biasanya merupakan warisan turun-temurun.

Kalaupun ada anak muda yang turut serta, biasanya mereka hanya membantu saat membuat minyak kelapa. Di Batang, Munah menerangkan, wajik biasanya masih menggunakan cara tradisional, termasuk untuk membuat minyak kelapa sendiri.

Memasak wajik lebih disarankan menggunakan tungku kayu karena membutuhkan waktu yang cukup lama. (Inibaru.id/ Sekarwati)

"Kami masih pakai tungku kayu; tujuannya agar api lebih terkontrol dan wajik punya aroma yang khas," akunya.

Selain itu, tungku kayu dipilih juga untuk alasan penghematan. Munah menyebutkan, jika memakai kompor gas, sekali masak wajik bisa menghabiskan 2-3 tabung melon.

Dimulai dengan Membuat Minyak Kelapa

Proses pengolahan wajik dimulai dengan membuat minyak kelapa. Munah mengatakan, minyak kelapa itulah bahan inti dari pembuat wajik. Sebanyak tujuh kelapa tua diparut, lalu diberi air dan diperas menjadi santan, menghasilkan sekitar tujuh liter santan.

"Santan kemudian dimasak di atas wajan selama kurang lebih tiga jam hingga mengeluarkan minyak," jelasnya. "Proses ini harus dilakukan paling awal, karena menjadi inti dari pembuatan wajik."

Setelah minyak kelapa jadi, Munah melanjutkan, barulah beras ketan dikukus hingga matang atau tanak. Kemudian dilanjutkan dengan memasak ketan bersama minyak kelapa, gula pasir, dan gula merah.

"Takaran gulanya sesuai selera. Nah, di sinilah pengalaman peracik diuji," kelakar Munah.

Memasak saat Tengah Malam

Wajik yang sudah matang dipindahkan dari wajan ke penampan untuk didinginkan sebelum dipotong-potong untuk dibagikan ke tetangga. (Inibaru.id/ Sekarwati)

Oya, ada satu kebiasaan menarik saat memasak wajik di Batang. Munah menuturkan, proses pembuatan wajik biasanya dilakukan saat tengah malam. Alasannya, menyesuaikan waktu luang para tukang masak dan menjaga kualitas wajik agar tetap fresh saat mau disajikan.

"Bagian (memasak wajik) ini umumnya dipegang para lelaki. Sambil menunggu racikan selesai, mereka biasa duduk-duduk di beranda rumah hingga pasukan komplet; ngopi-ngopi sembari menyiapkan tenaga," ujarnya.

Meski kesannya "cuma" mengaduk, proses ini nggak boleh dilakukan asal-asalan, lo. Adonan wajik harus diaduk searah biar merata dan nggak tumpah. Mengaduknya juga kontinyu, terus-menerus hingga adonan mengental dan berwarna kecokelatan, menandakan wajik sudah matang.

"Jika sudah matang, adonan dituang ke dalam tampah berukuran sedang, lalu dipotong-potong (berbentuk jajaran genjang/ wajik) untuk dibagikan ke tetangga," tandas Munah, yang kemudian mempersilakan saya mencicipi buah karyanya tersebut.

Wajik yang saya cicipi bertekstur kenyal, lembut, tapi nggak lengket di tangan saat dipegang. Aromanya harum dengan rasa legit yang seimbang, nggak bikin enek. Mewah banget. Kamu harus coba!

Eh, kalau menurut kamu, penganan manis seperti wajik ini paling cocok dinikmati pas momen apa, Millens? (Sekarwati/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: