BerandaKulinary
Senin, 16 Apr 2023 14:00

Inovasi Aunil Fadlilah agar Roti Ganjel Rel Kembali Diminati Orang Semarang

Pemilik Omah Ganjel Rel Aunil Fadlilah sedang meramu adonan roti legendaris ganjel rel. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Tampilan yang padat dan keras sesuai namanya yakni 'bantalan rel kereta' membuat Roti Ganjel Rel kurang berterima sehingga berada di ujung kepunahan. Namun, inovasi Aunil Fadlilah membuat keik legendaris dari Semarang ini kembali diminati masyarakat.

Inibaru.id - Selain dibagikan cuma-cuma pada event menyambut Ramadan di Semarang Dugderan, Roti Ganjel Rel bukan lagi barang langka. Kini, keik legendaris itu bisa dengan mudah kita temukan di toko oleh-oleh. Beberapa produsen kue rumahan di Kota Lunpia juga memproduksinya secara rutin.

Saat ini, salah satu kue ganjel rel yang paling masyhur adalah bikinan Aunil Fadlilah, pemilik jenama Omah Ganjel Rel. Dialah yang rutin menyuplai keik berwarna kecoklatan tersebut untuk Masjid Agung Kauman, panitia penyelenggara Dugderan, hingga sekarang.

Bahkan, nggak berlebihan menyanjung sosok paruh baya tersebut sebagai salah satu orang yang paling berjasa membuat penganan legendaris yang terinspirasi dari kue khas Belanda Onbitjkoek itu kembali diminati orang Semarang setelah nyaris punah pada awal 1990.

Aunil bercerita, keik yang sudah dikenal masyarakat sejak zaman kolonial Belanda itu mulai sulit ditemukan sekitar awal 1990-an. Pasar tradisional dan toko kue yang biasanya menyediakan keik ini mulai mencoret ganjel rel dari daftar jualan mereka karena kurang diminati.

Ganjel Rel dan Tradisi Dugderan

Pegawai di Omah Ganjel Rel sedang menaburkan wijen di atas adonan basah roti ganjel rel. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Hal itu terus berlangsung hingga tahun-tahun berikutnya. Melihat situasi ini, Pemkot Semarang pun mencoba menginisiasi pelestarian keik beraroma rempah tersebut dengan memperkenalkan ganjel rel lewat tradisi Dugderan pada 2009.

"Pengurus Masjid Agung Kauman dan Wali Kota Semarang kala itu meminta saya membuat ganjel rel untuk dibagikan ke masyarakat," kenang Aunil kepada Inibaru.id beberapa waktu lalu. "Padahal, nggak pernah sekalipun terbesit dalam bayangan saya membuat kue ini. Sama sekali nggak ada gambaran."

Menurut Aunil, dia diberi kepercayaan ini karena para pengurus Masjid Kauman tahu kemampuannya membuat roti. Kala itu, Aunil dan suami juga menjadi bagian dari kepengurusan masjid yang berlokasi di Kompleks Kota Lama tersebut.

"Dari situ, saya mulai tanya ke beberapa orang tua, roti ganjel rel sebaiknya seperti apa?" jelas Aunil. "Nah, kebetulan keluarga paman yang tinggal di sejualan jajan pasar, termasuk ganjel rel. Ya sudah, saya minta resep mereka."

Enam Varian Berbeda

Aunil Fadlilah sedang mengangkat roti ganjel rel yang telah dimasukkan ke dalam oven. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Karena nggak tahu rasa dan tekstur seperti apa yang bisa diterima masyarakat, Aunil pun memutuskan untuk membuat roti ganjel rel dalam enam variasi berbeda, baik dari segi rasa, tekstur, maupun tingkat kepadatan.

"Pas dibagikan, banyak yang komentar, salah satunya ada yang bilang terlalu bantet. Namun, akhirnya ada satu yang dipilih untuk jamuan Dugderan," ujar Aunil.

Saat roti ganjel rel dibagikan ke masyarakat, respons mereka kebanyakan positif. Aunil pun banyak diwawancarai media, bahkan sempat diminta Dinas Kependudukan Kota Semarang untuk mengisi pelatihan membuat roti ganjel rel bagi masyarakat umum.

"Dari situlah lahir para pembuat ganjel rel baru. Saya ikut bangga melihatnya," tutur perempuan bersahaja ini.

Bereksperimen dan Berinovasi

Hingga sekarang, Aunil Fadlilah nggak berhenti melakukan eksperimen dan inovasi demi mendapatkan resep roti ganjel rel terbaik. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Kendati niat awal Aunil membuat ganjel rel, yakni melestarikan kekayaan kuliner Semarang, sudah terpenuhi, dia mengaku nggak mau berpuas diri. Perempuan berkaca mata tersebut memilih terus melakukan eksperimen dan inovasi agar keik ini bisa diterima semua kalangan.

"Misal, kue yang semula pakai gula jawa, saya ganti dengan gula palem. Terus, teknik produksi saya modernisasi pakai mixer dan pengaturan temperatur suhu. Saya juga perhatikan tekstur dan nilai gizinya."

Pada 2017, Aunil memutuskan memproduksi ganjel rel untuk dijual dalam skala kecil. Di tahun berselang, melalui pelatihan pengembangan UMKM yang diikutinya, dia mulai paham gimana pengemasan yang baik, cara pemasaran online, dan gimana cara menjaga kualitas rasa.

Setelah itu, Aunil mulai memberanikan diri memproduksi ganjel rel skala besar. Dalam seminggu, dia mengaku bisa memproduksi roti ganjel hingga tiga kali produksi, dengan tiap produksi menghasilkan 49 loyang ganjel rel berbentuk balok panjang.

"Untuk sekarang, saya pilih fokus jualan via marketplace, selain melayani pembeli dari luar kota yang datang ke ruamah," tandasnya.

Kelahiran kembali roti ganjel rel untuk masyarakat Semarang tentu harus kita syukuri karena seperti kata Aunil, keik ini adalah kekayaan kuliner yang sebaiknya terus dilestarikan dan menjadi bagian dalam keseharian masyarakatnya. (Fitroh Nurikhsan/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: