BerandaInspirasi Indonesia
Kamis, 14 Jan 2026 13:31

Kisah Mak Kucing, Ibu Puluhan Kucing Jalanan di Kota Lama Semarang

Sosok Subae'ah atau kerap dijuluki Mak Kucing saat sedang memberi makan kucing liar di kawasan Kota Lama Semarang. (Inibaru.id/ Sundara)

Dijuluki sebagai Mak Kucing, Subae’ah mendedikasikan hidupnya untuk merawat puluhan kucing tanpa tuan yang bersembunyi di lorong-lorong Kota Lama Semarang. Bagaimana kisahnya?

Inibaru.id - Di tengah bangunan tua dan arus wisata Kota Lama Semarang yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terselip kisah tentang kepedulian seorang perempuan yang tertoreh di ruang sunyi yang acap luput dari perhatian.

Subae'ah namanya, tapi dia lebih dikenal luas sebagai Mak Kucing. Bukan tanpa alasan orang-orang menjulukinya demikian, karena sehari-hari dia memang "mengabdikan diri" untuk merawat puluhan kucing yang terserak di jalanan kawasan wisata heritage tersebut.

Sepanjang hari, di tengah kesibukannya berkerja sebagai penyedia jasa foto untuk para pengunjung Kota Lama, perempuan 52 tahun itu akan menyusuri setiap lorong dan taman di lokawisata tersebut sembari menjinjing pakan untuk memastikan kucing-kucing liar itu tetap hidup, aman, dan kenyang.

Mak Kucing tinggal di bilangan Kebonharjo, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, sekitar dua kilometer saja dari Kota Lama. Dia mengatakan, kecintaanya pada binatang sudah tumbuh sejak lama, jauh sebelum merawat kucing liar di kompleks wisata itu.

Ditinggal Anjing Piaraan

Mak Kucing bercerita, jauh sebelum fokus merawat kucing-kucing liar di Kota Lama, dia pernah memelihara seekor anjing bernama Pleki. Anjing piaraan itu menemaninya selama bertahun-tahun sebelum tertabrak kendaraan hingga meregang nyawa pada 2015.

Kehilangan itu meninggalkan duka mendalam, tapi sekaligus menjadi titik balik empatinya. Sejak peristiwa tersebut, perhatian Subae’ah mulai tertuju pada kucing-kucing jalanan yang hidup tanpa perlindungan di kawasan Kota Lama.

"Sesaat setelah kehilangan Pleki, saya melihat seekor anak kucing berusia sekitar tiga minggu yang kehujanan di Taman Srigunting. Saya ambil dan rawat hingga berkembang biak. Dari situlah awalnya," ujarnya kepada Inibaru.id, Selasa (13/1/2026).

Subae'ah juga menyediakan rumah kucing yang diletakkan tak jauh dari Taman Srigunting Kota Lama Semarang. (Inibaru.id/ Sundara)

Sejak itulah Subae’ah mulai menempatkan kucing-kucing liar sebagai bagian dari hidupnya. Hampir setiap hari dia akan mengelilingi kawasan Kota Lama untuk memberi makan dan memastikan mereka aman, seakan dirinya adalah ibu bagi puluhan anabul tanpa pemilik tersebut.

"Yang saya rawat kucing di jalanan se-Kota Lama. Saya keliling-keliling, lalu kasih makan kucing yang saya temui sampai Polder Stasiun Tawang," kata dia sembari menunjuk ke arah Stasiun Tawang.

Sediakan Shelter Sementara

Perhatian Subae’ah terhadap kucing bukan hanya terbatas pada makanan. Dia juga menyediakan shelter sementara untuk kucing yang diletakkan di samping Taman Srigunting. Shelter outdoor berbahan kain itu rutin dia bersihkan alasnya dan diganti pasirnya agar kucing-kucing itu bisa hidup lebih layak.

Meski penghasilan dari jasa fotonya nggak menentu, Subae’ah selalu menyisihkan uang untuk membeli pakan kucing. Dia mengaku nggak jarang memilih menahan lapar demi memastikan anak-anak bulu itu tetap makan dan terurus dengan baik.

"Karena saya anggap sebagai anak sendiri, meski kucing jalanan, saat ada salah satu dari mereka yang luka karena tertabrak kendaraan juga saya bawa ke klinik," jelasnya. "Saya memang tidak punya anak, jadi kucing-kucing itulah anak saya. Jadi, selama sehat dan diberi umur, saya akan tetap merawat mereka."

Di tengah Kota Lama yang terus mematut diri, Subae’ah memilih jalan sunyi untuk menemani puluhan makhluk yang sering luput dari perhatian. Kalau kebetulan bertemu dengan Mak Kucing, jangan sungkan untuk menyapanya ya, Gez! (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Rahasia Matematika di Balik Motif Batik, dari Simetri hingga Pola Fibonacci

16 Mei 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan Pameran Seni Kontemporer “Episentrum”

16 Mei 2026

Nyandhang Tradisi untuk Menjaga Ingatan Batik Kudus

18 Mei 2026

9 WNI dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza Dicegat Israel, Ada Wartawan Media Nasional

19 Mei 2026

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

29 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: