BerandaInspirasi Indonesia
Minggu, 28 Sep 2019 09:56

Aksi Damai Jeda Untuk Iklim Semarang Serukan Keprihatinan Terhadap Laju Perubahan Iklim

Para orang tua juga mengajak anaknya untuk ikut aksi Jeda untuk Iklim. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Ratusan massa termasuk anak-anak menyuarakan bahaya perubahan iklim yang semakin "gila" khususnya di Indonesia. Uniknya acara ini didominasi oleh penampilan dan orasi anak-anak di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah Ini.

Inibaru.id - Ratusan orang berkumpul di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Jumat (27/9) pagi. Massa yang berasal dari berbagai komunitas ini mengkampanyekan pentingnya memperlambat laju perubahan iklim. Gerakan yang menamakan diri sebagai Jeda Untuk Iklim Semarang ini mendorong kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro-lingkungan.

Koordinator aksi, Ellen Nugroho mengatakan kegiatan ini merupakan aksi global yang juga dilakukan di berbagai kota di Indonesia seperti Yogyakarta, Jakarta, dan Jambi. “Kita ingin isu global ini harus dibumikan menjadi isu lokal,” kata Ellen.

Mewakili massa aksi, Ellen mengatakan kini kondisi bumi sudah sangat mengkhawatirkan. “Suhu bumi sudah naik 1,1 derajat celsius, padahal kalau suhu bumi naik sampai 1,5 derajat kita akan masuk ke dalam pusaran bencana yang nggak habis-habisnya,” lanjutnya.

Sekitar 200-anorang mengikuti aksi Jeda Untuk Iklim Semarang dengan tertib dan damai. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Aksi yang dimulai dengan pawai dari masjid Raya Baiturrahman hingga Kantor Gubernur Jawa Tengah itu berjalan tertib dan damai. Nggak cuma orang dewasa yang ikut aksi, kata Ellen, ada sekitar 80-an anak yang bergabung.

Dengan menggunakan poster warna-warni dari kardus bekas yang menyerukan semangat cinta lingkungan, ratusan masa aksi ini bertahan di bawah teriknya matahari. Nggak cuma itu, inti acara yang berupa penampilan dari anak-anak juga menjadi pemandangan menarik.

Aksi juga diikuti oleh anak-anak yan membawakan berbagai penampilan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Didominasi Anak-Anak

Berbagai siswa SD hingga SMA menampilkan berbagai kesenian seperti pembacaan puisi, menari serta bernyanyi bersama hingga menyampaikan orasi layaknya orang dewasa. Ellen membenarkan aksi ini didominasi oleh aksi anak-anak. “Yang akan bersuara adalah anak-anak karena anak-anak akan mewarisi bumi di masa depan. Maka ini adalah panggung untuk mereka untuk meyampaikan kegelisahan dan kekhawatiran tentang masa depan,” terang ibu 3 anak ini.

Menurut Ellen, saat ini bencana kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan menyumbang emisi karbon yang sangat banyak. “Peringkat Indonesia langsung naik sebagai peringkat penyumbang emisi terbesar di bumi,” sambungnya.

Siswa SD YSKI ini menampilkan puisi serta bernyanyi bersama sebagai bentuk keprihatinan mereka. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Menurutnya, anak-anak yang terlibat sudah lama peduli tentang sampah plastik bahkan kebakaran hutan. Meski beberapa anak masih mengandalkan orang tua dalam mempersiapkan penampilan mereka, tapi ada juga yang lantang menyuarakan aspirasi mereka Seperti Roetji dan Gandhi.

Roetji berorasi dengan menceritakan alam sekitar. “Alam telah marah sama kita!” teriak Rutji di sela orasinya. Sedangkan Gandhi membacakan suratnya kepada presiden.

Tambah khawatir nggak sih sama perubahan iklim yang semakin ekstrem ini? Nah apa nih langkah nyatamu untuk memperlambat laju perubahan iklim di bumi, Millens? (Zulfa Anisah/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Temuan Prasasti di Klaten Bukan yang Pertama, Diduga Terhubung dengan Dua Prasasti Era Kolonial

18 Jun 2026

AMSI Dorong Kolaborasi Media untuk Menghadirkan Informasi Iklim yang Lebih Kredibel

19 Jun 2026

Kenapa Harga Pertamax Belum Turun Meski Ada Penurunan Harga Minyak Dunia? Ini Faktor yang Mempengaruhinya

20 Jun 2026

Mengapa Kebo Bule Selalu Hadir dalam Kirab Malam 1 Suro? Begini Sejarah dan Maknanya

21 Jun 2026

Melihat yang Luput: Dari Kudus, Festival Film Anak Bangsa Menyalakan Ruang Bagi Cerita-Cerita Kecil

22 Jun 2026

Kenali Ciri-Ciri Petugas Sensus Ekonomi 2026 Asli, Jangan Sampai Tertipu Oknum Mengatasnamakan BPS

23 Jun 2026

B50 Siap Beredar Juli 2026, Pemerintah Optimistis Tak Perlu Lagi Impor Solar

24 Jun 2026

Mendag Tegaskan NIB untuk Penjual Online Bukan untuk Pungutan Pajak

25 Jun 2026

5 Alasan Penting Mengapa Anda Harus Mengunjungi Dunia Fantasi Ancol Tahun Ini

25 Jun 2026

Dasun di Lasem, Galangan Kapal yang Pernah Menopang Armada Majapahit hingga Demak

26 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: