BerandaHits
Jumat, 18 Jun 2026 13:20

Temuan Prasasti di Klaten Bukan yang Pertama, Diduga Terhubung dengan Dua Prasasti Era Kolonial

Ilustrasi batu lingga bertulis "Palyangan" yang ditemukan di Dukuh Jogodayoh Lor, Klaten, diduga menjadi bagian dari rangkaian penanda wilayah kuno yang telah tercatat sejak abad ke-19. (Chatgpt AI)

Prasasti bertuliskan "Palyangan" yang ditemukan di Klaten diduga memiliki keterkaitan dengan dua prasasti serupa yang ditemukan pada masa kolonial Belanda di wilayah sekitar.

Inibaru.id – Penemuan batu lingga bertulis di Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, membuka lembaran baru dalam penelusuran sejarah Klaten. Menariknya, prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 Masehi itu ternyata memiliki kemiripan dengan dua prasasti lain yang ditemukan pada masa kolonial Belanda.

Dua prasasti tersebut ditemukan di Srago dan Mudal, dua wilayah yang lokasinya tak jauh dari tempat ditemukannya prasasti Jogodayoh Lor. Dukuh Srago yang kini masuk Kelurahan Mojayan berada sekitar satu kilometer di sebelah barat lokasi temuan terbaru. Sementara Dukuh Mudal yang kini masuk Desa Karanganom, Kecamatan Klaten Utara, berjarak sekitar satu kilometer di sebelah utara.

Kemiripan tersebut bukan sekadar soal lokasi. Berdasarkan catatan arkeolog Belanda Dr. J.L.A. Brandes dalam buku Oud-Javaansche Oorkonden terbitan 1913, prasasti Srago dan Mudal memiliki bentuk fisik serta tulisan yang serupa dengan prasasti yang baru ditemukan di Jogodayoh Lor.

Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi, mengatakan kedua prasasti itu sudah tercatat sejak akhir abad ke-19.

"Prasasti Srago ditemukan tahun 1886 dan prasasti Moedal tahun 1888. Untuk yang Mudal prasastinya hilang di Jonggrangan sebagaimana laporan Brandes itu," kata Hari seperti dilansir dari Detik Jateng.

Menurut Hari, kesamaan paling mencolok terletak pada tulisan yang tertera pada ketiga prasasti tersebut, yakni kata "Palyangan".

"Aksaranya sama (Jawa kuno) abad 9-10 Masehi, mirip Jawa Timur tapi cuma dibikin lebar, melesak ke bawah," ujar Hari.

Dalam laporan Brandes disebutkan bahwa prasasti Mudal ditemukan di area persawahan dan dalam kondisi tidak utuh. Batu lingga tersebut kemudian dipindahkan ke lingkungan perkebunan indigo Jonggrangan milik administratur Belanda bernama Van der Spek.

Meski sebagian batu dan tulisannya telah rusak, salinan prasasti yang dikirim kepada Brandes menunjukkan satu kata yang masih dapat dibaca, yakni "Palyangan".

Sayangnya, keberadaan prasasti Mudal kini tidak diketahui lagi. Menurut Hari, benda tersebut hilang setelah dipindahkan ke Jonggrangan.

Berbeda dengan prasasti Mudal, prasasti Srago masih dapat ditelusuri keberadaannya hingga sekarang. Temuan yang dilaporkan dalam rapat Bataviaasch Genootschap pada 1886 itu kemudian dibawa ke Batavia dan kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Hari menjelaskan bahwa prasasti tersebut berbentuk silinder pendek dengan bagian atas menyerupai kerucut dan alas berbentuk persegi.

"Berbentuk silinder pendek dengan bagian atas kerucut, alas persegi, tinggi 75 sentimeter dan diameter 36 sentimeter. Pada bagian samping tengah silinder juga tertulis tulisan Jawa kuno, berbunyi Palyangan," sebut Hari.

Menurutnya, kemiripan antara prasasti Srago, Mudal, dan Jogodayoh Lor sangat kuat, baik dari bentuk fisik, ukuran, maupun tulisan yang digunakan.

"Prasasti Mudal hilang saat dibawa administratur pabrik Jonggrangan, hilang tapi sudah dicatat Brandes. Bacaan aksaranya sama yaitu palyangan, bentuk aksaranya juga sama, bentuk fisiknya juga sama. Jadi ada kesinambungan dua prasasti tersebut dengan prasasti yang kemarin ditemukan di Dukuh Jogodayoh. Terlebih jarak Jogodayoh Lor, Srago, Mudal, itu tidak terlalu jauh," ungkap Hari.

"Secara fisik ukuran dan bentuk prasasti ketiganya hampir sama, Srago dan Mudal itu tinggi 75 sentimeter dan Jogodayoh Lor sekitar 80 sentimeter, bentuknya dwibagha juga, kubus di bawah dan atas silinder yang ada aksaranya tersebut," pungkas Hari.

Apa Arti Palyangan?

Mengutip Detik Jateng, sebelumnya, epigraf Goenawan A Sambodo memperkirakan prasasti Jogodayoh Lor berasal dari abad ke-9 Masehi berdasarkan bentuk aksaranya.

"Kisaran abad 9 Masehi kalau dari penglihatan saya berdasar bentuk aksaranya," kata epigraf Goenawan A Sambodo.

Goenawan juga telah mencoba membaca tulisan yang terukir pada lingga tersebut.

"Untuk aksara Jawa kuno, terbaca sementara seperti yang sudah ditulis Mas Yoan (pegiat sejarah Klaten) di Facebooknya. Artinya belum pasti masih dalam proses pencarian," kata Goenawan.

Sementara itu, pegiat sejarah Klaten Yohanes Sudaryanto menduga kata "Palyangan" kemungkinan merujuk pada nama sebuah wilayah pada masa lalu. Namun hingga kini belum ada kepastian mengenai arti sebenarnya.

"Palyangan, mungkin nama sebuah wilayah, mungkin ya," ungkap pria yang akrab disapa Yoan itu kepada detikJateng.

Menurut Yoan, lingga bertulis tersebut bisa jadi merupakan penanda batas wilayah yang pada masa lampau tersebar di beberapa titik.

"Jadi belum bisa diartikan. Tapi saya sempat mencari tahu, secara harfiah dalam bahasa Sansekerta, kata Palyangan tidak ditemukan sebagai kosakata baku yang memiliki arti tunggal," kata Yoan.

Temuan terbaru di Jogodayoh Lor pun menjadi petunjuk penting bagi para peneliti untuk mengungkap misteri "Palyangan" yang sudah muncul dalam catatan sejarah Klaten sejak lebih dari 130 tahun lalu. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: