BerandaHits
Senin, 21 Sep 2025 15:01

Menjadi Orang Tua Berwibawa dengan Pola Asuh Otoritatif

Ilustrasi: Ketegasan yang disertai komunikasi yang baik dengan anak menjadi kunci dari pola asuh otoritatif. (Excelsior)

Memadukan disiplin dengan kehangatan, pola asuh otoritatif nggak hanya mampu mempersiapkan anak untuk lebih mandiri, tapi juga membantu orang tua untuk membangun hubungan yang sehat dengan buah hati.

Inibaru.id - Setiap orang tua tentu ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan bertanggung jawab. Namun, gaya pengasuhan yang dipilih seringkali menjadi faktor penentu, apakah tujuan itu tercapai atau justru sebaliknya.

Salah satu gaya pengasuhan yang banyak direkomendasikan oleh para pakar psikologi adalah authoritative parenting atau pola asuh otoritatif. Berbeda dengan gaya otoriter (authoritarian) yang keras atau permisif (permissive) yang longgar, gaya ini memadukan disiplin dengan kehangatan atau aturan dengan empati.

Konsep gaya pengasuhan otoritatif kali pertama dipopulerkan oleh psikolog perkembangan Diana Baumrind pada 1960-an. Dalam penelitiannya, Baumrind mengidentifikasi tiga gaya pengasuhan utama, yakni otoriter, permisif, dan otoritatif.

Konsep pengasuhan ini kemudian diperdalam melalui penelitian lanjutan yang dilakukan oleh Maccoby & Martin (1983) dengan menekankan dimensi "kontrol" dan "kehangatan".

Ciri-Ciri Pola Asuh Otoritatif

Hasil penelitian lanjutan menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoritatif cenderung memiliki keterampilan sosial yang lebih baik, kemampuan teknis lebih tinggi, serta kesehatan mental yang lebih stabil.

Lalu, bagaimana cara menerapkan pola asuh otoritatif? Sebelum menjawab pertanyaan itu, kamu perlu lebih dulu mengetahui ciri-ciri pola asuh otoritatif ini. Menurut Baumrind, gaya parenting yang juga biasa disebut pola asuh berwibawa ini memiliki beberapa ciri utama:

  1. Aturan yang jelas. Maksudnya, orang tua menetapkan standar dan batasan yang diucapkan, ditunjukkan, atau ditampilkan dengan jelas serta dilakukan secara konsisten.
  2. Mengutamakan kehangatan emosional. Dengan memberikan ruang bagi anak untuk berbicara dan emosinya diakomodasi, mereka akan merasa didengar dan dihargai pendapatnya.
  3. Ada komunikasi dua arah. Nggak hanya memberi ruang, tapi orang tua juga mendorong adanya diskusi dan memberi alasan di balik aturan yang diberikan.
  4. Keseimbangan kontrol dan kebebasan. Anak diberi ruang untuk mandiri, tapi tetap berada dalam pengawasan orang tua.
  5. Konsistensi. Aturan nggak berubah-ubah secara mendadak, sehingga anak merasa aman. nyaman dengan rutinitas, serta tahu apa yang diharapkan.

Otoritatif vs Otoriter

Ilustrasi: Meski sama-sama menekankan aturan yang jelas, pola asuh otoriter dengan otoritatif adalah dua hal yang berbeda. (Imom)

Meski sekilas mirip, karena sama-sama menekankan aturan yang jelas, pola asuh otoriter dengan otoritatif adalah dua hal yang berbeda. Baumrind menegaskan, perbedaannya terletak pada "komunikasi" dan gimana cara menerapkan aturan itu.

Pola asuh otoriter cenderung menekankan kepatuhan mutlak tanpa banyak dialog. Anak nggak memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, sehingga sering tumbuh menjadi pribadi yang patuh, tapi bukan karena pengin melakukannya.

Sebaliknya, orang tua dengan pola asuh otoritatif cenderung memberikan ruang diskusi dan membangun aturan berdasarkan kesepakatan. Dengan begitu, anak benar-benar mengetahui mengapa aturan itu diterapkan. Mereka juga bisa memahami alasan di balik aturan itu.

Jika pola asuh otoriter mengakibatkan anak kurang percaya diri, pola asuh otoritatif justru membentuk anak yang disiplin sekaligus kritis dan mandiri.

Pengaruh terhadap Anak dan Orang Tua

Penelitian dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa anak-anak dengan orang tua otoritatif memiliki risiko lebih rendah mengalami depresi atau masalah perilaku. Mereka juga lebih mampu mengatur emosi, beradaptasi dalam pergaulan, dan memiliki motivasi belajar yang tinggi.

Bagi orang tua, gaya ini membantu membangun hubungan yang sehat dengan anak. Orang tua tetap dihormati karena tegas dalam aturan, tapi juga dicintai karena mampu menunjukkan kasih sayang.

Menerapkan pola asuh otoritatif berarti menjadi orang tua yang nggak hanya berperan sebagai pengatur, tetapi juga pembimbing. Anak akan tumbuh dengan rasa hormat yang tulus dan bukan sekadar takut pada hukuman. Mereka belajar bahwa aturan ada demi kebaikan, bukan semata-mata untuk mengekang.

Pada akhirnya, orang tua yang berwibawa melalui gaya pengasuhan ini akan melahirkan generasi yang lebih percaya diri, bertanggung jawab, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan matang. Kamu berminat menerapkannya juga nggak, Gez? (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: