BerandaHits
Selasa, 12 Feb 2018 09:10

Mengenal Low Season yang (Kadang) Terlupakan

Seorang traveler yang sedang mengujungi salah satu objek wisata. (Traveloka.com)

Kalau kamu terganggu dengan keramaian pengunjung saat berwisata, mungkin low season bisa menjadi waktu yang tepat buatmu. Selain tempat wisata yang lebih longgar, diskon yang ditawarkan juga biasanya cukup menggiurkan. Kok gitu?

Inibaru.id – Sebagian orang memanfaatkan waktu libur mereka untuk mengunjungi pelbagai tempat wisata. Ini menjadikan tempat-tempat wisata padat pengunjung saat itu. Bagi sebagian orang, situasi semacam ini nggak menjadi soal. Namun, sebagian lainnya memilih membatalkan jadwal traveling mereka begitu tahu betapa ramainya lokasi liburan yang mereka tuju.

Nah, buat kamu yang merasakan ketidaknyamanan traveling pas musim liburan, mungkin low season bisa jadi pilihan tepat buatmu. Hm, apakah itu?

Low season merupakan masa sepi kunjungan pada suatu tempat wisata. Pada periode itu biasanya nggak banyak orang berwisata. Banyak faktor menyebabkan terjadinya low season. Pertama, karena bukan hari libur. Masyarakat Indonesia memang cenderung enggan mengambil cuti atau izin hanya untuk berlibur.  Kita umumnya liburan saat ada hari libur atau musim liburan sekolah. Inilah yang mengakibatkan penurunan jumlah wisatawan.

Faktor yang juga menimbulkan low season adalah musim hujan. Kecenderungan masyarakat nggak suka bepergian saat musim hujan karena basah, becek, dan lain-lain.

Baca juga:
Kepincut Diskon Saat Low Season
Liburan Murah ke LN di "Musim Sepi"

Untuk wilayah Indonesia, low season umumnya terjadi sekitar September hingga pertengahan Desember. Musim ini kemudian berlanjut pada akhir Januari hingga April. Sementara, Desember hingga awal tahun justru menjadi puncak pengunjung karena ada libur Natal dan Tahun Baru.

Pengelola tempat wisata dan hotel umumnya menyiasati hal ini dengan memberikan diskon dan promo kepada para wisatawan. Nah, hal inilah yang dimanfaatkan beberapa traveler. Yemima Amanda, pelancong cewek asal Semarang ini terbilang rajin memanfaatkan promo low season. Menurutnya, banyak keuntungan dengan berwisata saat itu.

“Iya, tiketnya murah dan nggak terlalu ramai. Pas kulineran juga nggak antre panjang,” ujar Mima, sapaan akrabnya.

Hal senada juga dilakukan Amgasussari atau akrab disapa Amga. Perempuan asal Kalimantan itu bahkan mengaku pernah mendapatkan diskon besar saat low season.

“Pernah waktu itu saya ditawari promo, Yogyakarta-Bali cuma Rp 550 ribu, sudah termasuk tiket pesawat pergi-pulang dan penginapan dua malam. Langsung saya ambillah,” terangnya.

Nggak Banyak yang Tahu

Nah, kendati sudah banyak yang tahu dan memanfaatkan low season seperti Mima dan Amga, masih banyak juga lo yang nggak tahu tentang periode sepi kunjungan ini. Seperti kebanyakan orang, mereka ya berwisata pas musim liburan saja, seperti yang dilakukan Christine. Siswi SMK N 4 Semarang itu bahkan nggak tahu ada diskon-diskon besar pas low season.

“(Aku) nggak begitu tahu sih, aku cuma tahu kalo low season itu lagi sepi-sepinya tempat wisata. Kalo tentang promo hotel dan tiket saat low season itu aku nggak tahu, karena aku selalu travelling pas long weekend,” akunya.

Baca juga:
Tips Liburan Nyaman Saat Low Season
Solo Jadi Kota Paling Layak Huni di Indonesia

Yap, wajar sih apa yang dibilang Christine. Ini juga mungkin jadi suara hati kebanyakan dari kita kali ya, Millens. Ha-ha.

FYI, dalam dunia traveling, selain low season ada juga istilah high season dan peak season. High season biasanya jatuh pada musim liburan yang ramai pengunjung. Sementara, peak season adalah puncak dari high season. Umumnya, pada high season, terlebih peak season, harga tiket transportasi, tiket masuk ke tempat wisata, dan hotel cenderung naik.

Hm, pengetahuan baru nih. Jadi, buat kamu yang punya waktu libur atau bisa cuti di luar masa liburan, bisa dicoba nih traveling pas low season. Mau? (TS/IF)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: