BerandaHits
Senin, 9 Nov 2025 17:43

Membongkar Klaim Ramah Lingkungan Avtur Jelantah 2026

Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Edi Wibowo, mengatakan regulasi penahapan penggunaan SAF saat ini sedang disusun dan ditargetkan mulai berlaku tahun 2026. (Citilink)

Tahun 2026, pemerintah bakal memproduksi avtur yang berasal dari minyak goreng bekas alias jelantah.

Inibaru.id - Kontras antara minyak jelantah, limbah dapur yang sering dibuang sembarangan, dengan bahan bakar jet bertenaga tinggi mungkin terdengar seperti fiksi. Namun, pada Maret 2026, fiksi itu akan menjadi kenyataan.

Jadi, pemerintah Indonesia melalui Pertamina merencanakan uji coba produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) dari Used Cooking Oil (UCO) di Kilang Balongan, melanjutkan jejak sukses Kilang Cilacap sebelumnya. Inisiatif ini adalah langkah penting Indonesia menuju target Net Zero Emission 2060. Pertanyaan terbesarnya, benarkah bahan bakar ini benar-benar ramah lingkungan, atau hanya sekadar wacana hijau?

Jawabannya, menurut studi kelayakan dan analisis siklus hidup global, adalah ya. SAF berbasis UCO ini memiliki potensi mereduksi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) hingga 80% dibandingkan avtur konvensional yang berasal dari fosil. Keunggulan utamanya terletak pada bahan bakunya sendiri. Minyak jelantah dikategorikan sebagai limbah lemak, atau next-generation feedstock.

Dalam perspektif Analisis Siklus Hidup (Life Cycle Assessment / LCA), menggunakan limbah secara dramatis mengurangi jejak karbon karena ia menghilangkan kekhawatiran terkait alih fungsi lahan (Land Use Change) yang menghantui bahan bakar berbasis minyak nabati murni. Para pakar pun menilai jelantah dan limbah lemak adalah pilihan biomassa terbaik untuk bioavtur karena nggak bersaing dengan ketahanan pangan. Itu idealnya.

Lebih dari sekadar mengurangi emisi penerbangan, program ini juga secara efektif menyelesaikan masalah lingkungan domestik. Pemanfaatan UCO mendorong ekonomi sirkular dan mengatasi limbah jelantah yang selama ini dibuang sembarangan, yang dapat mencemari perairan, meningkatkan kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD), serta membahayakan ekosistem.

Transisi energi ini bukan tanpa dasar. Pengembangan SAF Pertamina sudah dimulai sejak 2020. Setelah sukses memproduksi Bioavtur J2.4 (2.4% campuran sawit) yang diuji coba pada penerbangan komersial Garuda Boeing 737-800 pada 2023 , fokus kini beralih ke UCO. Proses konversi ini menggunakan teknologi canggih Hydro-processed Esters and Fatty Acids (HEFA) yang mengubah limbah menjadi senyawa hidrokarbon berkualitas tinggi setara avtur. Pada Kuartal IV 2026, Kilang Cilacap Fase II juga diharapkan beroperasi, menambah kapasitas produksi hingga 132.000 ton per tahun SAF dari UCO dan limbah sawit lainnya.

Masyarakat juga bisa menjual jelantah kepada pemerintah. (Getty images)

Meskipun teknologi dan kapasitas kilang sudah menunjukkan kesiapan, tantangan utama ada di sektor hulu. Indonesia memiliki potensi besar, diperkirakan mampu mengumpulkan 715 kiloton jelantah per tahun, namun tingkat pengumpulan domestik saat ini masih sangat rendah, hanya sekitar 20% hingga 40%. Ironisnya, Indonesia justru menjadi pengekspor besar UCO ke pasar global, di mana permintaan SAF di luar negeri jauh lebih tinggi.

Untuk memastikan pasokan domestik stabil bagi Kilang Balongan 2026 dan memenuhi target mandat 1% SAF yang direncanakan pada 2027, pemerintah harus mengambil langkah berani. Solusinya melibatkan sentralisasi regulasi pengumpulan dan pembentukan Dana Minyak Jelantah (UCO Fund). Dana ini, yang dapat didanai dari peningkatan tarif pungutan ekspor UCO di atas $150 per ton, akan digunakan untuk mensubsidi harga SAF domestik agar setara dengan avtur fosil, sekaligus memberi insentif kepada masyarakat untuk mengumpulkan jelantah.

Pemanfaatan minyak jelantah menjadi SAF adalah kemenangan ganda. Ia adalah solusi limbah yang memberdayakan ekonomi sirkular lokal sekaligus kunci untuk kemandirian energi dan dekarbonisasi penerbangan nasional. Dengan dukungan kebijakan yang tepat untuk mengamankan pasokan UCO, asa Indonesia untuk menjadi pemain kunci industri penerbangan hijau global bukanlah sekadar impian, melainkan landasan terbang yang nyata.

Namun, rencana ini nggak otomatis melegalkan deforestasi demi menanam sawit, apalagi kamu sampai over mengonsumsi gorengan ya, Gez! (Siti Zumrokhatun/E05)


Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengintip Sisi Lain Nusakambangan yang Indah di Pantai Bantar Panjang

11 Jan 2026

Waroeng Sate Pak Dul Tjepiring, Tempat Makan yang Juga Museum Mini

11 Jan 2026

Bahaya yang Mengintai saat Anak Terlalu Cepat Diberi Gawai

11 Jan 2026

Lebih dari Menikmati Kopi, 'Ngopi' adalah tentang Koneksi dan Ekspresi Diri

11 Jan 2026

Sungai Finke Sudah Mengalir Sebelum Dinosaurus Lahir

11 Jan 2026

Musim Hujan Bikin Para Ibu Gampang Capek dan Baperan? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

11 Jan 2026

Menilik Keindahan Curug Merak di Kabupaten Temanggung

12 Jan 2026

Cara Naik Kereta 36+3 di Jepang yang Santai dan Kaya Pemandangan Indah

12 Jan 2026

Belenggu Musim Baratan bagi Nelayan; Gagal Melaut dan Terjerat Lintah Darat

12 Jan 2026

Koperasi hingga Budi Daya Ikan, Upaya Pemkot Bantu Nelayan Semarang hadapi Paceklik

12 Jan 2026

3 Kode dari Tubuh Kalau Kamu Alami Intoleransi Gluten!

12 Jan 2026

Akses Jalan Mulai Terbuka, Desa Tempur Jepara Perlahan Bangkit Pascalongsor

12 Jan 2026

'Project Y', Film Korea Terbaru yang Duetkan Aktris Papan Atas Korea Han So-hee dan Jun Jong-seo

13 Jan 2026

Cerita Legenda Puncak Syarif di Gunung Merbabu

13 Jan 2026

Merti Sendang Curug Sari dan Kampanye 'Nggodog Wedang' Warga Pakintelan Semarang

13 Jan 2026

In This Economy, Mengapa Orang Masih Berburu Emas meski Harga Sudah Tinggi?

13 Jan 2026

Riset Ungkap Kita Sering Merasa Kebal dari Dampak Perubahan Iklim

13 Jan 2026

Bolehkah Makan Malam Cuma Pakai Buah?

13 Jan 2026

Sebenarnya, Boleh Nggak Sih Merokok di Trotoar Kota Semarang?

14 Jan 2026

Paradoks Memiliki Anak di Korea, Dianggap Berkah Sekaligus Kutukan Finansial

14 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: