BerandaHits
Sabtu, 14 Mar 2025 11:11

Keuangan Negara Hari-Hari Ini: APBN Tekor, Penerimaan Pajak Anjlok!

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, APBN hingga Februari 2025 mengalami defisit. (Kabar Bursa/Abbas Sandji)

Hingga akhir Februari 2025, negara mengalami defisit APBN sebesar Rp31,2 triliun. Sementara, penerimaan pajak justru anjlok 30,19 persen. Apa yang terjadi?

Inibaru.id - Kementerian Keuangan mengumumkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Februari 2025 mengalami defisit sebesar Rp31,2 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, defisit itu setara 0,13 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Sedikit informasi, defisit APBN terjadi saat pengeluaran negara lebih besar dari pendapatan. Artinya, hingga Februari ini, negara sudah boncos puluhan triliun rupiah. Bandingkan dengan Februari tahun lalu yang justru surplus Rp22,8 triliun atau setara 0,1 persen terhadap PDB.

Kendati tekor sebesar itu, Menkeu menyampaikan bahwa angka defisit ini masih sesuai prediksi, lantaran defisit APBN 2025 didesain dengan kemungkinan mengalami defisit Rp616,2 triliun.

"Defisit Rp31,2 triliun masih dalam target APBN, yaitu 2,53 persen terhadap PDB atau Rp616,2 triliun," ujar perempuan yang akrab disapa Ani tersebut dalam konferensi pers di Kantor Kemenkeu di Jakarta, Kamis (13/2).

Keseimbangan Primer Masih Surplus

Ilustrasi: Hingga Februari, pengeluaran negara tercatat lebih besar Rp31,2 triliun lebih besar dari pendapatan. (Unsplash/Mufid Majnun)

Meski pendapatan lebih kecil dibanding pengeluaran negara, Ani memaparkan, dari sisi keseimbangan primer tercatat masih surplus Rp48,1 triliun. Dia merinci, pendapatan hingga 2025 sebesar Rp316,9 triliun atau 10,5 persen terhadap APBN, yang berasal dari pajak, bea cukai, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Sementara, belanja negara sebesar Rp348,1 triliun atau 9,6 persen terhadap APBN. Belanja negara tersebut terdiri atas belanja pemerintah pusat yakni belanja kementerian/lembaga (K/L) dan non-K/L serta transfer ke daerah.

"Belanja negara Rp348,1 triliun atau terealisasi 9,6 persen dari total belanja yang akan dianggarkan tahun ini," kata Ani.

Adapun penerimaan pajak hingga Februari ini sebesar Rp187,8 triliun atau 8,6 persen dari target. Nilai tersebut lebih rendah 30,19 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (Februari 2024) yang mencapai Rp269,02 triliun.

Nggak Perlu Didramatisasi

Ani menegaskan, anjloknya setoran pajak pada Februari ini nggak perlu didramatisasi karena justru akan menciptakan ketakutan yang berdampak buruk terhadap kondisi perekonomian dalam negeri yang nantinya akan berimbas kepada banyak hal.

Menurutnya, ada dua faktor yang membuat penerimaan pajak pada awal tahun ini begitu rendah. Yang pertama adalah karena adanya penurunan harga komoditas ekspor andalan yang memberi kontribusi penting terhadap perekonomian, antara lain batu bara, minyak, dan nikel.

Penyebab kedua, imbuh Ani, adalah karena faktor administrasi; yakni keberadaan kebijakan baru terkait implementasi Tarif Efektif Rata-Rata (TER) untuk Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh 21) serta kebijakan relaksasi pembayaran PPN dalam negeri selama 10 hari (dibayarkan hingga 10 Maret 2025).

"Untuk PPN deadline-nya mundur. TER juga kami lihat cukup mempengaruhi PPh 21," paparnya. "Jadi, jangan khawatir berlebihan. Kita jaga sama-sama. Respons terhadap perlambatan adalah dengan waspada, tapi tidak perlu menimbulkan alarm."

Mewaspadai kondisi yang kurang menguntungkan adalah respons alamiah manusia. Jadi, menurutmu, perekonomian negara ini aman atau sedang nggak baik-baik saja, Millens? (Siti Khatijah/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

29 Mei 2026

Mengenal Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu yang Selalu Mencuri Perhatian Saat Waisak

2 Jun 2026

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: