BerandaHits
Sabtu, 31 Okt 2025 09:01

Keluh Kesah Para Pekerja yang Kerepotan Karena Macet dan Banjir di Kota Semarang

Pekerja di Kota Semarang menumpang truk menuju tempat kerjanya karena jalanan terendam banjir. (BNPB)

Nggak hanya banjir, kemacetan yang jadi efek domino dari banjir juga bikin repot warga Kota Semarang. Apakah ada solusi untuk hal yang sepertinya semakin sering terjadi belakangan ini?

Inibaru.id - Meski masih bisa datang ke tempat kerjanya di kawasan Jalan Pemuda, Kota Semarang, Ranto mengaku mulai kewalahan dengan repotnya perjalanan dari rumahnya di Kecamatan Genuk.

Memang, banjir di Kota Semarang mulai berkurang dan kawasan rumahnya nggak pernah terendam. Tapi, setiap kali perjalanan berangkat dan pulang, dia khawatir bakal terjebak kemacetan parah karena banyak pengendara memilih jalan lain yang nggak terendam banjir.

Soalnya, di sejumlah lokasi yang kerap dia lewati, seperti terowongan USM, misalnya, bisa dengan mudah banjir jika hujan deras turun. Orang-orang yang terbiasa memakai sepeda motor sepertinya jelas nggak akan lewat jalan tersebut saat hal itu terjadi.

"Pas Selasa, (27/10/2025) kemarin, saya sampai harus memutar lewat Jalan Majapahit. Itu pun di sana terkena kemacetan karena perbaikan jalan. Saya sampai telat masuk kantor. Sejak itu sampai sekarang, sebelum berangkat dan pulang kerja, saya berkali-kali mengecek CCTV jalan di Kota Semarang dan kondisi kemacetan di Google Maps hanya demi menentukan jalan mana yang bisa saya lalui. Kalau sudah tahu kabar hujan, was-was saya," ucapnya pada Kamis (30/10).

Beda dengan Ranto yang masih bisa menemukan solusi berupa jalanan yang bebas banjir, selama hampir sepekan, Anggraini yang bekerja di sebuah pabrik di Kawasan Industri Terboyo mau nggak mau menumpang truk untuk mencapai tempat kerjanya. Sesampainya di lokasi tempat kerjanya pun, dia masih harus berjibaku dengan genangan air.

Efek domino dari banjir di Kota Semarang adalah kemacetan di berbagai jalan. (RRI/Tika Vilysta)

"Sudah sejak beberapa tahun belakangan ya kalau banjir atau rob numpang truk dengan puluhan pekerja lain. Bukan hal aneh kalau alas kaki atau sebagian celana basah dan tetap kita gunakan untuk bekerja. Mau gimana lagi. Tapi jujur saya heran, ini baru Oktober kok sudah seperti ini hujan dan banjirnya, biasanya kan mepet di pergantian tahun," keluhnya.

Mereka dan banyak pekerja lain di Kota Semarang memang menemukan cara untuk tetap bisa beraktivitas meski kerepotan. Tapi, tetap saja, mereka berharap pemerintah bisa mencari solusi atas masalah ini.

"Kemarin sih baca-baca katanya dari DPU sudah menerjunkan tim untuk membersihkan kanal dan drainase, ada juga tambahan pompa air. Tapi ada kemungkinan kan kalau hujan lebat lagi, apalagi ketambahan rob, banjir bisa datang lagi," ucap Ranto yang mengaku sudah mempertimbangkan menjual rumahnya dan pindah ke kawasan bebas banjir di Kota Semarang.

Pemerintah Kota dan Pemprov memang nggak tinggal diam dengan hal ini. Pembangunan tanggul laut alias Giant Sea Wall terus diusahakan agar bisa cepat selesai. Bahkan, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menyebut pihaknya bekerja sama dengan BMKG untuk memodifikasi cuaca agar hujan yang turun di Kota Semarang dikendalikan.

Tapi, realitanya kita memang sudah memasuki musim hujan. Apalagi, biasanya puncak musim hujan baru datang setelah pergantian tahun. Bisa jadi, pemerintah harus melakukan usaha ekstra untuk mengatasi masalah ini.

Lebih dari itu, para pekerja seperti Ranto dan Anggraini sepertinya juga harus lebih waspada, dan melakukan usaha ekstra jika di kemudian hari, banjir datang lagi dan membuat aktivitas mereka terganggu. (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: