BerandaHits
Selasa, 23 Mar 2026 15:01

Induced Demand dan Paradoks Pembangunan Jalan di Wilayah Urban

Ilustrasi: Memperlebar atau memperluas jalan bukanlah solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan. (NLC)

Ketika kapasitas jalan bertambah, jumlah kendaraan justru meningkat hingga memenuhi ruang yang tersedia. Fenomena induced demand ini menjelaskan mengapa pembangunan jalan baru sering gagal mengatasi kemacetan.

Inibaru.id - Anton Wijanarko tinggal di bilangan Jatingaleh, Kota Semarang. Sehari-hari, dia harus menembus keramaian jalan layang menuju tempat kerjanya di wilayah Gunungpati. Dia mengaku heran, kendati sudah dibuatkan jalur fly-over, tetap saja persimpangan tersebut ramai orang.

"Belasan tahun lalu, persimpangan Jatingaleh memang langganan macet pada jam-jam sibuk, hingga kemudian dibangun fly over untuk mengurai kemacetan. Cuma bertahan beberapa tahun, habis itu macet lagi, tuh!" keluhnya Minggu (15/3/2026).

Membangun jalur baru, menambah jalan, memperlebar ruas, atau mendirikan jalan tol baru hampir selalu dijadikan sebagai solusi untuk mengatasi kemacetan di kota urban; nggak hanya di Indonesia, tapi juga di pelbagai belahan dunia. Padahal, itu bukanlah solusi.

Saat kapasitas jalan diperbesar atau jalur baru dibuat, mereka meyakini bahwa kendaraan akan lebih mudah bergerak, sehingga kemacetan berkurang. Namun, kenyataannya justru menunjukkan hal sebaliknya. Jalan yang baru dibangun sering kali kembali macet hanya beberapa tahun, bahkan bulan, setelah dibuka.

Mengenal 'Induced Demand'

Fenomena tersebut dikenal sebagai induced demand, sebuah konsep dalam ekonomi transportasi yang semakin sering dibahas oleh perencana kota di berbagai negara.

Secara sederhana, induced demand merujuk pada kondisi ketika peningkatan pasokan, dalam hal ini kapasitas jalan. justru memicu peningkatan penggunaan. Dalam teori ekonomi, ketika suatu layanan menjadi lebih mudah diakses atau “lebih murah” dari sisi waktu dan biaya, permintaan akan meningkat.

Dalam konteks transportasi, ketika jalan diperlebar atau jalur baru dibuka, waktu tempuh akan menjadi lebih singkat. Perjalanan menjadi lebih cepat, sehingga biaya perjalanan, baik uang maupun waktu, menjadi turun.

Dampaknya, lebih banyak orang memilih menggunakan mobil, melakukan perjalanan lebih sering, atau bahkan pindah tempat tinggal lebih jauh dari pusat kota.

Akibatnya, volume kendaraan kembali meningkat hingga akhirnya memenuhi kapasitas baru tersebut. Dalam beberapa kasus, kemacetan bahkan menjadi lebih parah dibandingkan sebelum proyek jalan dibangun.

Dipahami, tapi Tetap Dilakukan

Perencana kota Jeff Speck dari AS menyebut fenomena ini sebagai salah satu paradoks paling terkenal dalam perencanaan kota. Dalam bukunya Walkable City, dia menggambarkan induced demand sebagai “the great intellectual black hole in city planning”.

Maksudnya, induced demand adalah sebuah konsep yang hampir semua perencana kota pahami, tetapi seringkali diabaikan dalam kebijakan pembangunan transportasi.

Meski belakangan sering dibicarakan dalam debat transportasi modern, gagasan tentang induced demand sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Para ahli transportasi mulai mengamati fenomena ini sejak pertengahan abad ke-20.

Ekonom transportasi Anthony Downs menjelaskan fenomena ini pada 1962 melalui apa yang kemudian dikenal sebagai "Downs–Thomson Paradox". Dia berargumen bahwa di kota besar hampir mustahil membangun jalan raya yang cukup lebar untuk menghilangkan kemacetan pada jam sibuk, karena peningkatan kapasitas jalan akan segera menarik lebih banyak kendaraan.

Dengan kata lain, pembangunan jalan baru seringkali hanya memberikan kelegaan sementara. Begitu masyarakat menyadari bahwa perjalanan menjadi lebih mudah, pola perilaku mereka berubah; dan lalu lintas kembali padat.

Perbaikan Perilaku dan Infrastruktur

Ilustrasi: Transportasi bukan sekadar infrastruktur, tetapi juga perilaku manusia. (Unsplash/Ma Joseph)

Salah satu hal menarik dari induced demand adalah bagaimana ia menunjukkan bahwa transportasi bukan sekadar soal infrastruktur, tetapi juga perilaku manusia.

Ketika jalan diperlebar, beberapa perubahan perilaku biasanya terjadi secara bertahap:

  1. Orang yang sebelumnya menggunakan transportasi umum beralih ke mobil pribadi.
  2. Pengemudi memilih melakukan perjalanan pada jam sibuk karena lalu lintas terasa lebih lancar.
  3. Perjalanan yang sebelumnya dianggap terlalu jauh menjadi lebih masuk akal.
  4. Perkembangan permukiman baru muncul lebih jauh dari pusat kota.

Dalam beberapa tahun, perubahan-perubahan kecil ini terkumpul menjadi lonjakan lalu lintas yang signifikan. Penelitian transportasi di berbagai negara menunjukkan pola yang konsisten: peningkatan kapasitas jalan hampir selalu diikuti peningkatan volume kendaraan.

Banyak studi menemukan bahwa pertambahan panjang jalan raya dalam jangka panjang berkorelasi dengan peningkatan jarak tempuh kendaraan (vehicle miles traveled).

Memberikan Pilihan Mobilitas

Fenomena ini juga sering dikaitkan dengan pertumbuhan kota yang menyebar (urban sprawl), karena akses jalan yang mudah membuat orang bersedia tinggal lebih jauh dari tempat kerja. Akibatnya, ketergantungan pada kendaraan pribadi pun semakin besar.

Karena inilah semakin banyak perencana kota yang mempertanyakan pendekatan lama dalam pembangunan transportasi. Alih-alih menambah jalan, mereka mendorong strategi mobilitas yang lebih beragam: transportasi publik yang kuat, jalur sepeda, trotoar yang nyaman, serta tata kota yang lebih kompak.

Jeff Speck misalnya, menekankan bahwa kota yang baik bukanlah kota dengan jalan raya yang semakin besar, melainkan kota yang memberikan pilihan mobilitas yang beragam bagi warganya.

Pendekatan ini nggak selalu mudah diterapkan, terutama di kota yang sudah sangat bergantung pada mobil pribadi. Namun, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa memperbaiki sistem transportasi nggak selalu berarti menambah atau memperlebar ruas jalan. melainkan mengubah cara orang bergerak di dalam kota.

Pelajaran untuk Kota Berkembang

Bagi kota-kota yang sedang berkembang pesat, memahami konsep induced demand menjadi penting. Tanpa mempertimbangkan fenomena ini, pembangunan jalan baru berisiko menjadi solusi jangka pendek yang mahal, tetapi nggak menyelesaikan masalah kemacetan dalam jangka panjang.

Kemacetan, pada akhirnya, bukan sekadar persoalan ruang jalan. Ia juga merupakan cerminan dari bagaimana kota dirancang, gimana orang memilih bepergian, dan sejauh mana kebijakan transportasi membentuk perilaku masyarakat.

Dan di situlah pelajaran terbesar dari induced demand: kadang-kadang, semakin banyak jalan yang dibangun, semakin banyak pula kendaraan yang datang.

Di kota tempat tinggalmu, adakah situasi semacam ini juga, Gez? (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Antusiasme Membludak, Festival Balon Udara Perdana di Tembalang Jadi Magnet Ribuan Warga

4 Mei 2026

Brubuh, Cara Leluhur Jawa Menentukan Waktu Tepat Menebang Pohon

5 Mei 2026

Tembus 5,89 Persen, Ekonomi Jateng Ungguli Nasional

6 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: