BerandaHits
Selasa, 27 Okt 2025 15:26

Bumi Hangus Boja, Kambing Etawa, dan Kemenangan Intan di Kendal Cerpen Award 2025

Intan Tika Sari mendapatkan kambing etawa yang merupakan hadiah utama sayembara Kendal Cerpen Award 2025, Minggu, 26 Oktober 2025. (KCA 2025)

Mengangkat peristiwa memilukan pertempuran empat jam 'Bumi Hangus Boja' pada 1947, cerpen karya Intan Tika Sari berhasil memukau dewan juri, membawanya meraih kemenangan dan berhak atas kambing etawa yang menjadi hadiah utama Kendal Cerpen Award (KCA) 2025.

Inibaru.id - Di tengah suasana teduh Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalireyeng di Kebondalem, Kabupaten Kendal, Minggu (26/10/2025), tepuk tangan meriah pecah ketika nama Intan Tika Sari disebut sebagai juara pertama Kendal Cerpen Award (KCA) 2025.

Cerpenis muda asal Dusun Kemiri Ciut, Desa Singorojo, Kendal, itu berhasil memikat dewan juri lewat naskah berjudul “Empat Jam Api di Boja”. Atas prestasinya, perempuan kelahiran 9 Mei 2002 ini berhak membawa pulang hadiah unik: seekor kambing betina peranakan etawa, beserta plakat, piagam, dan paket buku.

“Sama sekali tidak menyangka bisa juara. Saya ikut hanya untuk menambah pengalaman, tidak terlalu berharap menang,” ujar lulusan SMAN 1 Boja itu, tersenyum malu-malu sembari kepayahan menerima guyuran hadiah dari panitia.

Intan, yang kini menempuh studi di Universitas Terbuka Jurusan Ekonomi Pembangunan, mengaku mengirimkan naskahnya pada hari terakhir pengumpulan. Namun siapa sangka, cerpennya yang mengangkat kisah sejarah Pertempuran Empat Jam di Boja justru mengantarkannya menjadi yang terbaik dari 17 peserta.

“Motivasi saya sederhana, agar masyarakat Boja tahu bahwa daerahnya punya sejarah besar. Banyak yang belum tahu tentang peristiwa bumi hangus Boja tahun 1947,” katanya.

Sejarah Lokal yang Bermakna

Ide cerita itu, tutur Intan, sejatinya sudah cukup lama, berawal dari penuturan gurunya saat dia masih duduk di bangku sekolah. Rasa ingin tahu membawanya menelusuri arsip, artikel, dan jurnal sejarah mengenai peristiwa tersebut.

“Saya ingin mengingatkan bahwa sejarah lokal juga punya makna besar,” ucapnya.

Hadiah kambing yang diterimanya, dia melanjutkan, nantinya akan dipelihara di rumah; karena kebetulan orang tuanya memiliki kambing di rumah, jadi bisa sekalian dipelihara bersama ke-8 kambing lain yang sudah mereka miliki.

Oya, sedikit informasi, KCA merupakan kompetisi atau sayembara menulis tahunan yang digelar secara gotong royong oleh Komunitas Lerengmedini (KLM) Boja, Sangkar Arah Pustaka Kangkung, Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK), dan Jarak Dekat Art Production Kangkung.

Ketua Panitia M Lukluk Atsmara Anjaina mengatakan, kompetisi yang diperuntukkan bagi masyarakat Kendal ini terus bertumbuh; bahkan tahun ini telah mencatatkan jumlah peserta terbanyak sejak kali pertama dibuat beberapa tahun lalu.

"KCA 2025 diikuti oleh 17 peserta yang berasal dari berbagai kecamatan, terbanyak dari tahun sebelumnya. Harapan kami, kegiatan ini menjadi ruang tumbuh bagi penulis muda Kendal untuk terus berkarya,” ujarnya, Minggu (26/10).

Hasil Kurasi Tiga Juri

Penganugerahan Kendal Cerpen Award (KCA) 2025 digelar di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalireyeng di Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal pada MInggu, 26 Oktober 2025. (KCA 2025)

Karya-karya peserta yang masuk, Lukluk mengungkapkan, selanjutnya dikurasi oleh dewan juri yang terdiri atas tiga sastrawan, yakni Sawali Tuhusetya, Arif Fitra Kurniawan, dan Heri CS; hingga terpilih tiga karya terbaik dan dua naskah terpilih.

Juara pertama diraih oleh Intan Tika Sari dengan “Empat Jam Api di Boja”-nya, diikuti Muhammad Fauzi asal Kaliwungu melalui cerpennya yang berjudul “Jan”, kemudian disusul M Abdul Daffa dari Kaliwungu lewat karya “Bayangan Hitam di Pabrik Gula”.

Jika juara pertama mendapatkan kambing etawa, peraih juara kedua mendapatkan hadiah berupa seekor cempe alias anak kambing, diikuti juara ketiga dengan sepasang ayam, serta dua naskah pilihan juri yang berhak mendapatkan hadiah masing-masing seekor bebek.

Mewakili dewan juri, Sawali Tuhusetya mengungkapkan bahwa KCA 2025 telah menjadi momentum penting bagi perkembangan sastra di Kendal; yang menjadi tonggak lahirnya para cerpenis muda. Dia berharap, KCA akan konsisten menjadi ajang tahunan yang melahirkan penulis muda dan merawat semangat literasi.

"Angka 17 (jumlah peserta) adalah simbol semangat baru untuk menjaga peradaban melalui teks-teks cerpen yang berani dan menggugah,” ujarnya. “Di tengah zaman yang makin bising dan cepat, menulis cerpen adalah bentuk perlawanan yang sunyi, tapi bermakna.”

Nyala Api Literasi

Acara penganugerahan yang berlangsung khidmat sejak pagi juga diramaikan dengan Gelar Seni Budaya Kalireyeng Bright Future “Aku Suka dan Aku Bisa”, yang menampilkan tari, barongan, geguritan, hingga macapat dari anak-anak TBM GenZi dan Kelompok Bermain Warna Pelangi.

Ketua TBM GenZi, Khalyun Dwi Kusumaningrum mengaku senang telah menjadi bagian dari "perayaan literasi" di Kendal ini. Menurutnya, kegiatan tersebut bisa menjadi ruang berekspresi bagi anak-anak dan generasi muda di Kendal.

“Kami ingin menanamkan keberanian berkarya sejak dini, agar tumbuh rasa cinta pada seni dan budaya lokal,” ujarnya.

Setali tiga uang, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kendal Wahyu Yusuf Akhmadi juga turut mengapresiasi penyelenggaraan KCA 2025.

“Kegiatan seperti ini bukan sekadar ajang lomba, tapi bagian dari literasi kebudayaan. Literasi tak hanya baca-tulis, tapi juga mengenal jati diri melalui karya,” jelasnya.

Perlahan tapi pasti, nyala api literasi di Kendal telah merambat di sudut-sudut kota, merayap pelan dari akar-akar komunitas menuju ruang-ruang yang lebih luas di antara masyarakat, melahirkan para sastrawan muda dan akan terus berlipat ganda di kemudian hari. Sampai jumpa di KCA selanjutnya! (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

29 Mei 2026

Mengenal Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu yang Selalu Mencuri Perhatian Saat Waisak

2 Jun 2026

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: