BerandaHits
Sabtu, 16 Jan 2026 15:01

Bertahan dalam Banjir; dari Alasan Merawat Ternak hingga Menjaga Anggota Keluarga

Aktivitas warga Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak dalam kondisi banjir. (Inibaru.id/ Sekarwati)

Dalam kondisi banjir, tentu saja nggak ada yang pengin bertahan untuk menantang bencana. Namun, bagi sebagian orang, karena berbagai alasan yang jauh lebih penting, mengungsi bukanlah pilihan.

Inibaru.id - Curah hujan yang tinggi selama berhari-hari, banjir nggak juga surut, dan debit air yang terus naik di berbagai titik tentu saja membuat siapa pun panik, apalagi kalau air sampai masuk rumah. Namun, bagi sebagian orang, alasan itu masih nggak cukup kuat untuk membuat mereka mengungsi.

Bukan karena nggak pengin, tapi dalam banyak kasus mereka terpaksa melakukannya lantaran punya alasan yang jauh lebih kuat, sehingga memutuskan untuk bertahan dalam kondisi banjir dan minim akses, bahkan saat air sudah mulai masuk rumah mereka.

Afiah, salah seorang warga terdampak banjir di Dukuh Kedung Banteng, Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, memilih bertahan di rumahnya meski sejumlah warga sudah memutuskan utuk mengungsi.

"Saat ini masih aman," tutur perempuan paruh baya tersebut, beberapa waktu lalu. "Tapi, anak dan cucu sudah diungsikan. Tinggal saya di sini."

Bertahan demi Ternak

Sedikit informasi, hujan lebat yang berlangsung selama sepekan terakhir telah mengakibatkan banjir di banyak wilayah di Demak, termasuk di Desa Wonorejo. Sungai yang meluap di desa tersebut membuat akses jalan terendam air. Bahkan, sejumlah sekolah juga telah diliburkan.

Berdasarkan data dari BPBD Demak, debit air telah mencapai 60 sentimeter. Sebanyak 6.129 jiwa dari 1.932 keluarga terdampak banjir. Sebagian warga telah memilih mengungsi, tapi masih banyak yan memilih bertahan di rumahnya masing-masing, termasuk Afiah.

Kondisi banjir di Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak. (Inibaru.id/ Sekarwati)

Meski air di depan rumahnya sudah setinggi lutut orang dewasa, dia memilih bertahan karena ngaboti ternaknya. Afiah mengaku memelihara lima ekor kambing dan merasa kasihan jika harus meninggalkan piaraannya tersebut tanpa diberi makan.

“Rumah sudah tergenang, tapi saya tetap (bertahan) di sini bersama suami. Anak dan cucu sudah mengungsi ke rumah saudara setelah melihat banjir semakin tinggi dan meluas. Sejauh ini (di rumah) masih aman, tidak harus mengungsi," tuturnya.

Terbiasa Berdamai dengan Banjir

Afiah mengatakan, banjir di wilayahnya bukanlah peristiwa baru. Dia dan warga setempat sudah terbiasa berdamai dengan bencana yang menurutnya bikin kondisi ekonomi jadi sulit tersebut. Maka, saat banjir datang, hal yang terbesit di benaknya adalah menyelamatkan hartabenda, salah satunya ternak.

"Ini banjir tahunan, jadi kami tahu banjir akan datang. Harusnya kami meninggikan rumah untuk mengantisipasi banjir, tapi karena keterbatasan dana, yang sekarang bisa kami lakukan hanya pasrah sambil berharap bisa menjaga harta benda yang kami miliki," keluhnya, lalu tertawa.

Selain melindungi harta benda, warga yang memilih bertahan biasanya karena ada anggota keluarganya yang sedang sakit dan nggak memungkinkan untuk diajak mengungsi, sebaaimana terjadi pada Sutimah. Dia memilih tinggal di rumah yang dikelilingi banjir hingga setinggi lebih dari setengah meter demi suaminya.

"Depan (rumah) sudah banjir semua. Sampai masuk rumah juga. Itu di ruang tamu (ketinggian air) sudah 30-an sentimeter. Namun, suami saya ini sakit stroke, tidak biasa diajak keluar," akunya. Sempat mengungsi ke rumah anak, tapi sungkan karena suami kalau buang air besar harus pakai alat bantu."

Mereka yang memilih bertahan tentu saja bukan karena keinginan, melainkan keadaan yang mendesak dan memaksa untuk bertahan. Dengan kondisi seadanya, warga bertahan untuk mempertahankan yang mereka punya. Di sinilah seharusnya pemerintah bisa ambil peran! (Sekarwati/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: