BerandaHits
Rabu, 3 Jan 2023 11:00

Berkali-kali Tinggikan Rumah, Banjir Tetap Mengintai Warga Semarang

Nggak hanya banjir, masyarakat Semarang juga mengalami masalah tanah ambles. (Ekuatorial/Forest Digest/Khargius Yupi)

Banjir Semarang pada akhir tahun 2022 lalu menyisakan banyak cerita. Salah satunya adalah makin parahnya penurunan muka tanah di kota tersebut.

Inibaru.id – Salah seorang kerabat saya, Daryono, mengirimkan video kondisi rumahnya yang terdampak banjir Semarang pada 31 Desember 2022 lalu. Terlihat air sudah memasuki area ruang tamu dan dapur rumahnya. Sejumlah barang seperti kulkas, mesin cuci, dan sepeda motor terendam cukup dalam.

Laki-laki yang sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak ini sebenarnya sudah terbiasa dengan banjir setiap kali musim hujan. Namun, baru kali ini banjir mencapai bagian dalam rumahnya yang berlokasi di Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan.

“Padahal sudah dua kali rumah ini ditinggikan, 70 cm dan 50 cm. Biasanya paling sampai di halaman saja. Tapi banjir kali ini memang sangat besar,” ceritanya pada Minggu (1/1/2023) sore, saat air banjir sudah surut.

Daryono memiliki rumah tersebut sejak 2008. Setiap kali selesai meninggikan rumah, dia merasa aman. Tapi, rasa aman dari banjir tersebut hanya sementara karena nyatanya, banjir tetap memasuki rumahnya di kemudian hari.

“Karena jalan juga terus ditinggikan, akhirnya rumah kami juga bakal kena banjir lagi ke depannya,” keluhnya.

Tanah di Semarang Bawah yang Terus Ambles

Peta geologi Kota Semarang yang menunjukkan keparahan penurunan muka tanah. (Kampusnesia)

Kota Semarang memiliki kontur yang cukup unik sehingga membuatnya seperti terpisah menjadi dua bagian, yaitu Semarang Atas dan Semarang Bawah. Di sebagian wilayah Semarang Bawah, terjadi penurunan muka tanah yang cukup signifikan.

“Penurunan permukaan tanah di Semarang bagian utara mencapai 2 sampai 8 sentimeter setiap tahun,” ucap Dr Rahma Hayati MSi, seorang dosen jurusan geografi Universitas Negeri Semarang sebagaimana dilansir dari Kampusnesia, (28/7/2021).

Penurunan ini terjadi di Kecamatan Semarang Utara, Semarang Timur, Genuk, Gayamsari, Pedurungan, dan Semarang Tengah. Total wilayah yang terdampak mencapai lebih dari 5.400 hektare.

Penyebab penurunannya bermacam-macam. Yang pasti, material tanah di sebagian wilayah Semarang Bawah yang berupa endapan alluvial dan endapan delta belum cukup kokoh untuk dijadikan penopang ribuan bangunan. Kondisi ini diperparah dengan penyedotan air tanah dalam skala yang besar.

Karena kondisi inilah, wajar jika kita melihat rumah-rumah ‘tenggelam’ seperti yang terlihat di dekat rumah Daryono. Rumah tersebut nggak pernah ditinggikan sebagaimana jalan atau rumah-rumah yang ada di sekelilingnya. Alhasil, yang terlihat dari rumah yang sudah ditinggalkan penghuninya tersebut tinggal atap yang hanya berjarak kurang lebih satu meter dari permukaan jalan.

Biaya Renovasi Mahal, Tapi Warga Nggak Mau Pindah

Meski tahu wilayahnya mengalami tanah ambles, warga banyak yang memilih untuk bertahan. (Ekuatorial/Forest Digest/Khargius Yupi)

Meski penurunan muka tanah cukup parah, sebagian besar warga yang tinggal di wilayah dengan masalah ini memilih untuk bertahan alih-alih pindah. Contohnya adalah masyarakat Kampung Tambaklorok, Tanjung Mas, Semarang Utara.

“Rumah saya dulu dua lantai. Kini tinggal satu lantai. Yang kita duduki ini dulunya atap, sekarang jadi teras,” cerita Amron yang sudah tinggal di rumah tersebut selama 26 tahun di Tambaklorok sebagaimana dilansir dari Suara (2/2/2021).

Dia mengaku sudah enam kali meninggikan rumah. Tapi, tindakan itu seperti nggak ada gunanya karena di wilayah tersebut, tanah bisa ambles 20 sentimeter dalam setahun.

Banjir dan rob terus mengintai tempat tinggalnya. Padahal, setiap kali meninggikan rumah, biaya yang dia keluarkan nggak sedikit.

“Rp50 juta (setiap kali meninggikan rumah), itu saja ngepres,” ceritanya.

Lantas, mengapa mereka nggak mau pindah jika rumah yang mereka huni pasti tenggelam? Kalau soal ini, alasannya bermacam-macam. Daryono misalnya, mengaku nggak mau tinggal terlalu jauh dari tempat kerjanya. Dia juga sudah nyaman dengan tetangga-tetangga sehingga memilih untuk mengumpulkan uang demi meninggikan rumahnya kembali di masa depan.

“Mau pindah ke mana, mau dijual juga belum tentu laku pas tahu di sini sering banjir dan tanah ambles. Pindah ke tempat lain yang aman banjir juga harga rumahnya mahal. Mungkin pas besok anak-anak sudah bisa punya rumah sendiri baru kita bisa ikut pindah,” ucap Daryono.

Semoga saja ada solusi bagi masyarakat Kota Semarang yang mengalami fenomena tanah ambles dan sering dilanda banjir, ya Millens. (Arie Widodo/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: