BerandaHits
Selasa, 5 Jan 2026 16:28

Beda dengan Sepak Bola, Mengapa Kiper Futsal Sering Tidak Pakai Sarung Tangan?

Leo Higuita, pemain futsal kelahiran Brasil yang bermain sebagai penjaga gawang untuk AFC Kairat dan tim futsal nasional Kazakhstan. (KFF/Damir Serik)

Nggak seperti penjaga gawang di permainan sepak bola yang begitu identik dengan pelindung tangan khususnya, kiper futsal sering tampil tanpa sarung tangan, bahkan pada pertandingan resmi. Mengapa begitu?

Inibaru.id - Dalam sepak bola, khususnya pada laga resmi, salah satu ciri paling khas dari penjaga gawangnya adalah sarung tangan kiper, alat bantu yang berfungsi untuk menangkap bola, melindungi tangan, dan memberi pegangan ekstra saat menghadapi tendangan keras.

Namun, pada permainan futsal yang pada prinsipnya mirip sepak bola, para kipernya acapkali nggak mengenakan pelindung tangan khusus itu. Bahkan, pada laga futsal profesional, kita bisa melihat kiper tampil tanpa sarung tangan. Mereka kadang hanya memakai tape pada jari mereka.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Perlu kamu tahu, kiper futsal nggak mengenakan sarung tangan bukanlah kebetulan. Meski tugas utama kiper futsal dan sepak bola mirip, yakni mencegah bola masuk gawang, karakteristik permainan kedua olahraga tersebut sejatinya berbeda.

Futsal dimainkan di arena yang lebih sempit sehingga bola yang dipakai lebih kecil, tapi padat. Ukurannya yang berkisar antara 62–64 sentimeter membuatnya berputar lebih cepat dibanding bola sepak biasa, sehingga ia lebih mudah dikendalikan dengan tangan kosong.

Lebih Banyak Menangkis

Bola yang lebih padat dan ukuran yang lebih kecil memberikan umpan balik sentuhan yang lebih detail tanpa sarung tangan, sehingga alih-alih memakai alat pelindung, kiper akan merasakan bola dengan lebih baik justru dengan telapak tangan mereka sendiri.

Berbeda dengan sepak bola, kiper lebih sering melakukan tangkisan (parry) pada permainan futsal. Mereka lebih banyak menghalau bola ketimbang menangkapnya secara penuh lantaran futsal menuntut mereka untuk berinteraksi dengan bola secara aktif.

Dalam futsal, kiper juga bagian dari pengendali permainan. Tugasnya bukan hanya menghentikan laju bola, tapi juga mengendalikan, bahkan mengalirkan bola dengan cepat ke rekan setim. Nah, tanpa sarung tangan, mereka akan lebih presisi saat melempar atau menggulirkan bola untuk memulai serangan.

Berbeda dengan sepak bola, tempo permainan futsal sangat cepat dengan jumlah pemain yang lebih sedikit dan ruang bermain yang lebih kecil. Inilah yang membuat kiper juga harus terlibat dalam fase serangan. Nggak hanya bertahan di garis gawang, mereka juga harus piawai mengoper, merespons tekanan , dan transisi menuju serangan balik cepat.

Preferensi Pribadi Pemain

Ilustrasi: Untuk mengurangi risiko cedera, penjaga gawang pada permainan futsal menggunakan pelindung jari atau finger tape alih-alih sarung tangan. (Storelli)

Sentuhan langsung dengan bola memungkinkan kiper futsal merasakan gerakannya dengan lebih akurat dan cepat, sesuatu yang dapat terganggu oleh sarung tangan yang cenderung meredam sensitivitas tangan. Mereka juga nggak harus menggunakan pelindung tangan karena jarang ada tendangan keras.

Pada sepak bola, salah satu fungsi sarung tangan yang memiliki bantalan adalah meredam tendangan keras. Pada permainan ini, tendangan kuat atau yang datang dari jarak jauh memang nggak terhindarkan. Sarung tangan memberikan cengkeraman dan perlindungan yang lebih baik saat bola mengenai telapak tangan.

Namun, memakai atau tanpa sarung tangan pada akhirnya menjadi preferensi pribadi kiper. Banyak kiper futsal profesional menegaskan bahwa mereka merasa lebih nyaman dan percaya diri tanpa sarung tangan. Salah satunya Paco Sedano.

Kiper futsal top dari Spanyol itu pernah menyatakan bahwa tanpa sarung tangan dia merasa lebih baik saat memegang bola dan melemparkannya ke rekan setim, karena kontrolnya lebih alami dan akurat.

Hal yang sama diutarakan oleh kiper Kolombia, Carlos Nanez, yang menyebut bahwa tanpa sarung tangan, dia memiliki kontrol yang lebih baik terhadap bola, khususnya saat melakukan transisi dari bertahan menuju serangan balik cepat.

Tradisi di Komunitas

Dikutip dari New Berlin, preferensi kiper tanpa sarung (bare-hand goalie) tangan ini juga dipengaruhi oleh tradisi di komunitas futsal yang di banyak negara lahir dari permainan komunitas yang sederhana dan murah, yang nggak selalu memiliki akses ke perlengkapan mahal seperti sarung tangan.

Namun, tentu saja menjadi kiper tanpa sarung tangan bukan tanpa risiko. Benturan bola dari jarak dekat yang cepat bisa menyebabkan cedera pada jari atau telapak tangan. Untuk mengurangi risiko tersebut, banyak kiper futsal kemudian menggunakan pelindung jari (finger tape) yang umum dipakai pebasket.

Bahkan, kini ada pilihan sarung tangan khusus futsal yang tanpa jari (fingerless gloves) untuk mengurangi potensi cedera tapi tetap mempertahankan sensitivitas.

Meski begitu, keputusan memakai sarung tangan atau tidak tetap opsional dan berdasarkan preferensi pemain, kondisi permainan, atau kebutuhan perlindungan individual untuk beradaptasi dengan karakter permainan yang cepat dan sangat bergantung pada kontrol bola yang presisi. (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: