BerandaHits
Selasa, 22 Nov 2021 11:14

Becak, 'Kawan' yang Kini Lebih Sering Mengecewakan

Selama berpuluh-puluh tahun menjadi tukang becak, Ayub menjadi saksi bagaimana dunia berkembang pesat. (Inibaru.id/ Bayu N)

Tetap narik kendati hampir pasti penumpang makin sepi bukanlah pilihan mudah bagi para tukang becak. Namun, ibarat kawan lama yang sering mengecewakan, beberapa penarik becak tetap menjalani takdir tersebut dalam keseharian mereka.

Inibaru.id - Empat puluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk setia pada satu profesi. Melalui perjalanan beberapa dekade itu, banyak hal yang pasti akan berubah, mulai dari kawan sejawat, cara kerja, hingga penghasilan mereka. Beberapa orang bertahan, sisanya tumbang.

Tumbang bukanlah jalan yang dipilih Wahidin. Bersama segelintir rekan sejawatnya yang tersisa, lelaki 65 tahun itu setia menarik becak, profesi yang sudah dilakoninya sejak 1980-an. Baginya, becak memang bukan sekadar alat pencari nafkah, tapi juga "kawan lama".

Kendati belakangan "kawan lama" itu lebih sering mengecewakan karena nggak lagi bisa banyak menghasilkan uang, Wahidin mengaku yang akan terus menemuinya. Dia mengatakan, belum ada niat di benaknya untuk berhenti dari menarik kereta roda tiga tersebut

“Ya, saya susah senang bareng dia," tutur lelaki yang ditemui Inibaru.id belum lama ini saat sedang ngiyup di pinggir Jalan Dr Cipto Semarang. Tangannya menunjuk becak kepunyaannya yang tampak sudah agak usang. "Kebersamaan kami banyak, termasuk merasakan gimana zaman berubah."

Kebanyakan tukang becak sudah merasa akrab sekali dengan becaknya. (Inibaru.id/ Bayu N)

Di tengah lesunya profesi tukang becak dan banyaknya teman sejawat yang memilih pensiun atau banting setir, Wahidin mencoba bertahan. Dia bahkan memilih bergeming saat keluarga berkali-kali memintanya berhenti. Usia yang sudah senja menjadi alasan utama mereka menyuruh dia pensiun.

Wahidin tahu, dia sudah tua dan penghasilan sebagai penarik becak nggak seberapa. Namun, dia tetap saja menolak permintaan keluarganya. Menurutnya, lebih enak beristirahat di pinggir jalan bersama becaknya ketimbang harus berdiam diri di rumah dan nggak melakukan apa-apa.

"Bingung mau ngapain kalau harus berhenti jadi tukang becak," seru lelaki paruh baya asal Gayamsari itu tercekat, lalu tertawa kecut.

Sepuluh Ribu Nggak Masalah

Seonggok becak tanpa pemiliknya kerap terlihat di tepi jalan. (Inibaru.id/ Bayu N)

Wahidin memang nggak berharap segera pensiun dari profesi sebagai tukang becak. Walau pelanggan becak jauh menyusut dan persaingan dengan ojek daring kian timpang, dia mengaku nggak peduli. Yang terpenting baginya adalah tetap keluar rumah, sembari berharap bisa pulang dengan membawa uang.

“Sepuluh ribu (Rp 10 ribu) nggak masalah. Yang penting tetap usaha untuk beliin cucu jajan,” ujarnya sungguh-sungguh.

Hal serupa juga dirasakan Ayub, penarik becak dari Semarang yang telah menjalani profesi tersebut selama puluhan tahun. Dia mengaku nyaman dengan pekerjaannya sebagai tukang becak dan berharap bisa melakukan rutinitasnya, seperti mengayuh atau tidur siang di atas becak, lebih lama lagi.

Stamina kakek kelahiran 1955 itu memang sudah nggak lagi prima, pendengarannya juga mulai terganggu, dan penyakit dalam menggerogoti tubuhnya. Namun, dia enggan menyerah dan tetap berusaha menjalani hari-hari sebagai penarik becak.

"Saya pilih tetap berangkat pagi pulang malam meski hasilnya sering mengecewakan," terang Ayub terbata-bata. Wajahnya sayu dan matanya terlihat kepayahan.

Beberapa tukang becak bahkan menganggap becaknya sebagai belahan jiwa. (Inibaru.id/ Audrian F)

Oya, Ayub biasanya mulai mengayuh pedal becaknya sejak pagi. Berangkat pukul 07.00 WIB, dia akan menghabiskan sebagian waktunya dengan berkeliling, berharap ada orang yang membutuhkan jasanya. Jika lelah, dia akan rehat sejenak dan baru pulang ke rumah menjelang Magrib.

"Sekaang ini cuma mangkal (di satu tempat untuk dapat penumpang) hampir mustahil. Untuk jemput rezeki ya harus keliling dari satu jalan ke jalan lain," ujar lelaki yang kadang menyalahkan ojek daring sebagai biang sepinya penumpang becak tersebut.

Kendati sudah berjam-jam berkeliling, nggak ada jaminan Ayub bakal dapat penumpang. Bahkan, kerap kali dia cuma dapat peluh dan capai selama seharian, sedangkan kursi penumpang nggak sekalipun terisi. Kendati begitu, dia tetap lebih memilih bekerja karena sudah terlalu akrab dengan profesi itu.

“Kalau sehari nggak naik becak malah terasa aneh. (Becak itu) sudah seperti belahan jiwa!” kelakar lelaki penyuka musik koplo yang sudah menarik becak sejak usia 20-an tahun tersebut.

Wah, keren! Kendati sering dikecewakan, mereka masih saja setia dengan "kawan lama" ya! Sosok-sosok pejuang di atas roda tiga ini agaknya bisa menjadi anutan, bahwa perasaan kalah hanyalah dimiliki orang-orang yang menyerah. Ha-ha. (Bayu N/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: