Becak-Becak di Semarang yang Terpaksa Dikayuh Menjauh

Becak-Becak di Semarang yang Terpaksa Dikayuh Menjauh
Becak yang nggak lagi beroperasi dan diletakkan begitu saja di antara barang-barang nggak terpakai. (Inibaru.id/ Bayu N)

Becak-becak di Semarang terpaksa dikayuh kian menjauh lantaran nggak lagi diminati. Jalanan kota yang lebar justru menjadi sangat sempit bagi mereka, yang akhirnya gagal menyelamatkan profesi yang sudah digeluti sejak awal abad ke-20 itu.

Inibaru.id - Sore itu saya tengah berkendara menapaki Jalan Dr Cipto Semarang ketika melihat beberapa becak terparkir di bahu jalan. Nggak ada dinaiki penumpang. Sebagian kereta tak berkuda itu hanya teronggok diduduki pengayuhnya, sedangkan sebagian lainnya kosong melompong.

Pikiran saya pun jadi terlempar jauh ke belakang. Kali terakhir saya naik becak sepertinya sudah lama sekali, mungkin pas saya dikhitan sekira 12 tahun silam. Saat itu belum ada ojek online dan saya yang tertatih-tatih pasca-sunat memilih naik becak yang cenderung "aman" dibanding angkot atau bus.

Kenangan itu bikin saya sedih, yang tahu-tahu sudah membuat saya berhenti di depan dua tukang becak yang agaknya tengah menunggu penumpang. Saya pun memperkenalkan diri. Sejurus kemudian saya tahu salah seorang dari mereka bernama Gondes. 

Saya tahu, Gondes bukanlah nama sebenarnya. Namun, lelaki yang suka mengenakan kacamata hitam itu memang biasa disapa demikian. Sebentar berbasa-basi, dari Gondes saya tahu bahwa profesi tukang becak sangatlah mengenaskan saat ini.

Terdesak Ojek Daring

Banyak tukang becak menghabiskan waktu dengan menunggu penumpang di pinggir jalan. (Inibaru.id/ Bayu N)
Banyak tukang becak menghabiskan waktu dengan menunggu penumpang di pinggir jalan. (Inibaru.id/ Bayu N)

Tanpa bertanya pun saya bisa melihatnya. Berbeda dengan zaman ketika saya dikhitan dan sebelum-sebelumnya, sepertinya kendaraan pribadi sudah lebih mudah ditemui sekarang, yang tentu saja membuat profesi tukang becak kurang diminati. Gondes pun membenarkan hal tersebut.

Menurutnya, orang-orang lupa pada becak karena sudah punya kendaraan sendiri. Kondisi tersebut, lanjutnya, kian diperparah setelah kemunculan ojek daring.

“Dulu saya bisa dapat Rp 70 ribu dalam sehari, Mas," kenang Gondes dengan muka masam. "Sekarang, boro-boro segitu, dapat satu penumpang saja sudah bersyukur.”

Saya sempat berpikir, becak nggak lagi relevan, utamanya di kota besar, lantaran kendaraan kayuh tersebut kurang gesit dan memakan tempat. Di tengah modernitas zaman yang menuntut kecepatan dan efisiensi ruang, becak tentu saja bakal tersingkir dan terbuang.

Tersingkir Berkali-kali

Bahkan, beberapa becak tampak mengonggok di pinggir jalan. (Inibaru.id/ Bayu N)
Bahkan, beberapa becak tampak mengonggok di pinggir jalan. (Inibaru.id/ Bayu N)

Kalau kamu perhatikan, larangan tukang becak beroperasi di sejumlah ruas jalan protokol kota besar bukan lagi isapan jempol. Padahal, moda darat yang konon namanya diambil dari bahasa Hokkien be chia yang berarti "kereta kuda" itu pernah begitu diminati pada era penjajahan Jepang di Nusantara.

Nggak ada yang tahu pasti kapan becak mulai muncul di Indonesia. Namun, Lea Jellinek dalam Seperti Roda Berputar menulis, becak didatangkan dari Singapura dan Hongkong ke Batavia pada 1930-an. Namun, Djawa Sinbun terbitan 1943 mengklaim becak justru didatangkan dari Makassar ke Batavia.

Sempat dilarang beroperasi pada zaman kolonialisme Hindia-Belanda karena kurang aman dan bikin macet, becak justru menjadi alat transportasi paling masyhur pada era pendudukan Jepang. Pamor si roda tiga itu terus meningkat hingga era kemerdekaan.

Namun, jumlah becak mulai dibatasi di Jakarta pada 1966 karena jumlahnya terlalu banyak. Nggak lama kemudian bajaj dan helicak didatangkan untuk menggantikan si roda tiga tanpa mesin ini. Pada 1988, becak resmi dilarang di ibukota karena alasan nggak manusiawi.

Berkali-kali becak tersingkir dari jalanan, tapi entah kenapa tukang becak terus saja muncul di sudut-sudut kota dan selalu mempunyai pelanggan. Namun, agaknya tidak untuk sekarang, lantaran kali ini mereka tergerus bukan karena peraturan, tapi posisi yang telah tergantikan.

Angin yang Berhenti Berembus

Di jalan Indragiri, Mlatibaru, kota Semarang masih terdapat penitipan dan penyewaan becak. (Inibaru id/ Audrian F)
Di jalan Indragiri, Mlatibaru, kota Semarang masih terdapat penitipan dan penyewaan becak. (Inibaru id/ Audrian F)

Masih lekang dalam ingatan Gondes betapa mudahnya mendapat penumpang pas awal-awal menjadi tukang becak. Dia mengaku nggak perlu berkeliling kota untuk mencari penumpang. Para pelanggan inilah yang bakal menyambangi pangkalan mereka.

Sayangnya, angin kini telah berhenti berembus. Kini, mereka harus berkeliling menjemput bola jika pengin dapat penghasilan. Itu pun belum tentu dinaungi keberuntungan. Menurut Gondes, dalam sehari dapat satu penumpang saja dia sudah sangat bersyukur.

“Sekarang teman juga sudah banyak yang memilih pensiun. Ya mau bagaimana lagi; seret!” tutur Gondes. Matanya agak berkaca-kaca.

Yap, pekerjaan sebagai tukang becak memang sesulit itu. Kendati demikian, dia nggak mau menyerah. Meski nggak terlalu banyak, Gondes meyakini masih banyak kalangan yang akan memakai jasanya, semisal untuk mengantar orang yang mau ke pasar atau mengangkut barang.

Tak Punya Pilihan

Lantaran banyak tukang becak yang memutuskan berhenti atau berganti profesi, banyak becak di persewaan ini yang nggak terurus. (Inibaru.id/ Audrian F)
Lantaran banyak tukang becak yang memutuskan berhenti atau berganti profesi, banyak becak di persewaan ini yang nggak terurus. (Inibaru.id/ Audrian F)

Gondes dkk bukannya nggak mau keluar dari profesi sebagai tukang becak. Dia mengaku pengin menyudahi pekerjaan yang kurang menjanjikan itu. Namun, dia sudah tua dan nggak ada pekerjaan lain yang memungkinkan untuk dia pegang saat ini.

Hal serupa juga diungkapkan Junaidi, rekan sejawat Gondes. Dia menyadari, pekerjaan sebagai tukang becak sudah nggak lagi bisa diharapkan. Dia melihat sendiri gimana tempat persewaan becak yang dulu bertebaran di Kota Semarang kini mulai redup.

"Tempat sewa (becak) mulai gulung tikar," tutur Junaidi, menceritakan sejumlah tempat sewa becak di Kota Lunpia yang dulu jadi andalan para penarik becak yang nggak punya becak. "Mereka sekarang memilih ngejualnya dengan harga murah."

Seperti Gondes, dia juga pengin mengubah nasib dengan meninggalkan profesi pengayuh si roda tiga ini. Namun, usianya yang sudah cukup tua untuk mencari pekerjaan lain. Nggak hanya dirinya, sebagian besar tukang becak yang bertahan di Semarang juga mengalami nasib serupa.

"Kalau nggak 'narik' ya nggak ada pekerjaan lain. Kami sudah tua, susah menemukan pekerjaan lain," ucapnya lirih, yang hanya bisa saya timpali dengan anggukan kepala.

Menjelang Magrib, dengan gontai saya kembali ke tempat parkir. Di atas kendaraan, saya sempat berhenti sembari melihat dari kejauhan para tukang becak yang sedang "mangkal" tersebut, berharap ada 1-2 orang yang akan naik becak. Namun, penantian itu sia-sia.

Apakah kisah becak-becak di Semarang tersebut bakal benar-benar berakhir kali ini? Ah, sedih membayangkan moda darat penuh kenangan itu lenyap dari pandanga! (Bayu N/E03)