BerandaHits
Jumat, 23 Apr 2020 14:01

Beberapa Metode yang Dapat Dilakukan untuk Melihat Hilal

Beberapa metode yang bisa dilakukan unruk melihat hilal. (Null)

Keputusan penentuan awal bulan puasa biasanya dilakukan berdasarkan hasil pengecekan hilal. Sebenarnya, bagaimana sih cara untuk melihatnya?

Inibaru.id - Rukyatul hilal atau aktivitas melihat hilal biasa dilakukan pada hari ke 29 atau malam ke 30 bulan Syaban. Jika hilal terlihat, maka bisa ditentukan kapan bulan Ramadan dimulai pada malam tersebut.

Ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen Marufin Sudibyo menjelaskan hilal sebagai bulan sabit tertipis yang berada dalam posisi rendah di atas cakrawala langit bagian barat. Hilal bisa diamati persis selepas matahari terbenam.

Marufin yang merupakan seorang astronom amatir menjelaskan tentang tiga metode untuk melihat hilal. Berikut adalah metode-metode tersebut.

Menggunakan Mata Telanjang

“Metode pertama adalah menggunakan mata telanjang, tanpa alat bantu optik sama sekali. Sehingga menghasilkan fenomena kasatmata-telanjang,” tuturnya pada Rabu (22/4).

Metode ini memiliki kelemahan jika langit dipenuhi dengan awan sehingga hilal tentu nggak bisa dilihat.

Menggunakan Mata Telanjang dan Teleskop

Metode kedua dilakukan dengan menggunakan alat bantu optik seperti teleskop. Meski begitu, saat menggunakannya, kita akan tetap menggunakan mata.

“Ini menghasilkan fenomena kasatmata-teleskop,” tambahnya.

Menggunakan Teleskop yang Dilengkapi dengan Sensor

Metode terakhir untuk melihat hilal adalah dengan memakai teleskop yang sudah dilengkapi dengan sensor atau kamera khusus

“Sensor atau kamera ini memproduksi denyut elektronik yang bisa diolah sebagai citra atau gambar. Ini menghasilkan fenomena kasat-kamera,” jelas Marufin.

Dari ketiga metode ini, metode melihat dengan mata telanjang dan menggunakan alat bantu teleskop adalah yang paling sering dilakukan di Indonesia

Melihat hilal dengan mata telanjang dan dibantu teleskop. (sultra.kemenag)

Metode Hisab dan Protokol Rukyatul Hilal

Nggak cuma dengan melakukan Rukyatul Hilal, ada cara lain yang bisa dilakukan untuk menentukan penetapan awal Ramadan atau Hari Raya Idulfitri. Cara itu adalah metode hisab atau perhitungan. Berbeda dengan Rukyatul Hilal, metode hisab bisa dilakukan jauh-jauh hari untuk menentukan awal Ramadan. Meski lebih rumit, metode Rukyatul Hilal ternyata masih dipilih sebagian besar umat Muslim di Indonesia.

Protokol dalam melakukan Rukyatul Hilal diawali dengan memilih lokasi dan melaksanakan perhitungan terkait posisi bulan di lokasi tersebut. Proses pengamatan dilakukan pada tanggal 29 Sya'ban (untuk penentuan awal Ramadhan) atau 29 Ramadan (untuk penentuan Idulfitri).

Perhitungan ini bisa dilakukan secara manual atau dilakukan dengan menggunakan perangkat tertentu yang bisa menghasilkan perhitungan otomatis.

“Jika digelar dengan menggunakan teleskop, pada saat ini telah ada sistem teleskop semi-otomatis yang didalamnya juga mengandung perangkat kecil untuk komputasi. Petugas nantinya tinggal menerima hasil dan mengkalibrasi teleskopnya sesuai prosedur,” papar Marufin.

Petugas bisa dengan mudah menggunakan teleskop semi-otomatis untuk mengetahui posisi bulan di langit. Hanya, mereka juga menggunakan GPS dan perangkat waktu khusus. Teleskop ini juga bisa menghasilkan citra di layar komputer untuk mengetahui apakah hilal bisa dilihat atau tidak.

Lokasi pengamatan hilal sangat bervariasi. Ada lokasi permanen yang disebut sebagai balai rukyat, menara masjid, padang terbuka, atau bahkan di pinggir pantai.

“Medan pandangan luas ke arah barat dan tidak terbatasi oleh halangan (obstacles) tertentu di cakrawala baik berupa bukit, gunung, maupun pepohonan tinggi,” jelas Marufin.

Kamu tertarik untuk melihat hilal sore ini, nggak nih Millens? (Kom/MG29/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: