BerandaAdventurial
Jumat, 17 Okt 2024 16:35

Pabrik Rokok 'Delima' dan Masa Jaya HM Ashadi di Kudus

Yusak Maulana, salah seorang keturunan HM Ashadi sedang meceritakan tentang bangunan yang menandai puncak kejayaan HM Ashadi. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Memulai bisnis kretek dengan jenama 'Terong', HM Ashadi mengalami puncak kejayaan melalui Pabrik Rokok 'Delima' sebelum meninggal mendadak pada 1952.

Inibaru.id – Nama Haji Mas Ashadi atau HM Ashadi mungkin kalah kondang dibanding Nitisemito, tapi perannya dalam sejarah industri kretek nggak bisa dipandang sebelah mata. Di Kudus, lelaki yang tutup usia pada 1952 ini juga turut mengiringi perjalalanan rokok khas Indonesia tersebut.

Terlahir dengan nama Moersodo yang berarti "tercerahkan" pada 1894, dia mengganti namanya menjadi Ashadi setelah menunaikan ibadah haji pada 1913. Perjalanan hidupnya penuh liku sebagaimana pertumbuhan industri kretek di Tanah Air yang juga setali tiga uang.

Ashadi mulai dikenal sebagai pengusaha setelah mendirikan pabrik rokok Cap Terong pada 1916, yang kemudian berganti nama menjadi Cap Delima. Dari skala kecil, pabriknya terus berkembang hingga mampu mempekerjakan sekitar 4.000 buruh untuk memproduksi 4 juta batang rokok klobot per hari.

"Pada masa puncak kejayaan, rokok Delima dipasarkan hingga berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Semarang, Banyuwangi, Jakarta, hingga Lampung," tutur Yusak Maulana, salah seorang keturnan HM Ashadi yang ditemui Inibaru.id di salah satu bangunan kepunyaan HM Ashadi, belum lama ini.

Bangunan Megah di Pusat Kota

Kompleks kantor yang menyatu dengan kediaman HM Ashadi masih terawat dengan baik hingga sekarang. (Inibari.id/ Imam Khanafi)

Yusak, begitu dia biasa disapa, kemudian bercerita tentang bangunan megah seluas kurang lebih 2.000 meter persegi yang berada di bilangan Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus ini. Berdasarkan penuturannya, di sinilah Ashadi tinggal serta mendirikan Pabrik Rokok (PR) Delima.

"Bangunan ini adalah salah satu bagian penting dari sejarah industri rokok di Kudus," terangnya sembari menunjuk sejumlah bangunan tua yang tampak masih berdiri kokoh di dekatnya. "Kantor ini selesai dibangun pada 1931, bertepatan dengan kelahiran H Foead Ashadi, salah satu putra HM Ashadi."

Pembangunan kantor tersebut, dia melanjutkan, nggak dibuat sekaligus; bertahap, sejalan dengan pembelian lahan yang juga dilakukan dalam beberapa fase. Dari segi bentuk bangunan, desainnya klasik menyesuaikan arsitektur yang berkembang kala itu.

"Kantor ini nggak hanya jadi saksi bisu perjalanan industri rokok di Kudus, tapi juga lekat dengan kehidupan pribadi HM Ashadi," akunya.

Kompleks Kantor dan Rumah

Kantor HM Ashadi saat ini menjadi Museum Kecil yang menyimpan beberapa koleksi perjalanan hidupnya serta puncak kejayaan Pabrik Rokok Delima. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Salah satu detail menarik saat memasuki bekas kantor HM Ashadi ini terdapat pada tulisan "Selamet Masoek" yang terpampang elegan di kaca jendela bersama logo HMA (Haji Mas Ashadi). Pintu masuk kantornya terdiri atas dua daun, luar dan dalam.

“Kantor ini memiliki dua susun daun pintu; bagian luar tanpa kaca, lalu ada grafir buatan tangan berupa logo "Tjap Delima" yang dikerjakan sendiri oleh HM Ashadi," jelas Yusak. "Kesannya personal, karena digunakan untuk berbagai kegiatan penting keluarga juga."

Menurut Yusak, di tempat tersebut HM Ashadi biasa menerima tamu dan relasi bisnis, yang dijamu dalam suasana hangat dan kekeluargaan. Lebih dari itu, ruangan ini juga menjadi menyimpan momen penting keluarganya, termasuk saat beberapa buah hatinya melangsungkan pernikahan di tempat ini.

"Hampir seluruh kehidupan pribadi HM Ashadi dan keluarganya terpatri di tempat ini. Jadi, tempat ini lebih besar maknanya dari sekadar kantor, karena di sinilah beliau menyimpan kenangan," sahutnya.

Menikahi Master Saus

Salah satu dokumen yang tersimpan di Museum Kecil HM Ashadi. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Dari awal merintis usaha, Yusak mengenang, HM Ashadi selalu ditemani Mas’amah, sang istri yang lekat dengan satu wejangan sederhana untuk selalu rukun dan berdoa. Nilai inilah yang kemudian dijunjung tinggi oleh anak cucunya.

"Sing do rukun, do dedonga (selalu rukun dan senantiasa berdoa) menjadi nilai yang terus diwariskan di keluarga kami." kenangnya.

Lebih dari itu, sosok penting yang juga menemani perkembangan PR Delima adalah Fatimah, gadis keturunan Belanda asal Temanggung yang kemudian menjadi istri kedua HM Ashadi. Perempuan yang juga dikenal sebagai Mak Fat ini adalah peracik saus aroma tembakau yang mahir.

"Beliau dijuluki 'Master Saus'. Kesuksesan rokok Delima salah satunya berasal dari keahlian Mak Fat meracik aroma rokok Delima yang khas," tukasnya. "Biang saus disimpan di Gudang Murni, bangunan yang kini menjadi bagian dari Pondok Ma'had Muallimat setelah beralih kepemilikan pada 2011."

HM Ashadi meninggal secara tiba-tiba pada 1952. Namun, hingga kini, fotonya masih terpajang di rumah keluarga besar mereka, menjadi pengingat bahwa kemasyhuran Kudus sebagai Kota Kretek juga nggak lepas dari usahanya mendirikan PR Delima. (Imam Khanafi/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: