BerandaAdventurial
Selasa, 19 Apr 2021 09:51

Mengenal Dark Tourism, Piknik Mengenang Bencana yang Dipopulerkan John Lennon

Kuburan liang batu di Tana Toraja, salah satu dark tourism populer di Indonesia. (wisatapriangan via IDN)

Piknik mungkin identik dengan kegiatan bersenang-senang di suatu tempat. Tapi tahukah kamu kalau ada jenis piknik yang menyajikan napak tilas tragedi dan kematian? Seram sih, tapi nggak bisa dimungkiri bahwa ada wisatawan yang justru tertarik mengenang hal-hal yang mengandung nilai sejarah yang kelam. Hal ini dikenal sebagai dark tourism.

Inibaru.id – Istilah dark tourism kali pertama diperkenalkan John Lennon dan Malcolm Foley melalui bukunya yang berjudul "Dark Tourism: The Atraction of Death and Disaster". Awalnya sih, dark tourism cuma dikaitkan dengan hal-hal yang berbau kematian, perang, dan bencana. Tapi, seiring berjalannya waktu, aktivitas dan perihal mistis juga dikaitkan dengan dark tourism.

Seaton (1996) dalam Dirgantara (2013) menyusun satu terminologi baru bernama ‘Thana Tourism’, yaitu keseluruhan atau sebagian, baik itu nyata maupun simbolik mengenai kematian sebagai motif untuk berkunjung. Sementara itu, Damanik (2012) memberi penjelasan bahwa dark tourism merupakan perjalanan ke situs-situs yang mempunyai tragedi, kisah, atau sejarah tentang kematian manusia secara tragis dan memilukan atau mengenaskan dan kegiatan untuk menguatkan ingatan atas peristiwa dan korbannya di situs tersebut.

Ternyata, beberapa daerah sudah memasukkan ‘keanehan-keanehan’ tersebut untuk menjadi bagian dari atraksi wisata, Millens. Selain berdampak positif pada sektor ekonomi lokal, dark tourism diyakini dapat memberikan banyak perenungan terhadap sebuah peristiwa dan sejarah kepada para wisatawan.

Bentuk-bentuk Dark Tourism

Stone (2006), membagi dark tourism menjadi beberapa bentuk, yaitu:

1. Dark Fun Factories

Jenis dark tourism ini didasari oleh suatu peristiwa fiksi maupun nonfiksi, misalnya Benteng Abad Pertengahan di Romania. Jadi, banyak orang yang menganggap tempat ini berkaitan dengan kisah Dracula.

2. Dark Exhibitions

Menampilkan barang atau hal-hal yang berkaitan dengan kematian seperti “Body Worlds” Exhibition. Dalam pameran ini menampilkan mayat-mayat yang diawetkan dengan tujuan pendidikan kesehatan. Eh, kamu juga bisa menemukan bentuk Dark Exhibitions di Tana Toraja, lo.

3. Dark Dungeos

Lawang Sewu Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Menampilan sejarah kelam yang terjadi di masa lampau dengan tujuan pendidikan sekaligus hiburan seperti Galeri Keadilan di Nottingham. Tempat ini merupakan bekas penjara di masa lampau. Nah, kalau di Indonesia, kamu juga bisa menemukan jenis piknik ini di Lawang Sewu di Semarang.

4. Dark Shrines

Jenis dark tourism ini berbentuk objek wisata yang berfungsi sebagai penghormatan dan memorial terhadap orang yang sudah meninggal. Sebut saja Gerbang Kensington Palace yang berfungsi untuk mengenang kematian Lady Diana, Princess of Wales tahun 1997, atau Monumen Ground Zero Bali (Tugu Peringatan Bom Bali).

5. Dark Conflict Sites

Dark tourism ini berbentuk pendidikan terkait segala hal yang berhubungan dengan perang dan sejarahnya misalnya Monumen Plataran di Kabupaten Sleman atau Monumen Junyo Maru di Kota Cimahi sebagai peringatan Perang Dunia II bagi mereka yang tewas dalam bencana kapal Junyo Maru.

6. Dark Resting Places

Ereveld di Kalibanteng, Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Dark tourism yang menawarkan penjelajahan permakaman terkait sejarah-sentris, konservational, dan commemorative ethic seperti pada permakaman Pere-Lachaise di Paris, atau di Ereveld (Makam Kehormatan Belanda) yang berada di beberapa kota di Indonesia.

7. Dark Camps of Genocide

Bentuk dark tourisme yang satu ini merupakan yang paling kejam. Objek yang ditampilkan memiliki sejarah pembunuhan, genosida, maupun bencana alam yang menelan banyak korban. Letusan Gunung Tambora, bencana tsunami di Aceh yang diabadikan lewat Museum Tsunami merupakan contoh dark camps of genocide.

Bagaimana Masyarakat Menyikapi Dark Tourism?

Monumen tragedi lumpur Lapindo. (Instagram/andtarprian via IDN)

Perkembangan konsep dark tourism ini juga memiliki pro dan kontra, Millens. Kendall Hill dalam World Nomads mengatakan, dark tourism bisa menjadi konsep berwisata yang potensial. Beberapa negara seperti Rwanda, Mozambik, dan Kamboja bahkan dikabarkan memperoleh pemasukan yang cukup signifikan dari paket wisata ini.

Jika konsep berwisata sejatinya adalah untuk bersenang-senang, dark tourism justru menawarkan sebaliknya; kesedihan. Sisi baiknya, dark tourism mengajak wisatawan untuk merenung dan memberi penghormatan.

Selain itu, destinasi dark tourism juga bisa menjadi jembatan penghubung masa lalu dengan masa sekarang. Mereka yang datang ke destinasi dark-tourism juga bisa menangkap emosi-emosi sedih yang nggak akan mereka dapatkan ketika mengunjungi objek wisata pada umumnya. Meski begitu, ada yang berpendapat, dark tourism bisa mengganggu kesakralan dari destinasi wisata yang seharusnya dijaga dan dipertahankan.

Potensi Dark Tourism di Indonesia

Ada banyak sejarah potensial yang bisa dikembangkan menjadi dark tourism di Indonesia. Sebut saja cerita letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa pada 1815 yang dahsyat. Letusan Sang Ancala ini nggak cuma mengerikan bagi warga lokal, namun juga masyarakat Indonesia pada umumnya.

Bayangkan saja, suara letusan Gunung Tambora terdengar hingga Sumatera. Dampak letusan terasa sampai lebih dari 2.000 Km. Terjangan gelombang tsunami membekas hingga melahirkan Danau Satonda. Nggak kurang dari 71.000 jiwa menjadi korban.

Bukan cuma itu, satu tahun pasca-letusan Tambora, dunia mengalami perubahan cuaca drastis selama tiga tahun! Iklim di Asia Timur pun terganggu. Banyak negara yang mengalami gagal panen. Nggak terhitung berapa orang yang meregang nyawa karena lapar. Bahkan, letusan Tambora juga berdampak ke Eropa dan menyebabkan 200 ribu jiwa meninggal pada tahun berikutnya.

Selain sejarah dan cerita Gunung Tambora, masih ada banyak tempat lain yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Lubang Buaya di Jakarta, Desa Trunyan di Bali, Museum Tsunami di Aceh, Bunker Kaliadem di Yogyakarta, Monumen Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Kuburan di Tana Toraja, Museum Perang Dunia II di Tarakan, merupakan beberapa contoh potensial dark tourism.

Etika Dark Tourism

Kalau kamu tertarik dengan jenis piknik ini, ada hal yang harus kamu perhatikan, Millens. Selain meluruskan niat, kamu juga nggak boleh melanggar aturan di objek tersebut. Pastikan kamu mengikuti semua instruksi seperti menjaga lisan dan perilaku. Bagaimanapun, kepekaan sangat diperlukan.

Jadi, kamu tertarik nggak jadi wisatawan dark tourism? (Eticon,Worldnomad/IB21/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: