BerandaAdventurial
Kamis, 20 Nov 2024 17:34

Lawang Keputren Bajang Ratu, 'Peninggalan Majapahit' yang Terlempar hingga Lereng Muria

Lawang Kaputren Bajang Ratu atau yang dikenal dengan situs Gapura Majapahit di Pati. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Masyarakat setempat percaya, Lawang Kaputren Bajang Ratu di Lereng Muria adalah peninggalan Majapahit yang terlempar hingga ratusan kilometer dari tempat asalnya di Trowulan.

Inibaru.id – Tiba di Situs Lawang Keputren Bajang Ratu, sebentuk pendapa sederhana menyambut saya dengan ketenangannya. Hari itu memang nggak ada pelancong lain yang berkunjung. Selain saya, hanya ada satu orang di tempat yang dikenal sebagai "Gapura Majapahit" itu, yakni Budi Santoso.

Lelaki yang akrab disapa Mbah So itu merupakan sesepuh Dukuh Rendole, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, tempat diletakkannya benda cagar budaya berbahan kayu jati murni tersebut. Dengan kretek menyala di sudut bibirnya, dia langsung tersenyum ramah saat melihat kedatangan saya.

“Setelah Majapahit runtuh tahun 1479, datanglah para wali menyebarkan Islam di Tanah Jawa,” tutur Mbah So begitu kami duduk bersisian, mengawali kisah Lawang Keputren Bajang Ratu yang saya tanyakan. "Dari situlah cerita Gapura Majapahit ini tercipta."

"Salah satu kisah paling menarik tentang pintu ini adalah cerita Sunan Muria yang menikahi Dewi Sapsari," lanjutnya sembari menunjuk lawang atau pintu kuno yang dipagari dinding kaca tersebut.

Syarat untuk Menemui sang Ayah

Berdasarkan penuturan Mbah So, Dewi Sapsari adalah putri dari Ki Gede Sebo Menggolo, keturunan dari salah seorang penguasa terkenal di Kerajaan Majapahit, yakni Kertabhumi alias Brawijaya V. Pernikahan Dewi Sapsari dengan Sunan Muria melahirkan seorang putra bernama Raden Kebo Nyabrang.

“Kebo Nyabrang yang akhirnya tahu bahwa dirinya adalah putra Sunan Muria pun ingin bertemu sang ayah di lereng Muria,” ungkap Mbah So sembari mengingat-ingat kembali kisah itu.

Budi Santoso atau akrab disapa Mbah So sedang asyik bercerita tentang sejarah keberadaan Lawang Kaputren Bajang Ratu yang merupakan cagar budaya di Pati. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Namun, pertemuan tersebut nggak bisa terjadi dengan mudah karena Sunan Muria belum bisa mengakui Kebo Nyabrang sebagai putranya. Ulama bernama asli Raden Umar Said yang merupakan anak dari Sunan Kalijaga ini kemudian menetapkan satu syarat.

“Kalau kamu mau aku akui, bawalah pintu keputren Majapahit dari Trowulan ke sini dalam satu hari!” demikian syarat Sunan Muria untuk Kebo Nyabrang, sebagaimana dikatakan Mbah So.

Perebutan Pintu Keputren Majapahit

Sunan Muria tinggal di Lereng Muria, diperkirakan sekitar daerah Dawe, Kudus. Sementara, Trowulan terletak di Mojokerto. Dari segi jarak, kala itu hampir mustahil menempuh perjalanan bolak-balik Kudus-Mojokerto dalam sehari. Namun, Kebo Nyabrang tetap menerima tantangan ini.

"Dalam pencarian, Kebo Nyabrang bertemu Raden Rangga, pemuda lain yang juga mencari pintu (keputren Majapahit) Bajang Ratu demi meminang Rara Pujiwati, putri Sunan Ngerang," papar Mbah So.

Tenang dan sejuk dalam naungan pepohonan nan rimbun menjadi suasana sehari-hari di sekitar area Lawang Kaputren Bajang Ratu. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Karena nggak ada yang mau mengalah, kedua orang tersebut pun saling berkejaran, lalu beradu kesaktian di hutan yang dipercaya Mbah So dan masyarakat Rendole berlokasi di sebelah barat Pati. Pertarungan ini, dia melanjutkan, berlangsung selama 35 hari dan nggak kunjung mendapatkan pemenang.

"Sunan Muria kemudian turun tangan, menghentikan perkelahian dengan mengakui Kebo Nyabrang sebagai putranya," ujar Mbah So.

Ditetapkan sebagai Cagar Budaya

Setelah konflik reda, pintu yang konon diambil dari Gapura Bajang Ratu, peninggalan Majapahit di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto itu tertinggal di wilayah yang kini dinamai Dukuh Rendole. Pintu tersebut kemudian dikenal sebagai Lawang Kaputren Bajang Ratu hingga sekarang.

Melihat dari dekat Gapura Majapahit membuat saya teringat kembali kisah dramatis yang baru saja dituturkan Mbah So. Benda kuno ini tampak megah berukir boma bersayap garuda yang melambangkan penjaga abadi. Bekas sesaji dan dupa di depan pintu menunjukkan penghormatan masyarakat setempat terhadap situs ini.

“Lawang Keputren Bajang Ratu adalah lambang budaya lama yang hidup bersama ajaran Islam yang bijaksana di Tanah Jawa,” tutup Mbah So.

Ditetapkan sebagai cagar budaya pada 1989, Lawang Keputren Bajang Ratu menjadi bukti sejarah yang terpisah sejauh ratusan kilometer dari pusat pemerintahan Majapahit di Trowulan. Kalau kebetulan sedang berkunjung ke Pati, jangan lupa mampir ke sini ya, Millens! (Imam Khanafi/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: