BerandaAdventurial
Jumat, 16 Okt 2025 15:27

Detour Destinations; Tren Wisata Kekinian yang Menjauhkan Diri dari Keramaian

Ilustrasi: Menyusuri kota dan berbaur dengan warga lokal bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan saat traveling ke detour destinations. (Getty Images/lechatnoir via Detik)

Alih-alih berkunjung ke tempat wisata yang sedang banyak dibicarakan di medsos, belakangan tren traveling di kalangan generasi muda justru merujuk pada 'detour destinations' yang mengutamakan pengalaman ketimbang popularitas.

Inibaru.id - Memasuki 2025, sejumlah laman panduan traveling global kompak menyebutkan bahwa dunia pariwisata tengah mengalami pergeseran besar. Wisatawan kini nggak lagi puas hanya mengunjungi landmark terkenal atau ikut paket tur seragam yang sibuk mengejar spot foto populer.

Khususnya di kalangan anak muda, muncul sejumlah tren baru dalam berwisata antimainstrem, sa;aj satunya adalah dengan berkunjung ke tempat-tempat wisata nggak populer yang menawarkan pengalaman autentik, jauh dari hiruk pikuk, dan berada di luar jalur utama, tapi nggak kehilangan esensi dari piknik.

Tempat-tempat itu dikenal luas sebagai detour destinations. Anjas, seorang travel blogger asal Yogyakarta mengatakan, tren berburu tempat wisata di luar jalur utama para turis ini memang ngetren di kalangan komunitas pelancong. Nggak hanya di Indonesia, tapi secara global.

"Tujuannya adalah untuk menyuguhkan pengalaman berbeda dari destinasi populer seperti Paris, Tokyo, atau atau Bali kalau di Indonesia. Tujuannya bisa berupa desa terpencil, kota kecil dengan sejarah unik, atau bentang alam yang jarang dijamah," sebutnya, Rabu (15/10/2025).

Kemunculan Detour Destinations

CEO Asmallworld AG, Jan Luescher mengungkapkan, keistimewaan detour destinations bukan hanya karena lebih sepi, tetapi juga menghadirkan nuansa yang autentik; mulai dari budaya lokal yang masih terjaga, lanskap alami yang belum dieksploitasi, hingga interaksi langsung dengan masyarakat setempat.

“Wisatawan kini ingin menjelajah tempat yang tidak sekadar menjadi latar belakang foto media sosial, tetapi juga memberikan pengalaman yang lebih bermakna,” tuturnya, belum lama ini.

Secara garis besar, ada empat faktor utama yang mendorong tumbuhnya detour destinations, yakni:

1. Kesadaran akan keberlanjutan

Wisatawan makin peduli pada dampak lingkungan. Pilihan destinasi alternatif berarti mengurangi beban di lokasi-lokasi yang sudah penuh sesak.

2. Mencari pengalaman yang autentik

Para pelancong muda yang didominasi milenial dan zilenial memiliki kecenderungan untuk mencari destinasi wisata yang memiliki kedekatan budaya alih-alih sekadar sekadar dokumentasi perjalanan. Nah, pengalaman itu lebih memungkinkan untuk didapatkan jika mereka memilih destinasi yang nggak mainstrem.

3. Akses yang makin mudah

Arus informasi yang begitu cepat dan bersifat global membuat kita dengan mudah mengulik destinasi hidden gem yang acap dibagikan orang. Dengan infrastruktur dan teknologi perjalanan yang memadai dan banyak pilihan, kita juga menjadi lebih mudah untuk mencapai lokasi-lokasi tersebut.

4. Lebih leluasa dan bisa hemat bujet

Berbeda dengan destinasi wisata utama, detour destinations umumnya jauh lebih sepi. sehingga kita bisa lebih leluasa menjelajah Akomodasi menuju dan selama berada di tempat tersebut, termasuk biaya makan dan penginapan, juga kemungkinan lebih ramah di kantong.

Tips Merencanakan 'Detour Destinations'

Ritual pemberian sedekah dari para biksu menjadi salah satu pengalaman menarik saat berkunjung ke 'detour destinations' Luang Prabang, Laos. (Southeast Asia Globe/Anton L Delgado)

Nah, buat kamu yang tertarik untuk merencanakan traveling ke tempat-tempat "detour destinations", ada baiknya kamu memperhatikan beberapa hal berikut ini:

  1. Lakukan riset secara mendalam. Jangan hanya mengandalkan ulasan di media sosial. Kamu bisa mencari ulasan di blog lokal atau forum perjalanan untuk informasi yang lebih mendetail sebelum memutuskan untuk melakukan perjalanan.
  2. Bersikaplah lebih fleksibel dan adaptif dengan rencana yang telah kamu buat. Berikan ruang untuk kejutan; perjalanan ke destinasi nggak populer yang tentu saja bakal dipenuhi hal nggak terduga. Dalam hal ini, kamu juga perlu melakukan antisipasi dan pastikan orang terdekatmu tahu ke mana tujuanmu. 
  3. Utamakan keberlanjutan saat memilih destinasi wisata. Carilah homestay, lalu makan di kedai-kedai lokal, serta sebisa mungkin menggunakan transportasi massal yang ramah lingkungan.
  4. Bersiaplah dengan keterbatasan, karena tempat wisata nggak populer acapkali belum dibarengi dengan fasilitas yang memadai. Karena beberapa tempat mungkin minim fasilitas modern, bawalah perlengkapan esensial seperti obat-obatan dan power bank.
  5. Berinteraksilah dengan komunitas traveling setempat untuk mendapatkan kemudahan dalam berbagai hal.: Saat berada di lokasi, sebaiknya juga kamu berbaur dengan kegiatan lokal seperti kelas memasak atau kerajinan, agar pengalaman makin berkesan.

Contoh Detour Destinations di Asia

1. Krabi, Thailand (Alternatif Phuket)

Menawarkan pantai cantik dan tebing kapur dramatis, Krabi jauh lebih tenang dibanding Phuket. Jangan lewatkan Railay Beach dan Kuang Teao Forest Natural Park.

2. Kyoto, Jepang (Alternatif Tokyo)

Kota yang menjaga jiwa tradisional Jepang ini menghadirkan keindahan kuil, jalan bambu Arashiyama, dan upacara minum teh yang khas.

3. Gyeongju, Korea Selatan (Alternatif Seoul)

Dijuluki “museum tanpa dinding”, Gyeongju penuh dengan situs warisan dunia UNESCO seperti Bulguksa Temple dan Seokguram Grotto.

4. Luang Prabang, Laos (Alternatif Bangkok)

Kota tenang yang masuk daftar UNESCO ini menawarkan spiritualitas yang khas, air terjun Kuang Si, serta ritual pemberian sedekah biksu pada pagi hari.

Selain keempat detour destinations tersebut, tentu saja masih banyak tempat tujuan lain yang bisa kamu eksplorasi. Seiring dengan meningkatnya tren ini, besar kemungkinan akan semakin banyak tempat alternatif yang bisa kamu coba.

Perjalanan bukan lagi tentang seberapa populer tempat itu di medsos, melainkan seberapa berkesan pengalaman yang bakal kita dapatkan. Yap, nggak berlian yang ditemukan di pinggir jalan raya, bukan? (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Belajar Langsung dari Mbah Atemo, Belasan Anak Muda Lestarikan Mainan Tradisional Berbahan Kertas Bekas

6 Jul 2026

Mengenal Bunga Edelweiss Jawa, Si "Bunga Abadi" yang Justru Terancam Punah

6 Jul 2026

Dikira Bahasa Gaul, "Anjir" Justru Kosakata Lama Nelayan Pantura

7 Jul 2026

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

8 Jul 2026

Muhammadiyah Resmikan KucingMu, Kampanyekan Kepedulian terhadap Hewan

9 Jul 2026

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan, Ini Dasar Pertimbangannya

10 Jul 2026

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

13 Jul 2026

Indonesia dan India Berkolaborasi Konservasi Candi Prambanan, Perkuat Pariwisata Budaya Kelas Dunia

14 Jul 2026

Warisan Sejarah Indonesia Kembali, Dua Arca Buddha Kuno Dipulangkan dari AS

14 Jul 2026

4 Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Makanan Berbahan Tepung Tapioka Terbaik 2026 Versi Taste Atlas

15 Jul 2026

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: