BerandaAdventurial
Rabu, 12 Nov 2019 12:02

Berwisata ke Bangunan Kuno Hotel Inna Dibya Puri di Kota Semarang

Hotel Inna Dibya Puri tampak dari belakang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Hotel Inna Dibya Puri memiliki riwayat panjang. Sempat menjadi hotel mewah, tempat ini sering disinggahi oleh orang-orang terkemuka. Hotel ini juga merekam peristiwa bersejarah bagi Kota Semarang yakni Pertempuran 5 Hari. Setelah 11 tahun mati suri, akhirnya tersentuh renovasi juga.

Inibaru.id – Terus terang, saya sangat lega ketika mendengar bekas Hotel Inna Dibya Puri, salah satu cagar budaya mangkrak di Jalan Pemuda sedang direnovasi. Sebelas tahun sudah bangunan megah ini terbengkalai. Meski terkesan lamban, paling nggak ada iktikat baik pihak-pihak terkait untuk ngopeni bekas hotel termewah ini.

Saya masih ingat betul berbulan-bulan lalu saat menginjakkan kaki di sana. Dari luar, bangunan itu tampak kusam bin menyeramkan. Orang pasti berpikir dua kali jika pengin masuk. Masuk juga mau apa wong hotel sudah bukan, tempat wisata apa lagi. Tapi buat saya, tempat ini menarik lantaran menyimpan sisi historis.

Seorang pria bernama Mingan menyambut saya. Awalnya saya pikir laki-laki 64 tahun ini merupakan penjaga parkir di depan bangunan tersebut. Sehari-hari halaman depan hotel memang digunakan untuk tempat parkir.

Sebelas tahun merana, wajar saja begini nasibnya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Mingan bukan orang baru. Sebelum menjadi penjaga parkir, Mingan pernah menjadi pegawai di Hotel Inna Dibya Puri.  “Saya sudah cukup lama di sini. Sejak tahun 76. Dari masih jaya sampai sekarang cuma jadi penjaga parkir,” aku Mingan. Wah, lama banget ya, Millens.

Nggak sebatas mendatangi hotel dan ngobrol dengan Mingan, saya juga memberanikan diri untuk masuk. Kalau diamati, bangunan ini masih kokoh jadi saya nggak pengin membuang kesempatan. Mumpung ada waktu dan mumpung di siang bolong. Jadi nggak ada yang harus dikhawatirkan bukan?

Apa yang saya temukan di bagian dalam hotel bisa dibilang nggak terlalu mengejutkan. Persis seperti bayangan saya tentang bangunan mangkrak. Bau kotoran tikus bercampur kelelawar, debu, dan kerusakan di sana-sini. Hm, siapa mengira bangunan berarsitektur Eropa Klasik ini pernah jadi primadona? Betapa waktu bisa mengubah "wajah" Du Pavilion yang cantik menjadi buruk rupa seperti ini. Halah!

Papan nama hotel ini masih bisa dijumpai di lobi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Baca juga: Inna Dibya Puri, Hotel Bersejarah yang Banyak Merekam Kejadian Penting di Kota Semarang

Meski tenggelam dalam tampilan yang acak-acakan maksimal, lobi hotel ini masih menyembulkan keindahan. Lupakan soal betapa kotornya lantai atau betapa rusaknya atap. Pada dinding terpasang lukisan kawat berwarna yang membentuk ornamen alam, hewan-hewan dan tumbuhan masih tegak.

Namanya juga nggak berpenghuni, jelas di dalam ini hanya ada sunyi. Nggak adanya penerangan juga membuat saya sulit melihat. Hanya dengan bantuan cahaya yang menerobos celah-celah dan senter dari telepon genggamlah saya bisa mengamati sekitar.

Di sana, saya menemukan banyak ruangan luas. Mungkin dulunya dijadikan aula untuk menggelar pesta besar atau rapat. Saya juga masih bisa melihat nama-nama ruangan tersebut seperti “Puri Agung” dan “Puri Indah”. Selebihnya hanya bagian-bagian yang rusak dan nggak terbentuk lagi.

Kamu berani masuk nggak? (Inibaru.id/ Audrian F)

Puas berkeliling lobi, saya menuju lantai atas. Meski pemandangannya sama saja alias berantakan, masih terlihat sisa-sia kemewahan hotel seperti pengait karpet di sepanjang lantai dan bekas kerangka lampu hias yang sudah terlepas.

Yang bikin saya kagum, atapnya masih tampak artistik, meskipun di kanan-kirinya sudah rusak dan berlubang. Begitu sampai ruang tengah saya dihadapkan pada banyak sekali lorong yang barangkali akan membawa ke berbagai sudut hotel.

Sayangnya, saya nggak bisa menelusuri semua lorong. Hari sudah mulai gelap saat itu. Bukannya takut lo ya. Saya hanya nggak mau berbuat nekat. Jadi, saya lebih memilih melewati lorong-lorong yang pasti saja.

Potret bekas bathup yang sudah nggak terpakai lagi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Saya langsung menuju ke balkon lantai 2. Dari sina terlihat lalu lintas Jalan Pemuda yang ramai di sore hari. Di sekitar selasar balkon terlihat lebih banyak kamar. Jika mengamati bentuknya, tampaknya kamar-kamar di sini memiliki beragam jenis. Kerusakan di sana sungguh parah. Banyak bagian yang sudah hancur dan nggak lagi beratap. Kamar mandi umum pun juga sudah berlumut. Cuma ada kloset dan bathup yang bertahan.

Saat itu saya pikir penelusuran saya telah usai, tapi ketika saya mengintip dari jendela salah satu kamar, saya menemukan halaman belakang. Saya sudah nggak sanggup lagi membayangkan ada fasilitas apa saja yang dulu di sini. Mungkin kolam renang, taman, atau juga kolam ikan. Semuanya sudah terkubur rapat dengan rumput-rumput liar.

Beberapa waktu kemudian, sinar matahari sudah mulai meredup. Kegelapan muncul. Sesudah mengambil beberapa jepretan dari halaman belakang tersebut saya beranjak keluar.

Nah, jadi seperti itulah, Millens, kunjungan saya di hotel bersejarah ini. Senang juga deh akhirnya direnovasi juga. Tapi kira-kira mau dijadikan apa ya? (Audrian F/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: