BerandaTradisinesia
Jumat, 21 Nov 2019 11:19

Dipercaya Bawa Dampak Buruk, Gunungan di Haul Pandawa Lima dan Meron Dibuat Berbeda

Gerbang Makam Pandawa Lima, leluhur masyarakat Desa Sukolilo yang berlokasi di Dukuh Sanggrahan. (Inibaru.id/Sitha Afril)

Sehari menjelang tradisi Meron, Dukuh Sanggrahan di Sukolilo memperingati haul Pandawa Lima dengan mengarak gunungan yang mirip dengan Meron. Namun lantaran berisiko menimbulkan perpecahan, gunungan yang dibuat nggak boleh sama.

Inibaru.id – Sebagai anak Pati, saya mengenal Meron sebagai salah satu tradisi dari Desa Sukolilo untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Sekadar cerita nih, sehari sebelum gunungan Meron diarak warga Dukuh Sanggrahan pun memperingati Haul Pandawa Lima dengan mengarak gunungan yang mirip dengan gunungan Meron. Bisa dibilang acara ini merupakan tradisi baru yang diadakan lima tahun terakhir.

Sebelumnya, Haul Pandawa Lima hanya diperingati dengan pengajian, bersih-bersih makam, dan bancakan. Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat sekitar berinisiatif untuk menyelenggarakan arak-arakan sebagai ajang kreativitas sekaligus meningkatkan tali silaturahmi antarwarga.

Nasi dan kuluban (urap) menjadi salah satu ubo rampe yang diperebutkan warga setelah diarak dan didoakan. (Inibaru.id/ Sitha Afril)

O ya, arak-arakan ini dimeriahkan juga dengan pawai antar-RT. Ada juga sesi rebutan ubo rampe yang dilakukan di depan gerbang makam Pandawa Lima. Eits, ini bukan Pandawa Lima yang sama seperti dalam cerita Mahabarata, melainkan sesepuh atau cikal bakal dari masyarakat Sukolilo.

Kebetulan mereka adalah lima lelaki bersaudara berdarah Mataram. Memang Desa Sukolilo ini menjadi salah satu basecamp telik sandi atau mata-mata saat Mataram dan Kadipaten Pati terlibat perang. Duh, panjang ya kalau sudah bahas sejarah, ha-ha.

Gunungan pada haul ini tersusun dari jajan pasar, roti, dan sejenisnya. Ini yang membedakan ronce gunungan tersebut dari gunungan Meron asli. (Inibaru.id/ Sitha Afril)

Meskipun ada dua gunungan yang diarak, satu pada Haul Pandawa Lima dan satu pada Meron, ternyata ronce yang dipakai nggak sama. Masyarakat Dukuh Sanggrahan mengganti ronce yang harusnya terbuat dari beras ketan, dengan roti dan bahan makanan lain. Hal ini dikarenakan oleh adanya larangan untuk menduplikasi bentuk Meron bagi masyarakat umum. Kalau gunungan tersebut dibuat sama persis dengan ronce yang terbuat dari bahan yang sama, dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.

Ini sesuai dengan penjelasan Mulyanto, selaku sesepuh desa sekaligus anggota DPRD Kabupaten Pati saat memberikan sambutan pada acara tersebut. Katanya, “jika ada gunungan meron yang kembar, dikhawatirkan akan terjadi perpecahan antar desa karena itu mengubah aturan leluhur yang sudah dijalankan dari dulu!”

Hm, memang pelik ya Millens kalau ngomongin soal tradisi. Tapi itulah menjadikan sebuah daerah unik. Saya pun belajar untuk nggak men-judge ini logis atau nggak. Tugas saya adalah ikut melestarikan tradisi yang bermanfaat bagi masyarakat sebagai pengingat identitas. (Sitha Afril/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Wali Kota Agustina Akui Sempat Kewalahan Menangani Banjir Semarang

21 Feb 2026

Bukan Cantik Berwarna-warni, Anggrek Misterius di Hutan Merapi Ini Justru Beraroma Ikan Busuk!

21 Feb 2026

Statistik Catat Hanya Ada 2.591 Tunawisma di Seluruh Jepang

22 Feb 2026

Boleh Nggak Sih Pulang Setelah Tarawih 8 Rakaat di Masjid Lalu Witir di Rumah?

22 Feb 2026

Bersiap Sambut Pemudik, Jateng Akan Kebut Perbaikan Jalan

22 Feb 2026

Arus Mudik Lebaran 2026 dalam Bayang-Bayang Cuaca Ekstrem di Jateng

22 Feb 2026

Deretan Poster Humor Ramadan di Mijen; Viral dan Jadi Spot Ngabuburit Dadakan

22 Feb 2026

Manisnya Buah Tanpa Biji dan Perampokan Kemandirian

22 Feb 2026

Meriung Teater Ketiga 'Tengul' melalui Ruang Diskusi Pasca-pentas

22 Feb 2026

Ini Dokumen Wajib dan Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026 yang Perlu Kamu Tahu!

22 Feb 2026

Mengapa Orang Korea Suka Minum Alkohol dan Mabuk?

23 Feb 2026

Tren Makanan Kukusan Makin Populer, Sehat bagi Tubuh?

23 Feb 2026

Ratusan Jemaah Tiap Hari, Tradisi Semaan di Masjid Agung Kauman selama Ramadan

23 Feb 2026

Bukan Perlu atau Tidak, tapi Untuk Kepentingan Apa Perusahaan Media Adopsi AI

23 Feb 2026

Menelusuri Jejak Sejarah Intip Ketan, Camilan Warisan Sunan Kudus

23 Feb 2026

Akhir Penantian 8 Tahun Petani Geblog Temanggung Berbuah Embung Manis

23 Feb 2026

Viral, Harga Boneka Monyet Punch Naik Gila-gilaan di Internet!

24 Feb 2026

Negara Mana dengan Durasi Puasa 2026 yang Terlama dan Tersingkat?

24 Feb 2026

Menyusuri Peran Para Tionghoa di Kudus via Walking Tour 'Jejak Naga di Timur Kota'

24 Feb 2026

Antisipasi Banjir, Pemkot Semarang akan Rutin Bersihkan Sedimentasi Sungai

24 Feb 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: