BerandaTradisinesia
Senin, 15 Sep 2019 18:52

Bukan Semata untuk Kesenangan, Minuman Keras Dalam Kesenian Tayub Memiliki Fungsi Ini

Tuak menjadi minuman yang mampu membangkitkan semangat para ledhek. (IDN Times)

Selain pakaian yang kurang tertutup, minuman keras menjadi alasan lain mengapa para ledhek dalam kesenian tayub kerap mendapat citra negatif. Hm, padahal, minuman ini nggak melulu dikonsumsi untuk kepentingan senang-senang saja. Apa sih fungsi minuman keras bagi para ledhek?

Inibaru.id – Sebagai salah satu kesenian tradisional Jawa Tengah, Tayub kerap dianggap sebagai tarian yang penuh dengan erotisme. Mulai dari busana yang dikenakan para ledhek, gerakan tarian, waktu pertunjukan, hingga penggunaan minuman keras menjadi dasar penilaian mengapa citra negatif kesenian ini berkembang di masyarakat.

Namun, benarkah penggunaan minuman keras dalam tayub sebatas untuk kesenangan saja?

Semula, sajian minuman keras atau tuak merupakan bentuk penghormatan pada tuan rumah. Jika tuan rumah menawarkan minuman ini pada waranggana (pesinden), ini juga menjadi penanda bahwa para tamu undangan dipersilakan ikut minum.

Para ledhek (penari) ikut mengonsumsi minuman ini sebelum melakukan pertunjukan dengan alasan lain. Tuak dipercaya bisa membuat mereka lebih bersemangat menari.

http://matatimoer.or.id/wp-content/uploads/2018/07/Sippp-13-678x381.jpg

Dulu, para ledhek biasanya dijamu dengan tuak. (Mata Timoer)

Selain meningkatkan semangat, mengonsumsi tuak juga membuat para ledhek lebih percaya diri dengan penampilan mereka.

Sayang, minuman keras ini kemudian seolah menjadi bagian nggak terpisahkan dari kesenian tayub. Dengan tujuan supaya pertunjukan kian meriah, minuman keras nyaris nggak absen setiap kali kesenian ini digelar.

Kini, tayub berusaha menghilangkan citra negatifnya dengan melarang penggunaan minuman keras. Kamu yang tertarik mempelajari tarian ini nggak perlu merasa malu.

Mengingat modernisasi zaman menggerus kesenian kuno Jawa, sudah sepatutnya tarian ini dilestarikan oleh generasi muda. Yuk, ikut berkontribusi melestarikan kekayaan budaya sendiri! (IB15/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: