BerandaTradisinesia
Senin, 23 Des 2018 12:30

Begini Keturunan Portugis di Kampung Tugu Rayakan Natal

Menari dan mencoreng wajah untuk rayakan Natal di Kampung Tugu. (Detik)

Melestarikan tradisi warisan leluhur, warga keturunan Portugis di Kampung Tugu memiliki tradisi unik merayakan Natal.

Inibaru.id - Perayaan Natal dikenal sebagai peringatan kelahiran Yesus Kristus di berbagai penjuru dunia. Mereka yang merayakan Natal ini pun menyambutnya dengan tradisi yang berbeda-beda.

Di negara-negara Barat, perayaan Natal identik dengan misa Natal di gereja, acara-acara makan, hadiah-hadiah Natal, Santa Klaus, pohon Natal, film-film Natal, atau liburan yang panjang. Selain itu, banyak mal, restoran, supermarket, gedung, rumah, dan jalanan dihiasi dengan ornamen-ornamen Natal yang meriah.

Meskipun hal-hal tersebut juga dapat ditemukan di Indonesia, ada juga beragam tradisi berbeda yang dilakukan masyarakat di Tanah Air untuk menyambut hari Natal.

Salah satunya adalah perayaan Natal yang dilakukan warga kampung Tugu, Semper Barat, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.

Menjadi tempat permukiman para keturunan Portugis yang dulunya menjadi tawanan VOC, kawasan itu terlihat sama seperti permukiman penduduk yang lainnya.

Saat perayaan Natal, warga di sana juga melakukan ibadah di gereja. Namun ada hal lain yang membuat perayaan Natal di sana menjadi unik dan menarik, yaitu mereka masih menjaga tradisi Natal yang diturunkan oleh leluhur mereka.

Tradisi apa itu?

Mengutip Kompas (26/12/2013), tradisi yang pertama yaitu tradisi Biti Singkuh. Ini merupakan ritual penghormatan anggota keluarga pada orang tua mereka, termasuk dengan cara melakukan ziarah ke makam leluhur yang berada di sebelah Gereja Tugu setelah melakukan kebaktian.

Penduduk Kampung Tugu menari bersama untuk menyambut Natal. (Jalan2dong.blogspot)

Terkait makam, awalnya para pendahulu mereka memakamkan anggota keluarganya di halaman rumah. Namun, karena semakin banyak yang meninggal, maka diputuskan untuk menyatukan makam di sebelah gereja karena saat itu luasnya mencapai empat hektare.

Saat berziarah, warga akan datang membawa lilin atau bunga. Setelah itu mereka akan pulang ke rumah dan berkumpul bersama dengan keluarganya. Biasanya, momen tersebut juga akan digunakan generasi muda untuk meminta maaf kepada orang tua yang memang menjadi tradisi nenek moyang orang Tugu.

Selanjutnya seusai perayaan Natal, ada tradisi Rabo-Rabo. Saat acara Rabo-Rabo inilah kemeriahan di kampung Tugu mulai terlihat. Rabo-Rabo merupakan sebuah pesta adat. Mirip seperti acara halal bihalal umat Islam saat Lebaran, para warga akan saling berkunjung berkeliling kampung dengan bersalam-salaman dan meminta maaf.

Menukil Tribunnews (26/12/2016), bedanya mereka akan melakukannya sambil bermain musik keroncong dan menari bersama. Biasanya lagu yang dimainkan berjudul "Bate-bate Porta" yang artinya mengetuk pintu. Jadi seolah-olah mereka bernyanyi itu layaknya bertamu mengetuk pintu.

Uniknya lagi, seperti namanya yang berasal dari kata "Rabo" yang dalam bahasa Portugis berarti mengekor, setiap penghuni rumah yang telah dikunjungi harus mengikuti rombongan untuk berkunjung ke rumah warga lainnya.

Dimulai dari mengunjungi gereja yang berlanjut hingga ke rumah warga terakhir, pesta adat ini biasanya dilakukan ketika Tahun Baru. Wah, tentunya Kampung Tugu akan sangat ramai sekali.

Sedangkan untuk puncak perayaan Natal di Kampung Tugu, ada lagi tradisi Mandi-Mandi. Meskipun namanya Mandi-Mandi, nggak sedikitpun ritual mandi apalagi mandi bersama. Yang ada, para warga menyanyikan lagu berjudul "Mande-Mande"

Nah, dalam tradisi Mandi-Mandi inilah, nantinya para warga akan berkumpul dan saling mengoleskan bedak yang dicampur di air ke muka. Olesan bedak itu menjadi tanda penebus dosa dan permintaan maaf untuk satu tahun kesalahan yang diperbuat. Selain itu, acara Mandi-Mandi ini juga menjadi tanda bahwa warga sudah siap menyambut Tahun Baru.

Well, walaupun mereka tinggal jauh dari permukiman leluhurnya, mereka nggak melupakan tradisinya. Tentunya hal tersebut patut dicontoh. Sobat Millens setuju, bukan? (ALE/SA)

 

 

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Air Terjun Penawangan Srunggo di Bantul

20 Jan 2026

Cara Unik Menikmati Musim Dingin di Korea; Berkemah di Atas Es!

20 Jan 2026

Kunjungan Wisatawan ke Kota Semarang sepanjang 2025 Tunjukkan Tren Positif

20 Jan 2026

Belasan Kasus dalam Dua Tahun, Bagaimana Nasib Bayi yang Ditemukan di Semarang?

20 Jan 2026

Ratusan Perjalanan Batal karena Banjir Pekalongan, Stasiun Tawang Jadi Saksi Kekecewaan

20 Jan 2026

Viral 'Color Walking', Tren Jalan Kaki Receh yang Ampuh Bikin Mental Anti-Tumbang

20 Jan 2026

Nggak Suka Dengerin Musik? Bukan Aneh, Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini!

20 Jan 2026

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

21 Jan 2026

Jika Perang Dunia III Pecah, Apakah Indonesia Akan Aman?

21 Jan 2026

Ki Sutikno; Dalang yang Tiada Putus Memantik Wayang Klithik Kudus

21 Jan 2026

Statistik Pernikahan Dini di Semarang; Turun, tapi Masih Mengkhawatirkan

21 Jan 2026

Kabar Gembira! Tanah Sitaan Koruptor Bakal Disulap Jadi Perumahan Rakyat

21 Jan 2026

Ternyata Bumi Kita Nggak Seburuk Itu, Simak Kabar Baik Pemulihan Alam Belakangan Ini!

21 Jan 2026

Kata Pakar Soal Makanan yang Bisa Bertahan Lebih dari 12 Jam

22 Jan 2026

Apakah Indonesia Sudah Memasuki Puncak Musim Hujan?

22 Jan 2026

Tradisi Unik jelang Ramadan; Nyadran 'Gulai Kambing' di Ngijo Semarang

22 Jan 2026

Bukan Cuma Rokok, Tekanan Finansial Juga Jadi Ancaman Serius buat Jantung

22 Jan 2026

Pantura 'Remuk' Pasca-Banjir, Pemprov Jateng Mulai Hitung Kerugian dan Siapkan Strategi Baru

22 Jan 2026

Menurut PBB, Dunia Sudah Memasuki Fase Kebangkrutan Air Global!

23 Jan 2026

Waktu-waktu Terburuk untuk Liburan ke Jepang pada 2026

23 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: