BerandaPasar Kreatif
Senin, 4 Feb 2018 11:00

Cari Sangkar Burung? Ke Wirun Saja

Salah seorang pengrajin sangkar burung di Desa Wirun sedang mengecat produknya. (koranpurworejo.id) .

Diturunkan dari generasi ke generasi, keahlian pengrajin sangkar burung dari Wirun di Purworejo, Jateng ini sudah nggak diragukan lagi. Kini mereka dihadapkan pada standar ekspor yang belum mampu dipenuhi.

Inibaru.id – Mania kicau pasti tahu tempat satu ini. Nah, kalau di antara Sobat Millens ada yang demen memiara burung, sentra kerajinan sangkar burung legendaris ini perlu dikunjung. Soal kualitas sangkar burung pengrajin di Desa Wirun, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo ini sudah nggak diragukan lagi. Mereka adalah para pengrajin turun-menurun sejak 1960-an.

Seperti yang dikutip dari Koranpurworejo.id (30/04/17) Salman, salah seorang pengrajin mengatakan, “Usaha kerajinan sangkar burung Wirun adalah usaha turun-menurun dari tahun 1960-an. Kalau saya sendiri mulai tahun 1997. Alasannya ya untuk meneruskan warisan para sesepuh. Saya pun sudah meneliti, studi banding ke berbagai tempat dan ternyata usaha kerajinan sangkar burung memang prospektif. Bisa mengangkat perekonomian warga di sini.”

Pria yang mendapat amanah sebagai Ketua Koordinator Pengrajin Sangkar Burung Wirun mengungkapkan, ada sekitar 45 kepala keluarga yang menjadi pengrajin, sedangkan 10 lainnya menjadi pengepul.

Butuh modal Rp 500 ribu untuk memulai usaha ini, sementara biaya operasional berbeda-beda bergantung atas kondisi keuangan masing-masing pengrajin. Ada yang hanya dengan Rp 1 juta, ada juga yang harus keluar Rp 10 juta atau lebih. Tapi meskipun biaya operasionalnya berbeda-beda, rata-rata mereka mampu memproduksi 10 sampai 15 sangkar burung dalam 3 sampai 5 hari per orang.

Baca juga:
Limbah Kulit Kerang Disulap Jadi Kerajinan Ciamik
Kacamata Kayu dari Tegal Ini Sudah Go International

Kira-kira proses pembuatannya seperti apa ya, Millens? Secara garis besar proses pembuatan sangkar melalui beberapa tahapan, yaitu pembentukan, pendempulan, dan pengecatan. Model sangkar burung itu bisa bermacam-macam. Umumnya pengrajin Wirun membuat jenis sangkar burung standar yang tanpa tambahan hiasan apa-apa atau sangkar burung polosan.

Tapi ada juga yang menampilkan gambar pemandangan, naga, bunga, sampai model ukiran. Wah, menarik, kan?

Harganya juga berbeda-beda. Harga untuk sangkar standar polosan rata-rata Rp 50 ribu. Terdapat juga sangkar khusus burung derkuku dan perkutut yang dijual dengan harga Rp 65 ribu hingga Rp 70 ribu. Sedangkan sangkar ukir  dibanderol dengan harga Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu. Tetapi jika ada kenaikan harga pada bahan baku utama, yakni bambu jawa, harga sangkar burung juga bisa jadi tambah mahal.

Sampai saat ini penyebaran produk sangkar burung Wirun telah menjangkau 10 kota di seluruh Indonesia. Sayang, perkembangan kerajinan sangkar burung Wirun mengalami kendala dalam langkah ekspor, Millens. Dijelaskan Salman dalam koranpurworejo.id, langkah ekspor itu terganjal masalah standardisasi kualitas dan kuantitas produk sangkar burung. Pangkal masalah ini adalah karena kerajinan sangkar burung Wirun masih berskala industri rumahan. Setiap pengrajin membuat sangkar sesuai kemampuan dan seleranya masing-masing, sehingga hasilnya beragam alias tidak sama.

Karena itu, Salman berharap pada masa mendatang ia dapat mendirikan pabrik khusus sangkar burung yang sanggup menghasilkan produk dalam kuantitas besar dan kualitas baik yang seragam.

Baca juga:
Indrakila, Keju Boyolali Rasa Internasional
ari Tangan Agam, Tercipta Kerajinan Kayu Bernilai Tinggi

Kendala utamanya yaitu ketika musim penghujan tiba. Saat hujan turun, proses produksi sangkar terpaksa berhenti karena bambu sebagai bahan bakunya basah. Di samping itu, sangkar yang baru didempul atau dicat akan lama keringnya. Penggunaan bambu basah dalam proses produksi dan proses pengeringan yang nggak sempurna akan menyebabkan mutu sangkar burung menjadi rendah. Sangkar burung jadi mudah patah dan berjamur. Bahkan cara mengeringkan dengan mengoven sangkar-sangkar yang belum kering juga nggak membantu. Sangkar dengan cara dioven nggak sebagus pengeringan alami di bawah terik matahari.

Kalau seperti itu, perlu adanya perhatian khusus dari pemerintah agar masalahnya teratasi ya, Millens.(SR/SA)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: