Inibaru.id - Zelenial atau Generasi Z (Gen Z) seringkali disebut sebagai kaum yang hidup mengikuti arus. Mereka nggak punya pendirian. Mungkin betul dalam sejumlah hal, tapi nggak bisa dikatakan selalu demikian.
Dalam berbagai situasi, generasi yang lahir antara 1997 hingga 2012 itu justru acap berada di garda terdepan untuk menunjukkan sikap, termasuk dalam berbusana.
Nggak selalu mengikuti tren global atau pilihan fesyen yang ditunjukkan para pesohor, ada kalanya anak muda ini justru memilih gaya yang dekat dengan keseharian: kasual, nyaman, dan punya kesadaran lingkungan.
Gaya fesyen inilah yang saat ini justru menjadi wajah keseharian mereka. Bahkan, diprediksi gaya berbusana yang dikenal sebagai "Strive Style" itu akan mendominasi Tren Fashion 2026.
Ketua Indonesian Fashion Chamber (IFC) Semarang, Sudarna Suwarsa menyebut tren fashion nggak lahir secara tiba-tiba. Setiap gaya yang muncul merupakan hasil pembacaan panjang atas dinamika sosial, budaya, hingga kebiasaan generasi muda.
Dia bisa mengatakan begitu lantaran IFC secara rutin melakukan kajian tren melalui riset dan pergelaran mode. Hasil analisis tersebut kemudian dirangkum dalam panduan dan buku tren yang dirilis lebih awal untuk membaca arah fesyen pada masa mendatang.
"Asosiasi mengeluarkan buku tren. Jadi, kecenderungan fashion itu sudah ditawarkan setahun sebelumnya. Tahun 2025 kami mengadakan fashion show untuk menganalisis dan memprediksi tren 2026," ujarnya saat dihubungi Inibaru.id, Kamis (01/01/2025).
Untuk periode 2025-2026, IFC menetapkan strive sebagai tema besar. Strive style tidak hanya dimaknai sebagai gaya kasual, tetapi merepresentasikan semangat perjuangan, dinamika kehidupan urban, serta realitas sosial yang lekat dengan keseharian generasi muda.
Dalam tema besar tersebut, terdapat empat sub-tema utama. Yang pertama adalah Indie Rebellion yang divisualisasikan sebagai gaya bebas, berani, dan tidak mau larut dalam arus utama.
"Ciri utamanya adalah eksplorasi mix and match dengan nuansa independen yang kuat," sebutnya.
Yang kedua adalah Quiet Artistry, yang hadir dengan pendekatan berbeda. Gayanya sederhana tapi berkelas; menonjolkan kenyamanan, detail, dan warna-warna kalem. Tampil rapi, tenang, dan tetap relevan untuk aktivitas harian.
Kemudian, ada Hyperconnected Flux yang terinspirasi dari dunia digital dan teknologi. Gayanya futuristik, praktis, dinamis, dengan permainan warna kontras.
"Terakhir adalah Neo Nostalgic yanh menghidupkan kembali gaya lama yang dikemas ulang agar terasa modern dan kekinian," kata dia.
Sudarna memaparkan, setiap sub-tema masih dipecah lagi ke dalam tema-tema kecil. Dari sisi warna, Strive Style 2026 diprediksi mengarah pada palet lembut yang terinspirasi dari alam, tetap merujuk tren global pantone, tapi disesuaikan dengan karakter street style.
"Putihnya bukan putih bersih, tapi putih keabu-abuan dengan campuran biru. Seperti warna langit," terangnya.
Lebih jauh, strive style juga dinilai membawa perubahan cara produksi fashion, terutama bagi pelaku UMKM. Tren ini akan berdampak jika pelaku usaha mendapat edukasi dan informasi yang cukup.
Dia menegaskan bahwa strive style identik dengan fashion berkelanjutan; mulai dari penggunaan material ramah lingkungan, pewarna alami, hingga pengurangan produksi massal.
Meski tren terus berkembang, Sudarna memastikan busana kasual nggak akan tergeser. Justru sebaliknya, gaya santai diperkirakan tetap menjadi tulang punggung fashion generasi muda saat ini.
"Baju kasual itu tidak akan mati. Dipakai kerja, hangout atau buat di rumah," ujar Sudarna. "UMKM itu harus punya ciri khas biar produknya mudah dikenali dan kita juga punya pasar yang tersegmentasi".
Predikasi tersebut sejalan dengan preferensi zilenial. Gaya berpakaian gen z mengarah pada konsep sederhana, nyaman, tapi tetap rapi dan stylish.
Warna-warna bumi, clean outfit, serta kesadaran terhadap fashion berkelanjutan diperkirakan bertahan hingga 2026.
Nisa, salah seorang gen z, mengaku lebih nyaman mengenakan pakaian kasual seperti sweater, pashmina, dan celana kargo. Baginya, pakaian yang praktis jauh lebih menunjang aktivitas sehari-hari.
Dia juga menyukai warna bumi seperti cokelat, krem, dan hijau karena mudah dipadukan dan terlihat natural. Bagi Nisa, kenyamanan jauh lebih penting daripada sekadar tampil menarik.
"Yang penting nyaman. Dipakai harian enak, tapi tetap kelihatan kece. Kalau nggak nyaman, malah bikin nggak percaya diri," katanya.
Media sosial juga diakuinya sangat berpengaruh dalam membentuk gaya berpakaian. Referensi mix and match banyak dia dapatkan dari influencer. Meski begitu, Nisa lebih memilih brand lokal karena dinilai punya desain unik dan karakter kuat.
Dia juga mendukung tren memadukan pakaian lama dengan gaya baru. Busana retro dan pakaian lama milik orang tua justru mulai banyak diminati generasi muda.
Hal yang serupa disampaikan Yuna Anugrah seorang pekerja media yang juga masuk kategori gen z. Untuk fesyen sehari-hari, memilih clean outfit yang rapi dan minimalis tanpa banyak motif.
Yuna mengandalkan mix and match warna dengan model pakaian yang sama agar tidak perlu sering membeli baju baru. Cara tersebut dianggap sebagai bentuk sederhana dari fashion berkelanjutan.
"Clean outfit nggak harus pakai kemeja. Kaos juga bisa terlihat rapi asal dipadupadankan dengan tepat. Dengan mix and match, tampilan tetap kelihatan berbeda tanpa harus membeli banyak baju," tandas Yuna.
Berpakaian kini bukan lagi ajang pamer, melainkan soal rasa nyaman dan tanggung jawab. Inilah potret fashion 2026 yang tumbuh dari kesadaran generasi muda. Hm, masih ada yang berani bilang bahwa gen z cuma ikut-ikutan arus? (Sundara/E10)
