BerandaPasar Kreatif
Sabtu, 28 Jul 2023 14:58

Tradisi Kungkum di Tugu Soeharto, Pedagang: Cuaca Terang, Kami Senang

Di pasar tiban Tugu Soeharto pada Malam Satu Suro banyak pedagang menjajakan aneka makanan dan minuman. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Selain bisa menyaksikan tradisi kungkum di Tugu Seoharto, saban Malam Satu Suro di Kelurahan Bendan Duwur juga ada pelbagai acara seperti doa bersama, pentas seni budaya dan pasar dadakan.

Inibaru.id - Ada beberapa tujuan orang datang ke Tugu Soeharto di saat Malam Satu Suro. Tujuan yang mungkin banyak orang tahu dan sudah ada sejak dahulu adalah untuk melakukan tradisi kungkum atau berendam di sungai Kaligarang, Semarang.

Tapi, rupanya nggak semua orang yang ada di situ melakukan tradisi kungkum, lo. Keramaian yang ada di sekitar Tugu Soeharto yang berlokasi di Jalan Menoreh Raya, Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur itu juga lantaran adanya pasar tiban.

Pasar tiban bisa diartikan sebagai pasar dadakan atau yang tiba-tiba ada karena adanya momentum tertentu. Nah, pasar tiban di Tugu Soeharto ada juga karena ada tradisi kungkum di sana beberapa waktu lalu.

Jalanan umum yang biasanya dilewati kendaraan roda dua maupun empat di sana seketika berubah jadi pasar. Setiap sudut jalan tersebut dipenuhi lapak-lapak penjual makanan, minuman kekinian, pakaian, aksesoris dan lainnya.

Lurah Bendan Duwur RBAS Wahyu Mahardi mengakui tradisi kungkum di wilayahnya jadi magnet yang menguntungkan. Saban tahun, dia mendesain kegiatan Malam Satu Suro dengan pelbagai acara.

"Ada doa bersama, bubur suro, pentas seni budaya. Kegiatan malam suro disini memang beragam," kata lelaki yang akrab disapa Wahyu tersebut pada Inibaru.id.

Ketiban Rezeki

Tradisi kungkum di Tugu Soeharto membawa berkah bagi para pedagang. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Tampaknya, tradisi kungkum itu membawa kebahagiaan tersendiri bagi para pedagang, salah satunya Ahmad Riadi. Dia terlihat ceria dan sesekali menebar senyum ke sesama pedagang di sampingnya. Dia yakin malam Satu Suro dirinya bakal meraup pundi-pundi rupiah dari hasil menjajakan kaos kaki.

Riadi, begitu dia disapa, sering berjualan bersama istrinya di sekitar Tugu Soeharto ketika malam Satu Suro. Hal itu dia lakukan karena ratusan orang dari berbagai pelosok Semarang tumpah ruah untuk sekedar menantikan tradisi kungkum.

"Sebelum ada pasar tumpah seperti sekarang, paling pas Malam Satu Suro yang biasa jualan hanya tukang gorengan," kenang lelaki yang lahir di Kelurahan Bendan Duwur tersebut.

Seiring berjalannya waktu, warga di kampungnya semakin kreatif. Mereka mampu mengemas tradisi kungkum bukan sekedar menjaga warisan leluhur.

"Penjualan disini lumayanlah. Bisa menggerakan ekonomi rakyat. Kalau cuaca terang, pedagang pun senang," imbuh Riadi.

Perasaan serupa turut dirasakan Suryati. Dia mengaku senang karena orang-orang keluar berduyun-duyun datang ke Tugu Soeharto karena langit terang benderang.

"Alhamdulillah ini nasi pecel dan gorengan banyak yang beli," singkat Suryati sembari tersenyum lebar.

Sekadar Nonton

Banyak remaja dan anak-anak yang mengunjungi Tugu Soeharto hanya untuk melihat-lihat suasana di sana. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Karena ada keramaian plus pasar dadakan, maka ada banyak orang yang datang ke Tugu Soeharto hanya untuk jalan-jalan sore atau malam. Beberapa anak muda secara gamblang menyatakan hanya ingin menonton tradisi tersebut sekaligus berwisata kuliner.

"Nggak mas, cuman pengen tahu aja. Tadi ke sini sekitar jam 9 (malam). Sengaja datang buat lihat-lihat dan sambil jajan bareng sama pacar," kata Andrik Purwanto, seorang pengunjung dari Kelurahan Bendan Ngisor.

Ada juga segerombolan remaja yang duduk di bantaran Sungai Kaligarang bukan untuk mengikuti tradisi kungkum, melainkan sekadar melepas penat.

"Cuman nongkrong sama teman-teman. Karena ada keramaian sambil main-main gitar di sini," tukas seorang remaja yang enggan disebutkan namanya.

Itulah kira-kira suasana yang ada pada saat tradisi kungkum di Tugu Soeharto. Selain banyak orang yang melestarikan tradisi, banyak pula pedagang yang kecipratan rezeki dan masyarakat yang terhibur. (Fitroh Nurikhsan/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: