BerandaPasar Kreatif
Minggu, 18 Feb 2023 11:00

Lestarikan Tradisi Tulis Nusantara, Dluwang Masih Diproduksi di Bantul

Dluwang merupakan lembaran tipis yang terbuat dari kulit pohon yang digunakan sebagai media tulis. (Siedoo)

Sebelum kertas masuk ke Indonesia, masyarakat kita menulis di atas dluwang. Waktu berlalu dan dluwang ini menjadi barang mewah dan langka. Untungnya, di Bantul ada Indra Indra Suroinggeno yang memproduksi kertas dluwang untuk menjaga kelestarian budaya Nusantara.

Inibaru.id - Jauh sebelum ada kertas sebagai media untuk menulis, masyarakat Nusantara sudah mengenal dluwang atau deluang. Ia bukan kertas melainkan lembaran tipis yang terbuat dari kulit pohon, tapi memiliki fungsi yang sama seperti kertas, yaitu sebagai media tulis.

Dilansir dari Siedoo (4/9/2018), dluwang menjadi bagian dari tradisi tulis di Indonesia sejak abad ke 14. Sebelum Islam datang ke Indonesia, dluwang digunakan sebagai bahan wayang beber, salah satu jenis wayang di Jawa yang memanfaatkan lembaran atau gulungan dluwang untuk merekam kisah pewayangan dalam bentuk gambar.

Lalu, saat Islam masuk, dluwang digunakan para santri untuk menulis ayat-ayat Alquran hingga pemanfaatan untuk keperluan administrasi di zaman kolonial hingga awal kemerdekaan RI.

Nah, berawal dari rasa kagumnya terhadap fungsi dan keawetan dluwang, Indra Suroinggeno mulai memproduksi kertas dluwang sekitar dua tahun lalu. Lelaki asal Kabupaten Bantul, DIY itu menganggap pembuatan kertas dluwang yang dia lakukan seperti merefleksikan kembali sejarah nusantara.

"Awalnya hanya dari kekaguman saja, bahwa kertas dluwang itu seumuran dengan lontar. Setelah relief candi dulu kita menulis itu kalau tidak lontar ya dluwang," kata Indra saat ditemui di rumahnya, Pedukuhan Kanutan, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Bantul, dilansir dari Detik (4/3/2022).

Ada Peminat

Dluwang dulu digunakan untuk media tulis naskah kuno. (Kompas/Raja Umar)

Mengingat sekarang orang menulis dan menggambar sudah menggunakan kertas bahkan gawai, apakah dluwang masih ada peminatnya? Menjawab pertanyaan itu Indra optimistis bahwa produknya tetap ada peminatnya. Dia ingin melestarikannya dengan menyediakan kertas dluwang bagi kalangan yang benar-benar membutuhkan.

"Kehidupan itu menurut saya tetap ada yang namanya hukum alam. Misal batik sekarang perkembangannya ada batik cap dan printing. Tapi di sisi lain pasti ada yang suka atau kangen dengan batik tulis. Nah untuk aksara Jawa ini, untuk kertas dluwang ini biasanya ada seniman yang ingin selembar dua lembar dan Dinas Kebudayaan juga kadang memesan," imbuhnya.

Meski meproduksi dalam ukuran kuarto, Indra mengaku menjualnya per sentimeter sesuai kebutuhan pembelinya.

"Kalau saya cuma memberitahu hitungannya per sentimeter. Jadi tidak saklek harganya harus segitu (menyesuaikan per sentimeter)," katanya.

Cara Membuat Dluwang

Peralatan yang digunakan untuk membuat kertas dluwang. (Kemendikbud)

Jika kamu penasaran bagaimana proses pembuatan kertas dluwang, simak baik-baik penjelasan Indra, ya! Pembuatan kertas dluwang menggunakan bahan baku pohon glugu (paper mulberry). Setelah bahan baku siap, hal pertama yang dia lakukan adalah mengembangkan bibit kertas lalu memotong.

"Yang diambil kulit ketiganya dengan cara diklocopi. Terus direndam dulu minimal 1-2 hari jangan sampai 3 hari," paparnya.

Setelah direndam baru ditempa sekitar seribu kali. Kalau sudah ditempa, maka Indra akan membungkus menggunakan daun pisang selama tiga hari agar lendir-lendir alami pembentuk kertas muncul.

Selanjutnya lembaran itu diangin-anginkan, dan setelah kering, tahap terakhirnya digosok menggunakan keong atau menggunakan batu halus. Dengan teknik itu, kertas dluwang akan terbentuk dengan kualitas bagus.

"Nah, kalau sehari dapat 4 (lembar) sudah bagus sekali, tapi kan saya ulik-ulik sendiri dan pakai formula khusus juga ternyata bisa (lebih dari 4 lembar per hari)," katanya.

"Karena selembar kertas ukuran A4 kuarto itu bisa sekitar 1.000 pukulan (tempaan) dengan alat tempa dari bahan kuningan. Memang berat tapi kalau laku dijalani terasa ringan nantinya," imbuh Indra.

Jika kamu membutuhkan kertas dluwang untuk kepentingan studi, kesenian, atau lainnya bisa menghubungi Indra di Bantul, ya! (Siti Khatijah/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: