BerandaKulinary
Minggu, 1 Des 2018 12:00

Rice Box, Tren Belaka atau Punya Kans Berjaya?

Rice Box, Tren Belaka atau Punya Kans Berjaya?

Sedang naik daun, nasi kotak berkembang dengan berbagai varian rasa dan tampilan yang makin menarik. (Inibaru.id/ Artika Sari)

Di tengah gencarnya persaingan bisnis makanan cepat saji, nasi kotak mini atau yang lebih dikenal dengan rice box muncul sebagai inovasi. Tak hanya menjadi penawar perut yang lapar, kuliner satu ini pun makin menarik dengan tampilan yang ciamik. Tapi, di balik popularitasnya, bisakah nasi kotak mini bertahan?

Inibaru.id – Mobilitas yang tinggi telah mengubah pola hidup, termasuk pola makan manusia. Selain tuntutan untuk bergerak cepat, perkembangan teknologi dan transportasi turut menjadi alasan berubahnya kebiasaan makan masyarakat urban. Tanpa perlu meninggalkan tempat, orang kini bisa mengatasi lapar, yakni tinggal menyentuh layar gawai.

Kepraktisan ala masyarakat urban ini membuat kotak nasi turut terdisrupsi. Nggak melulu polos dengan ukuran yang besar, tampilan kotak nasi kini makin menarik. Bentuknya makin mini dan ergonomis. Lagi-lagi, semua ini untuk satu alasan: praktis!

Semarang sebagai salah satu kota urban di Jawa Tengah, juga turut mengalami euforia ini. Kalau kamu memerhatikan Instagram, tagar #riceboxsemarang bisa mencapai kisaran ribuan tagar. Ini membuktikan bahwa Kota Lunpia juga terjangkit "budaya" baru ini.

Hal ini dibenarkan Audi Aldiano, pemilik Tapaw.id. Berbekal pengalaman di bidang kuliner selama delapan tahun, lelaki 29 tahun tersebut yakin rice box alias nasi kotak mini bisa menjadi lahan baru untuk mengembangkan sayap bisnisnya.

Menurut Audi, kaum millenial cenderung lebih fleksibel dalam urusan makan. Dengan alasan mager atau malas gerak, kotak berisi nasi, ayam goreng, dan aneka saus saja sudah cukup memuaskan lidah mereka.

Selain itu, dia juga beranggapan bahwa nasi kotak mini menawarkan porsi yang pas di perut, salah satu keunggulan yang menurutnya nggak selalu didapatkan saat mengonsumsi nasi kotak konvensional.

“Jadi konsumen nggak kelaparan, tapi juga nggak kekenyangan. Ruang yang digunakan dalam kotak jadi nggak mubazir karena sudah pas,” tutur ayah dua anak ini.

Nasi kotak jadi tren kuliner masyarakat urban. (Inibaru.id/ Artika Sari)

Berbeda dengan Audi, Pipit Alvita justru punya pandangan sendiri. Menurutnya, porsi rice box harus cukup bikin kenyang. Jika porsi yang ditawarkan serba pas, lanjutnya, mereka akan beralih pada produsen yang menawarkan porsi lebih banyak. Inilah kenapa dia memilih menambahkan porsi nasi dalam produknya.

“Kalau produsen hanya menawarkan porsi yang standar, menurut saya konsumen bisa hilang. Makanya walau wadahnya kecil, saya berusaha memastikan konsumen bisa kenyang,” kata perempuan 28 tahun itu.

Selain berbeda dalam urusan kuantitas, dia juga berpikir bahwa nasi kotak mini sangat mungkin hanya bakal jadi tren. Menurutnya, kuliner tersebut dipilih anak muda untuk sekadar tampil kekinian.

Pesanan Box Meningkat

Salah satu produsen kotak makanan di Semarang, KJP Pack, mengklaim bahwa pesanan kotak mini terus meningkat sejak 2016 silam. Dalam sehari, perusahaan yang beralamat di Jalan Pesanggrahan 1 No 30 Mlatibaru Semarang Timur ini bisa memproduksi 10.000-15.000 kotak per hari. Dalam satu bulan, KJP Pack bisa menjual sekitar 200.000-300.000 kotak mini.

Manajer KJP Pack Dina Gabriela mengatakan, peningkatan produksi kotak mini nggak sekadar jadi tren, tapi memang telah punya segmen khusus. Wadah ini dipilih lantaran lebih praktis, menarik, bersih, dan murah. Selain bisa menghemat pengeluaran pebisnis, kotak mini bisa meningkatkan citra produk karena bisa didesain sesuai selera.

Terlepas dari sekadar tren atau enggak, nasi kotak mini menawarkan kemudahan bagi warga perkotaan. Kalau pengin praktis dan cepat, nasi kotak mini bisa jadi andalanmu, Millens.

Dengan banyaknya pilihan, varian rasa yang ditawarkan juga beragam. Jadi, kamu bisa memanjakan lidah. Perut kenyang, hati senang, waktu pun nggak terbuang. Akur? Ha-ha. (Artika Sari/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Iri dan Dengki, Perasaan Manusiawi yang Harus Dikendalikan

27 Mar 2025

Respons Perubahan Iklim, Ilmuwan Berhasil Hitung Jumlah Pohon di Tiongkok

27 Mar 2025

Memahami Perasaan Robot yang Dikhianati Manusia dalam Film 'Companion'

27 Mar 2025

Roti Jala: Warisan Kuliner yang Mencerminkan Kehidupan Nelayan Melayu

27 Mar 2025

Jelang Lebaran 2025 Harga Mawar Belum Seharum Tahun Lalu, Petani Sumowono: Tetap Alhamdulillah

27 Mar 2025

Lestari Moerdijat: Literasi Masyarakat Meningkat, tapi Masih Perlu Dorongan Lebih

27 Mar 2025

Hitung-Hitung 'Angpao' Lebaran, Berapa Banyak THR Anak dan Keponakan?

28 Mar 2025

Setengah Abad Tahu Campur Pak Min Manjakan Lidah Warga Salatiga

28 Mar 2025

Asal Usul Dewi Sri, Putri Raja Kahyangan yang Diturunkan ke Bumi Menjadi Benih Padi

28 Mar 2025

Cara Menghentikan Notifikasi Pesan WhatsApp dari Nomor Nggak Dikenal

28 Mar 2025

Hindari Ketagihan Gula dengan Tips Berikut Ini!

28 Mar 2025

Cerita Gudang Seng, Lokasi Populer di Wonogiri yang Nggak Masuk Peta Administrasi

28 Mar 2025

Tren Busana Lebaran 2025: Kombinasi Elegan dan Nyaman

29 Mar 2025

AMSI Kecam Ekskalasi Kekerasan terhadap Media dan Jurnalis

29 Mar 2025

Berhubungan dengan Kentongan, Sejarah Nama Kecamatan Tuntang di Semarang

29 Mar 2025

Mengajari Anak Etika Bertamu; Bekal Penting Menjelang Lebaran

29 Mar 2025

Ramadan Tetap Puasa Penuh meski Harus Lakoni Mudik Lebaran

29 Mar 2025

Lebih dari Harum, Aroma Kopi Juga Bermanfaat untuk Kesehatan

29 Mar 2025

Disuguhi Keindahan Sakura, Berikut Jadwal Festival Musim Semi Korea

29 Mar 2025

Fix! Lebaran Jatuh pada Senin, 31 Maret 2025

29 Mar 2025