BerandaInspirasi Indonesia
Kamis, 17 Jul 2019 14:17

Anin Pilih Gantung Canting, Akhir Cerita Batik Siwarak Khas Goa Kreo Semarang

Perlengkapan membatik Anin yang dibiarkan menganggur karena dia memutuskan untuk libur produksi. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Batik Siwarak, batik khas Desa Kandri Semarang ini terancam punah karena satu-satunya produsen memutuskan untuk libur membatik. Sayang rasanya jika batik ini harus punah sebelum banyak dikenal banyak orang.

Inibaru.id - Sabtu pagi, pintu depan rumah Anin terbuka lebar saat saya sambangi, memaparkan sejumlah kain batik Siwarak buatannya. Namun, tak ada si empunya rumah. Salam yang saya lontarkan juga nggak bersambut. Saya, yang memang sudah membuat janji dengannya, memutuskan menunggunya di gazebo depan rumah.

Tak lama, perempuan berjilbab yang ternyata tengah sibuk di dapur itu muncul, lalu mempersilahkan saya masuk ke ruang tamunya yang lumayan luas.

Melayangkan pandangan mengitari ruangan, mata saya tertuju pada maneken-maneken "berpakaian" kain dan baju yang tampak berdebu. Sejumlah kain batik daganannya juga dibiarkan terlipat, bukan digantung untuk dipamerkan. Bahkan beberapa kain putih bermotif daun ketela yang siap diwarnai masih terhampar.

“Maaf, ya, Mbak, berantakan!” sapa Anin, membuka percakapan.

Oya, dia adalah Aenin Hayati, pengrajin batik Siwarak khas Desa Kandri, Gunungpati, Kota Semarang. Pada 2012, sosok yang akrab disapa Anin atau Eni itu, bersama 30-an ibu-ibu Dusun Siwarak, mulai memproduksi batik yang kemudian menjadi ikon batik Desa Kandri.

Baca Juga:
Anin Pilih Gantung Canting, Akhir Cerita Batik Siwarak Khas Goa Kreo Semarang
Diorama Warga Desa yang Tersaji dalam Patung-Patung Kandri

Tak mudah menjadikan batik Siwarak seperti sekarang. Anin bertutur, ihwal batik tersebut diproduksi, batik Siwarak belum begitu bagus. Harganya pun cukup murah.

“Ibu-ibu di sini semula kurang begitu bersemangat, tapi terus saya semangati sampai bisa bikin batik yang bagus,” kenang Anin.

Anin sedang membersihkan etalasenya yang sudah berdebu. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Menurutnya, usaha yang dia jalankan di kediamannya ini memiliki banyak tantangan. Dia mengenang jatuh bangunnya bersama ibu-ibu yang membantunya. Saat ini, satu kain produksinya dihargai Rp 150.000 hingga Rp 700.000.  

Puluhan ID card warna-warni yang tergantung di gantungan batik menunjukkan seringnya Anin mengikuti pameran dan seminar.

“Dulu semua saya ikuti, Mbak,” kata Anin, yang juga mengaku sempat punya lapak di sekitar Goa Kreo meski hanya bertahan enam bulan lantaran setelah itu nggak diperbolehkan berjualan di sana.

Gantung Canting

Selain motif Semaragan, inspirasi kreasi batik Siwarak didapatkan Anin dari lingkungan sekitar. Beberapa motif batik buatan Anin yang paling diminati pembeli di antaranya motif "daun ketela" dan "kera kecil". Selain itu, ada pula motif "kera besar", "warak", dan "asem".

Sayang, saat saya berkunjung ke sana, beberapa motif yang disebutkannya sudah nggak tersedia. Yap, dia "gantung canting" dan produksi kain batiknya berhenti!

Lantaran kesibukan, sejumlah pengrajin batik yang biasa membantu Anin memilih berhenti. Melihat kondisi ini, Anin pun terpaksa "libur" berproduksi hingga entah kapan.

“Sementara libur dulu,” kata dia penuh kepasrahan, "Kalau sendiri kewalahan!"

Beberapa kain putih yang sudah bergambar tak kunjung diberi warna karena sepinya peminat. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Ya, jika dia berhenti berproduksi, batik khas Goa Kreo ini memang terancam nggak bisa dijumpai lagi. Anin berharap pemerintah desa akan memberikan dia ruang untuk memasarkan produknya di sekitar Goa Kreo karena menurutnya, sebagian besar pembelinya memang berasal dari wisatawan.

“Sementara ini saya habisin stok dulu, sambil cari orang lagi,” keluhnya, lesu.

Dalam sebulan, Anin mengaku hanya mampu menjual 1-3 kain batik.

Baca Juga:
Serunya Disemprot Air dan Salju Saat Nonton Film di Bioskop Sinema 9 Dimensi Semarang
Minggu Leginan dengan Kulineran di Pasar Jaten Pinggir Kali Semarang

Menjelang akhir obrolan kami, Anin nampak menggantung beberpaa kain batiknya dan mempersilakan saya menganbil gambar.

“Silahkan (difoto), Mbak! Semoga setelah ini (batik Siwarak) jadi tambah laku!” kata Anin, yang seketika membuat saya terenyuh.

Tentu saya berharap perjumpaan dengan pembuat batik Siwarak ini bukanlah yang terakhir. Semoga Mbak Anin mengurungkan niatnya menggantung canting dan batik yang bisa menjadi ikon Kota Semarang ini lebih mendapat perhatian pemerintah serta penikmat batik! (Zulfa Anisah/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: