BerandaIndo Hayati
Kamis, 3 Jan 2018 00:27

Maleo, Burung Antipoligami

Burung maleo yang setia pada pasangannya. (faunadanflora.com)

Banyak keunikan maleo yang terancam punah. Setia terhadap pasangan, nggak mengerami telur, dan hanya bisa hidup di tempat khusus.

Inibaru.id – Ada istilah “merpati tak pernah ingkar janji”. Ya, burung merpati dianggap sebagai burung yang suka menepati janji. Ia juga burung yang jadi simbol kesetiaan terhadap pasangan.

Nah, boleh jadi akan ada ungkapan “setia bagaikan maleo”.  Maleo?

Ya, burung yang langka itu seperti ditulis alamendah.org, adalah tipe burung yang antipoligami. Artinya, ia hanya setia pada pasangannya saja.

Burung yang punya nama ilmiah Macrocephalon maleo adalah sejenis burung yang berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55 cm. Ia adalah satwa endemik Sulawesi, artinya hanya bisa ditemukan hidup dan berkembang di Pulau Sulawesi, Indonesia.

Tahukah Millens, maleo itu burung yang unik. Keunikannya mulai dari struktur tubuh, habitat, hingga tingkah lakunya yang salah satunya adalah antipoligami. Nggak mengherankan bahwa sejak tahun 1990 berdasarkan SK No Kep 188.44/1067/RO/BKLH tanggal 24 Februari 1990, burung maleo ditetapkan sebagai “Satwa Maskot” Provinsi Sulawesi Tengah.

Bagaimana penampilan burung ini? Bulunya berwarna hitam, kulit sekitar mata berwarna kuning, iris mata merah kecokelatan, kaki abu-abu, paruh jingga, dan bulu sisi bawah berwarna merah-muda keputihan. Di atas kepalanya terdapat tanduk atau jambul keras berwarna hitam. Jantan dan betina serupa. Biasanya betina berukuran lebih kecil dan berwarna lebih kelam dibanding burung jantan.

Baca juga:
Ular Cabe Merah, Pembunuh Para Pembunuh
Mari Cegah Kepunahan Si Putih Elok dari Bali

Populasi terbanyaknya kini tinggal di Sulawesi Tengah. Salah satunya adalah di Cagar Alam Saluki, Donggala, Sulawesi Tengah. Di wilayah Taman Nasional Lore Lindu ini, populasinya ditaksir tinggal 320 ekor. Karena populasinya yang semakin sedikit ini, maleo dilindungi dari kepunahan dan dikategorikan sebagai terancam punah di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix I.

Kenapa sampai langka? Lagi-lagi manusia “membuktikan diri” sebagai “mesin pemunah satwa” paling efektif. Apa pasal? Populasi maleo terancam oleh para pencuri telur dan pembuka lahan yang mengancam habitatnya.

Ancaman kepunahan juga datang dari musuh alami maleo, yaitu babi hutan dan biawak. Habitatnya yang khas juga mempercepat kepunahan. Maleo hanya bisa hidup di dekat pantai berpasir panas atau di pegununungan yang memiliki sumber mata air panas atau kondisi geotermal tertentu. Sebab di daerah dengan sumber panas bumi itu, Maleo mengubur telurnya di dalam pasir.

Maleo memiliki ukuran telur yang besar, mencapai 5 kali lebih besar dari telur ayam. Beratnya antara 240 hingga 270 gram per butirnya.

Maleo tidak mengerami telurnya. Telur burung endemik ini dikubur sedalam sekitar 50 cm dalam pasir di dekat sumber mata air panas atau kondisi geotermal tertentu. Telur yang ditimbun itu kemudian ditinggalkan begitu saja dan tak pernah diurus lagi.

Suhu atau temperatur tanah yang diperlukan untuk menetaskan telur maleo berkisar antara 32-35 derajat celsius. Lama pengeraman pun membutuhkan waktu sekitar 62-85 hari.

Anak maleo yang telah berhasil menetas harus berjuang sendiri keluar dari dalam tanah sedalam kurang lebih 50 cm (bahkan ada yang mencapai 1 m) tanpa bantuan sang induk. Perjuangan untuk mencapai permukaan tanah akan membutuhkan waktu selama kurang lebih 48 jam. Inipun akan tergantung pada jenis tanahnya. Wajar saja, nggak jarang beberapa anak maleo dijumpai mati “di tengah jalan”.

Anak yang baru saja mencapai permukaan tanah sudah memiliki kemampuan untuk terbang dan mencari makan sendiri (tanpa asuhan sang induk).

Baca juga:
Semoga Tokhtor Sumatera Belum Punah
Rangkong Badak, Burung Suci Orang Dayak

Bagaimana soal antipoligami? Sobat Millens, maleo memang spesies monogami (antipoligami) yang dipercaya setia pada pasangannya. Sepanjang hidupnya, ia hanya mempunyai satu pasangan. Burung ini tidak akan bertelur lagi setelah pasangannya mati.

Upaya pencegahan kepunahan dilakukan Dinas Kehutanan Melalui Balai Taman Nasional Lore Lindu dengan membuat penangkaran maleo bekerja sama dengan masyarakat setempat. Mari kita dukung upaya dinas ini karena hal itu jadi ikhtiar untuk meminimalisasi bahaya kepunahan maleo. (EBC/SA).

 

Klasifikasi Ilmiah

Kerajaan: Vertebrata

Filum: Chordata

Kelas: Aves (Burung)

Ordo: Galliformes

Famili: Megapodiidae

Genus: Macrocephalon

Spesies: Macrocephalon maleo

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: