BerandaIndie Mania
Sabtu, 3 Jan 2020 19:30

Paket Komplet Konflik Keluarga di Film <em>Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini</em>

Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini tayang di bioskop mulai 2 Januari. (Rilis Goodwork)

Sobat <i>Millens</i> pasti pernah bercermin. Saat bercermin, tidak lain yang akan ditemukan adalah diri sendiri. Persis, itulah yang saya dapatkan saat menonton film <i>Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini</i> (NKCTHI). Dengan penyampaian yang halus dan ringan, film ini mengajak penonton untuk merefleksi personal diri masing-masing. Bahkan nggak sedikit penonton yang keluar dari bioskop masih nangis sampai sesenggukan.

Inibaru.id - Diadaptasi dari buku dengan judul yang sama karya Marchella FP, film ini memang mengangkat isu personal meski dalam balutan tema keluarga. Konflik-konflik sederhana hingga yang paling kompleks pun bisa kamu temukan dalam keluarga yang beranggotakan lima orang; bapak, ibu, dan tiga anak; yang menjadi pusat dari film NKCTHI besutan Visinema Pictures.

Film dibuka dengan perjalanan pesawat kertas menuju ke suatu kamar yang rupanya dihuni Isyana Sarasvati. Pembukaan film itu makin syahdu dengan iringan lagu “Rehat” karya Kunto Aji. Pas untuk mengobrak-abrik suasana di awal!

Usai dibuka, film langsung menampilkan kisah masa lalu keluarga Awan, tokoh utama yang diperankan Rachel Amanda. Awan adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Sebagai anak bungsu, sudah maklum bila dia diperlakukan secara istimewa. Awan selalu diperhatikan dan dijaga penuh ayah, ibu, dan kedua kakaknya. Bahkan, Awan diceritakan hampir nggak pernah membuat keputusan karena semuanya sudah diselesaikan keluarganya. Kondisi ini sering terjadi di masyarakat yakni anak terakhir selalu dimanja.

Posisi itu memicu terjadinya konflik. Makin dewasa Awan makin dihadapkan banyak masalah dan dia pengin menyelesaikannya sendiri. Dia pengin kebebasan yang diberikan orang tuanya kepada para kakaknya, Angkasa yang diperankan Rio Dewanto dan Aurora yang diperankan Sheila Dara.

Kegelisahan itu membawanya bertemu pada Kale yang diperankan Ardhito Pramono. Kale membukakan mata Awan tentang dunia luas serta mengenalkannya dengan hal baru yang sebetulnya sederhana.

Konflik kian rumit saat Awan mulai mencari jati dirinya. Dia kemudian berkonflik dengan kedua kakaknya bahkan orang tuanya. Di tengah, konflik mencapai klimaks saat semua orang di keluarga itu membuka kembali memori kesedihan yang disimpan lama secara rapat oleh sang ayah yang diperankan Dhony Damara.

Isu Personal Toxic Positivity

Meski terbungkus dalam tema keluarga, sang sutradara Angga Dwimas Sasongko tetap membawa isu personal. Dari keseluruhan film ini, isu yang tampak adalah toxic positivity. Isu ini mulai santer terdengar di awal 2019. Secara singkat, toxic positivity adalah pikiran-pikiran positif yang selalu digaungkan sampai menjadi racun dalam pikiran.

Isu ini sejak awal sudah dikenalkan, mulai dari sang ayah yang selalu ingin anak-anaknya bahagia hingga Angkasa dan Aurora yang memastikan diri agar baik-baik saja padahal perasaan mereka merasakan sebaliknya. Di titik klimaks, isu ini secara gamblang dikatakan Aurora saat bertengkar dengan sang ayah.

“Ayah selama ini selalu bilang jangan bersedih, jangan bersedih, jangan bersedih terus. Di otakku sampai otomatis mengikuti sugesti Ayah buat nggak bersedih. Tapi apa nyatanya?”

Pada momen itulah semua anggota keluarga itu membuka memori lama dan merasakan kesedihan masing-masing. Mereka menyendiri dengan pemikiran mereka dan menyelesaikan masalah mereka dengan cara yang berbeda-beda.

Mereka menyadari kalau menciptakan kebahagiaan bersama dengan cara menyembunyikan kesedihan bukanlah cara yang tepat. Kesedihan memang perlu diekspresikan. Satu lagi, bahagia adalah urusan masing-masing sehingga nggak ada yang bisa menjamin kebahagiaan orang lain. Hal ini betul-betul ditekankan sebelum akhirnya mereka menyelesaikan kesedihan masing-masing. Di titik itu, ibu yang sejak awal ditempatkan sebagai subordinat berubah menjadi pemersatu dan penghubung dalam keluarga.

Paket Komplet di Awal Tahun

Selain cerita yang menarik dan menyentuh, aspek lain seperti akting para pemain juga jempolan. Para pemain di film ini memang sudah nggak diragukan lagi aktingnya. Ardhito Pramono sebagai pendatang baru pun bermain cukup apik di film perdananya ini.

Pemilihan soundtrack pun sangat pas. Di awal, film dibuka dengan lagu Kunto Aji. Di tengah, ada lagu Hindia “Secukupnya”, “Untuk Hati yang Terluka” Isyana Sarasvati, dan “Fine Today” milik Ardhito Pramono.

Untuk pembuka awal tahun, film ini sangat patut untuk ditonton. Kamu bisa menikmati film ringan yang punya makna sangat dalam dengan menonton film ini. Selamat menonton! (Ida Fitriyah/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Statistik Catat Hanya Ada 2.591 Tunawisma di Seluruh Jepang

22 Feb 2026

Boleh Nggak Sih Pulang Setelah Tarawih 8 Rakaat di Masjid Lalu Witir di Rumah?

22 Feb 2026

Bersiap Sambut Pemudik, Jateng Akan Kebut Perbaikan Jalan

22 Feb 2026

Arus Mudik Lebaran 2026 dalam Bayang-Bayang Cuaca Ekstrem di Jateng

22 Feb 2026

Deretan Poster Humor Ramadan di Mijen; Viral dan Jadi Spot Ngabuburit Dadakan

22 Feb 2026

Manisnya Buah Tanpa Biji dan Perampokan Kemandirian

22 Feb 2026

Meriung Teater Ketiga 'Tengul' melalui Ruang Diskusi Pasca-pentas

22 Feb 2026

Ini Dokumen Wajib dan Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026 yang Perlu Kamu Tahu!

22 Feb 2026

Mengapa Orang Korea Suka Minum Alkohol dan Mabuk?

23 Feb 2026

Tren Makanan Kukusan Makin Populer, Sehat bagi Tubuh?

23 Feb 2026

Ratusan Jemaah Tiap Hari, Tradisi Semaan di Masjid Agung Kauman selama Ramadan

23 Feb 2026

Bukan Perlu atau Tidak, tapi Untuk Kepentingan Apa Perusahaan Media Adopsi AI

23 Feb 2026

Menelusuri Jejak Sejarah Intip Ketan, Camilan Warisan Sunan Kudus

23 Feb 2026

Akhir Penantian 8 Tahun Petani Geblog Temanggung Berbuah Embung Manis

23 Feb 2026

Viral, Harga Boneka Monyet Punch Naik Gila-gilaan di Internet!

24 Feb 2026

Negara Mana dengan Durasi Puasa 2026 yang Terlama dan Tersingkat?

24 Feb 2026

Menyusuri Peran Para Tionghoa di Kudus via Walking Tour 'Jejak Naga di Timur Kota'

24 Feb 2026

Antisipasi Banjir, Pemkot Semarang akan Rutin Bersihkan Sedimentasi Sungai

24 Feb 2026

Mudik 2026, Daop 4 Semarang 'Diserbu' 305 Ribu Penumpang

24 Feb 2026

Kawal Mimpi Situs Patiayam ke Level Nasional, Lestari Moerdijat: Secara Keilmuan Sudah Sangat Layak!

24 Feb 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: